dr. Vincemsia Caroline Melihat Yang “Tidak Melihat”

Reportase Kegiatan Skrining Katarak RS Bukit Lewoleba

LEWOLEBA – HANYA ada satu niat mulia, menemukan mereka yang kabur penglihatan. Menuntun yang tidak melihat menjadi melihat. Ia melihat mereka yang tidak melihat (katarak_red).

Perjalanan itu dimulai dari niat sederhana: memastikan bahwa siapa pun, sejauh apa pun mereka tinggal dari kota, tetap memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dunia dengan jelas.

Dengan semangat itu, tim medis dari RS Bukit Lewoleba melakukan perjalanan panjang menuju desa-desa terpencil di Kabupaten Lembata, Nusa Tengara Timur.

Sederetan nama desa menjadi peta perjalanan yang harus ditempuh: Kalikur, Kalikur WL, Alap Atadei, Lamalera A, Lamalera B, hingga Posiwatu.

Desa-desa ini berada jauh dari pusat layanan kesehatan, dengan akses jalan yang sebagian besar terjal, berbatu, dan memakan waktu berjam-jam untuk ditembus.

Menembus Jarak untuk Melihat Lebih Dekat

“Banyak warga yang ingin operasi, tetapi jalan menuju rumah sakit terlalu sulit. Karena itu, kami putuskan untuk turun langsung,” kata Direktris RS Bukit, dr. Vincensia Caroline dalam kegiatan skrining itu.

Keputusan tersebut diambil bersama para donatur, agar calon pasien tidak perlu bolak-balik menempuh perjalanan panjang menuju rumah sakit hanya untuk pemeriksaan awal.

“Skrining dilakukan menyeluruh: pemeriksaan mata untuk mendeteksi katarak dan pterigium, pemeriksaan gula darah, hingga pengukuran tekanan darah—semua penting untuk memastikan keamanan pasien sebelum dioperasi dalam kegiatan bakti sosial pada 4–7 Maret,” kata dr Caroline.

Di banyak desa, warga telah berkumpul sejak pagi. Ada yang datang dengan dipapah keluarga, ada yang berjalan perlahan sambil membawa tongkat kayu, ada pula yang datang dengan harapan yang telah lama ditunggu.

Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan tim dokter mata dari FKIK Atma Jaya (ACOPE) serta Yayasan Putra Peduli berlangsung pada 4–7 Maret 2026 di RS Bukit Lewoleba dan melibatkan 11 tenaga medis dari FKIK Atma Jaya, termasuk 4 dokter spesialis mata.

Total pasien yang ditangani berjumlah 220 orang, terdiri dari 180 pasien katarak dan 40 pasien pterigium. Kita berdoa agar semua tindakan berjalan baik sesuai rencana Tuhan”, ungkap dr. Vincensia.

Mereka sudah lama hidup dalam pandangan kabur, seolah dunia ditutupi kabut yang tak kunjung pergi.

Ketika Pelayanan Harus Menjemput Mereka yang Terpinggirkan

Sebenarnya, masih banyak desa lain yang ingin dijangkau tim medis. Namun dengan keterbatasan fasilitas, tenaga, dan waktu, tim hanya bisa pergi sejauh yang memungkinkan. Meski begitu, setiap desa yang berhasil dikunjungi menjadi bukti nyata bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu harus menunggu di balik dinding rumah sakit—kadang ia harus turun menjemput mereka yang nyaris tak terjangkau.

Bagi banyak warga, kedatangan tim dokter ini lebih dari sekadar pemeriksaan. Itu adalah kehadiran yang memberi harapan baru—bahwa mereka masih diperhatikan, bahwa penglihatan yang telah lama kabur mungkin bisa kembali, bahwa kualitas hidup bisa membaik.

Membawa Pulang Cahaya Baru

Ketika kegiatan skrining selesai di setiap desa, rasa lelah tergantikan dengan senyum para lansia yang mengatakan, “Terima kasih, dokter, sudah datang jauh-jauh.” Kata-kata sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjalanan0 panjang ini bukan sekadar tugas, melainkan misi kemanusiaan.

Dan saat ratusan warga nanti menjalani operasi di RS Bukit Lewoleba, sebagian dari cahaya yang kembali mereka lihat adalah hasil dari perjalanan jauh tim medis—mereka yang memilih untuk menjemput harapan, bukan menunggu harapan datang. +++sandro.wangak

6 Comments

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *