Karena Baju Lusuh, Dody Mengayuh Sepeda Dari Jakarta Menuju Lembata Saat Lewotobi Laki Laki Meletus

LEWOLEBABUKAN Dody Johanjaya namanya kalau tidak berpetualang. Ia mengayuh sepeda dari Jakarta ke Lembata hanya untuk mengukur jejak kebaikan sepanjang ia berpetualang. Ia tiba di Kota Larantuka bertepatan dengan  Gunung Lewotobi laki laki meletus, 17 Juni 2025 setelah menempuh perjalanan sepanjang 2467 km dari Jakarta.

Kisah tentang Dody Johanjaya ini dimulai sejak 22 tahun lalu, tahun 2003. Saat ia melakukan perjalanan ke Flores dan menjumpai banyak anak anak sekolah yang memikul sepatunya dengan baju lusuh sepulang sekolah.

Hatinya tergerak membantu, sayangnya ia tak punya kemampuan lebih walau sekedar membeli sepotong baju lusuh untuk anak anak itu.

Sekalipun begitu, Pria 57 tahun ini, terus merawat niat baik agar suatu saat ia bisa kembali dan memberi sedikit bantuan kepada anak anak itu.

Awal tahun 2025, niat Dody untuk membantu masyarakat di pelosok Flores dan Lembata menguat. Ia mulai berpetualang mencari ide dan sponsor. Berkat kawan baiknya bernama Budi, niat ini disampaikan dan mulai merencanakan  perjalanan panjang dari Jakarta ke Lembata.

“Ketika saya ditanya mau mendonasikan bantuan ke daerah mana, saya langsung menjawab Lembata. Karena Lembata ada satu pulau paling ujung di Flores”, ungkap Dody kepada Media di Lembata usai beberapa jam tiba di Kota Lewoleba, 18 Juni 2025.

Dody Johanjaya menjelaskan, ia menempuh perjalanan sejauh 2.500 KM dari Jakarta menuju Kabupaten Lembata di Nusa Tenggara Timur dengan sepeda dengan  branding perjalanan “Ride For Lembata
Dody mulai mengayuh sepedanya dari Gelael Tebet, Jakarta pada Sabtu, 31 Mei 2025 lalu. Targetnya tepat. Ia menginjakkan  kaki di Lembata 18 Juni  2025 dan selanjutnya ke Desa Wowong untuk memberikan bantuan.

“Tahun 2022 lalu saya pernah berkunjung ke Flores dan Lembata menggunakan sepeda lipat dan saat itu saya melihat langsung anak-anak bersekolah tanpa alas kaki serta kondisi sekolah yang serba keterbatasan fasilitas dari situ saya berpikir harus berbuat sesuatu untuk pendidikan di Lembata,” Terang Dody saat ditemui awak media. Rabu, 18 Juni 2025 Malam.

Dody menjelaskan bahwa bersepeda seorang diri dengan jarak tempuh 2.500 KM ini bukanlah hal mudah dan pastinya memiliki tantangan yang luar biasa serta persiapan yang matang. Ia mengaku menyiapkan diri selama tiga bulan sebelum memulai petualangannya.

“Wah, ini sesuatu hal yang luar biasa pastinya dan berisiko tinggi untuk bersepeda seorang diri dengan menempuh jarak yang luar biasa, tapi demi melihat senyum anak-anak di pelosok negeri saya lakukan. Saya latihan dan persiapan selama tiga bulan mulai dari latihan bersepeda 500-600 km/minggu”, kisah Dody.

“Demi anak-anak Lembata mendapatkan pendidikan yang layak serta kenyamanan saya lakukan itu semua,” Ucap Dody

Ditanya soal target dana yang akan diberikan ke sekolah di Lembata ini Dody mengatakan bahwa targetnya adalah Rp100 juta.



“Target penggalangan dana Rp100 juta, ya walau sampai dengan saat ini belum sampai 100℅ tapi saya yakin ini bisa membantu serta dapat memberikan dampak yang positif dan tidak membuat saya putus asa untuk pendidikan di sini,” Ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Erlina Dangu, Manager Programme Implementation Area Lembata Plan Indonesia mengatakan bahwa doa-doa kita semua menembus lagi karena adanya bantuan ini.

“Ini sepertinya doa kita menembus langit ya, sebab ini prosesnya tidak terlalu lama setelah pertemuan dengan om Dody di Jakarta yang mana punya niat untuk pendidikan di Lembata sini,” Ucap Dangu

“Kami sangat berterima kasih sekali atas kehadiran Om Dody, kebaikan hati om Dody semoga apa yang kita kerjakan bersama ini bisa jadi berkat buat anak-anak di sini dan mereka punya masa depan serta mimpi-mimpi itu bisa mereka gapai pada waktunya.” Tuntas Dangu.

Untuk diketahui kegiatan ini kolaborasi antar Dody Johanjaya dengan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) untuk merenovasi sebuah madrasah di Desa Wowong, Lembata. NTT. Ya, dari Baju Lusuh, Dody, Mantan Produser Jejak Petualang ini mengukir jejak kemanusian di tanah Lembata.

Siapa itu Dody Johanjaya? 

Dilansir dari berbagai sumber Dody adalah mantan jurnalis.  Ia pernah berkecimpung selama 15 tahun sebagai jurnalis sejak tahun 1994 bergabung di Kompas. Ia juga bergabung di Indosiar (1995-2000), selama lima tahun.
Mulai tahun 2000 sampai 2009 (9 tahun) bergabung di Trans7. Dalam liputan Jejak Petualang di Papua 6 Juni 2006, Dody selaku produser bersama Medina Kamil, dan kru lainnya terdampar di pulau tak berpenghuni setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik. Keadaan ini memaksa mereka bertahan hidup di pulau tersebut hingga akhirnya berhasil ditemukan dan diselamatkan.
Setelah 15 tahun berkecimpung di dunia televisi,  Dody memutuskan untuk menukar kamera dengan setang sepeda. Kini ia menghabiskan hari-harinya sebagai operator petualangan alam, merancang perjalanan outbound untuk perusahaan dan sekolah. +++sandro.wangak

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *