senja bergulir tinggalkan hari
lelaki itu termenung di ruang rindu
kebisuan merangsek dalam sukmanya
ketegaran yang dulu menjadi mahkota kebangaannya lenyap terbendung cerita
adakah teman kesetiaan merasakan getirnya pilu di dadanya
dia lelaki perkasa
berjuang tak kenal waktu meski akhirnya tersayat nadinya
bukan karena kusamnya raut wajahnya
bukan juga karena perihnya perasaan hatinya
tetapi karena napaktilasnya belum berakhir
(Sultan Sabatani)