Suami istri itu mondar-mandir gelisah. Sebentar melongok ke meja makan, lalu menatap jam dinding. Sudah jam 12 siang. Kursi yang tertata mengelilingi meja masih kosong. Keduanya tidak duduk. Gelisah.
Bedi berulang kali mengetuk pintu salah satu kamar tidur yang terhubung ke ruang makan keluarga. Tidak ada jawaban, hanya terdengar dengusan kesal dari balik pintu. Meti, istrinya mendekat. Berdiri di samping suaminya. Tangan lembutnya memeluk separuh lengan ayah dua anaknya. Ia coba menyuntik amunisi kesabaran buat suaminya.
“ Pak, mungkin ibu lelah. Biar dia istirahat. Kita makan duluan saja. Habis makan, biar saya yang bujuk ibu, “ Meti coba menghibur suaminya.
“ Tidak, sayang! Tidak biasanya ibu begini. Ibu tidak pernah lewatkan makan siang. Itu yang dari dulu ia ajarkan, ” Bedi menampik bujukan istrinya. Ia tatap tajam mata istrinya penuh selidik.
Meti tertunduk. Perempuan yang lembut manja ini tak sanggup membalas tatapan serius suaminya. Tajam, serasa jaksa yang hendak mencari salah terdakwa di ruang sidang. Ia ta kuat, dahinya disandarkan di pangkal lengan kanan suaminya. Wajahnya tenggelam.
“ Apa yang terjadi sebenarnya? Tadi pagi ibu baik-baik saja. Mulai kemarin siang Ibu terlihat tidak berselera saat makan. Masakan yang kau siapkan saya lihat sesuai selera ibu, tapi kenapa ibu tidak mau keluar makan. Kalian bertengkar, sayang? ” Bedi mendesak.
Direngkuhnya bahu istrinya. Ditatapnya dalam-dalam, tembus mencari fakta di lubuk hati istrinya, perempuan yang telah memberinya dua anak perempuan. Istrinya menggeleng pelan.
Meti berusaha menatap balik suaminya. Bukan menantang. Ia minta dukungan atas kebimbangannya. Sejak menikah, Meti datang dan tinggal bersama suaminya 15 tahun lalu. Di rumah tua milik mertuanya, mereka tinggal bertiga ibu mertuanya. Ayah mertua sudah meninggal tiga tahun sebelum mereka menikah. Meti tak pernah punya masalah dengan Katrin, ibu mertuanya.
Bahkan sejak kelahiran dua anaknya, ibu mertua yang paling support soal pengasuhan. Katrin hanya punya anak semata wayang, Bedi. Makanya ia tak mau kemana-mana. Bahkan tak rela pergi, atau menyuruh anaknya tinggalkan rumah tua peninggalan suaminya. Ia ingin menghabiskan hari tua bersama anaknya, menantu juga sepasang cucunya yang beranjak remaja.
Saban hari, Nenek Katrin selalu ceria. Bermain bersama kedua cucunya. Saat Istimewa adalah makan siang. Perempuan tua itu paling menikmati saat-saat makan siang bersama kedua cucunya. Bahkan tak jarang menyuapi mereka meski sering ditolak.
***
“ Nek, kami sudah besar. Jangan suap lagi. Saya malu..hahahah, ” begitu yang sering dilontarkan Greg, cucu sulungnya saat makan. Ia sudah SMP kelas VIII. Tapi ia paling dekat dengan neneknya. Apa-apa yang dialami di sekolah pasti diceritakannya saat makan pada sang nenek. Mulai dari teman kelas yang ngantuk saat les matematika, hingga pelajaran sejarah yang membosankan.
“ Tadi pagi kami olahraga, nek. Main bola. Saya jadi bek. Waktu teman saya bawa bola, saya kejar dan saya tackling kakinya. Dia jatuh dan meringis kesakitan. Tapi saya berhasil dapat bola. Kami punya gawang aman. Hahahaha..”
Greg ceritakan satu pengalaman lain, sembali menyisihkan tulang ikan goreng kesukaannya. Sisa kecap menempel panjang di ujung bibir dan pipiya.
“ Ge sayang! Kalau makan itu pelan-pelan biar jangan belepotan, ” tegur Nenek Katrin sembari mengelap sisa kecap dan butir nasi di pipi cucunya. “ Boleh main bola tapi jangan celakai teman. Kalau dia sakit, harus dibantu yah? ”. Begitulah Nenek Katrin meladeni obrolan cucunya di sela makan siang.
Perlakuan lebih manja juga dialami Giana. Anak perempuannya Bedi dan Meti ini baru kelas V SD. Badannya bongsor, selera makannya tak pernah surut. Tubuh gemuknya tak surutkan niat Nenek Katrin untuk memangkunya saat makan.
“ Bu, Giananya jangan dipangku. Kasihan ibu, nanti malah pegal. ” Meti mengingatkan ibu mertuanya saat makan siang bersama minggu lalu. Nenek Katerin hanya seyum kecil sambil terus menyuap makanan ke mulut Giana langsung dengan tangannya.
“ Mama, Giana senang nenek pangku. ….Nenek, tadi kami latihan menari. Minggu depan acara perpisahan kakak kelas. Nanti nenek bisa make up saya? ” Giana gencar bercerita dan bertanya meski mulutnya masih penuh makanan.
“ Iya Gi, nanti nenek bantu. Senang e, cucu nenek bisa tampil. Harus berani e..mantap. Nanti make up,, biar mama saja yang urus, mamamu jago soal make up ” ujar Nenek Katerin tersenyum melirik menantunya.
***
Keceriaan yang biasa mengepung saat makan siang, hari ini kosong. Sejak kemarin. Menu lengkap di meja menunggu disantap sebelum keburu dingin. Tapi ketukan dan bujukan Bedi dan Meti di depan pintu kamar tak kunjung berhasil.
Di dalam sana, duduk bersandar di balik pintu, Nenek Katrin menjawab setengah berteriak.
“ Saya tidak mau makan. Kalian atur sajalah sendiri. Di mana kedua cucu saya? ” ucap Nenek Katrin terisak.
“ Bu, anak-anak masih di sekolah. Bentar lagi sudah pulang. Ayo keluar, kita makan. Kasihan, Meti sudah siapkan makan. Ibu nanti sakit kalau telat makan” Bedi terus membujuk ibunya dari luar.
“ Di mana cucu-cucu saya? Saya mau makan bersama mereka. Saya akan menunggu.. Kalian berdua mau makan, yah makan dulu sana. Saya mau makan dengan cucu saya, ” Nenek Katrin tetap bertahan.
“Paaaaak,Maakkk, Nenek. Kami pulangggg., “ teriakan kecil Greg dan Giana membuyarkan negosiasi mama anak berbatas pintu kamar.
Bedi dan Meti saling pandang. Ada lega berbinar di wajah suami istri ini. Kedua anaknya pulang sekolah. Mereka diantar tukang ojek langganan.
Greg dan Giana bergantian menyalami kedua orang tuanya.
“ Kenapa Bapa dan Mama di depan kamar nenek? Nenek kenapa? Nenek di dalam?” Greg bertanya mendesak dengan wajah gelisah.
Meti jongkok, memegang pipi putranya. Ia tersenyum.
“Iya, sayang. Nenek di dalam. Aman. Cuma bapa dan mama lagi bujuk nenek keluar makan. Ini sudah jam satu lewat. ” Meti menerangkan.
Suara kunci pintu terbuka dari dalam. Nenek keluar dengan wajah sumringah mendengar kedua cucunya sudah pulang sekolah. Ia jongkok memeluk.
“ Nenek senang kalian sudah pulang. Nenek tidak apa-apa. Ayo kita makan” ujar Nenek Katrin. Ia kembali berdiri, merengkuh bahu kedua cucunya beranjak ke meja makan. Bedi dan Meti sama-sama tersenyum lega.
“ Aduh, Nek. Giana sudah kenyang sekali. Tadi makan di sekolah. ” Giana berseru girang sambil bergelayut di punggung tangan neneknya. Nenek Katrin tertegun.
“ Saya juga sudah makan, Nek. Tadi di sekolah. Kami kan dapat MBG! Makan Bergizi Gratis itu! Nanti tiap hari kami makan siang di sekolah. Nenek saja yang makan yach, Bapa dan Mama juga, Kami mau ganti pakaian dan bermain game, ” Greg menambahkan. Ia lepaskan pelukan neneknya yang hanya terdiam. Berlari ke kamar.
“ Ibuuuuuuuu!” Meti berteriak histers. Bedi refleks menangkap punggung ibunya, mencegahnya terbentur lantai kamar makan.
“ Neneeeek !” Greg dan Giana histeris. Neneknya terbujur tanpa suara di lantai, bahu dan kepalanya tersandar di paha Bedi, putranya semata wayang. +++
Ditulis oleh : Benediktus Kia Assan
