Pendahuluan
Adalah sebuah keluarga kecil yang tinggal di Kota Denpasar dengan dua anak lelaki dan perempuan. Bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang sudah lama masa kerjanya sehingga dia mendapat kedudukan yang cukup nyaman di kantornya dengan penghasilan sampingan yang lumayan tentunya. Si ibu bekerja sebagai pegawai bank swasta, yang memang sejak gadis telah dilakoninya. Tentu saja dengan gaji yang cukup namun beban kerja yang menyita banyak waktunya. Setiap hari si ibu ngantor pukul delapan pagi dan pulang paling cepat pukul lima sore. Oleh karena itu dengan sangat terpaksa pekerjaan rumah dan urusan anak diserahkan kepada seorang pembantu.
Sebagai sebuah keluarga yang beragama Hindu, mereka cukup taat menjalankan ajaranNya. Sembahyang ataupun ‘meyadnya’ sering dilakukan. Namun karena keterbatasan waktu mereka seringkali membeli ‘banten’ yang digunakan dalam upacara . Lagi pula itu jauh lebih efektif dan efesien dari pada membuat banten yang bisa memkan waktu lama. Bukankah “waktu adalah uang ?”
Potret seperti ini banyak dijumpai dalam keluarga umat Hindu sekarang ini. Adanya biaya (dibaca;uang) dan keterbatasan waktu terutama dari ibu rumah tangga yang merangkap sebagai pekerja di luar rumah, memicu hal ini terjadi. Dalam pemikiran mereka, secara garis besar berkesimpulan bahwa membeli sarana dan prasarana upakara keagamaan termasuk ‘banten’ akan lebih efektif dan efesien dengan anggapan bahwa waktu untuk membuat ‘banten’ lebih baik digunakan untuk mencari uang dalam usaha pemenuhan kebutuhan jasmani maupun rohani . Selain itu, lebih baik mempercayakan pembuatan ‘banten’ kepada yang sudah ahli dan berkopeten dalam bidangnya seperti para tukang ‘banten’ serta sudah disucikan (mewinten) dalam tugasnya sebagai tukang banten daripada mereka, orang awam, yang kemungkinan bisa menimbulkan kesalahan dalam pembuatannya sehingga bisa mengurangi makna dari yadnya yang diselenggarakan.
Anggapan seperti itu semakin diperparah oleh ulah segelintir para tukang ‘banten’yang dalam upayanya untuk mendapatkan keuntungan terkadang terkesan menakut nakuti umat yang awam masalah agama dengan dalil dalil yang tidak berdasar sebagai contoh penulis pernah mengalami sendiri bahwa banten tidak boleh dibuat sembarang orang dengan aturan ketat, kalau tidak maka orang yang melakukan yadnya dengan ‘banten’ tersebut akan ‘kepongor’ alias mendapatkan halangan dalam yadnya yang dilakukan atau mendapat musibah dalam hidupnya.
Kedudukan Banten dalam Hindu
Penting sekali bagi umat Hindu dimana saja berada untuk memahami secara jelas makna dan kedudukan banten sehingga anggapan anggapan seperti diatas dapat dihilangkan. Secara umum, banten adalah media untuk menghubungkan diri umat dengan Tuhan. Misalkan canang. Canang terdiri dari unsur utama peporosan yang terdiri dari sirih, kapur dan gambir yang melambangkan Tri Murti , tiga bentuk kemahakuasaan Tuhan.
Tidak itu saja, bahan lainnya seperti ceper yang berbentuk segi empat dan terbuat dari janur melambangkan catur purusa artha dan taledan atau tapak dara melambangkan keharmonisan serta uras sari lambang keheningan pikiran atau keteguhan pikiran. Jadi canang itu adalah wujud persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti. Umat memohon anugerah kepada Beliau agar mampu mencapai tujuan hidup yakni catur purusa artha dengan selamat. Sementara bunga lambang kesucian hati dan lambang kasih sayang. Demikian juga sarana upakara lain masing masing memiliki makna dan kedudukan yang berbeda beda.
Karena kedudukan yang demikian sakral, untuk menjaga kesucian banten, maka dalam Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek Aspek Agama Hindu sebagai hasil dari Paruman Sulinggih yang telah disahkan PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) dinyatakan seorang tukang banten hendaknya menyucikan dirinya dengan upacara pewintenan.
Selain itu dalam hal membuat banten, kedamaian dan kesucian hati harus tetap terjaga. Tidak mengeluarkan kata kata kasar, tidak sedang marah atau sedih, tidak sedang cuntaka, berpakaian pantas, tidak menggaruk badan, dan tidak membuat banten di tempat sembarangan.
Makna dalam Pembuatan sebuah Banten
Banten sebagai sarana upakara yadnya dalam bentuk yang paling kecil dan paling mudah dibuat adalah canang.. Setidaknya seorang anak kecil dalam keluarga Hindu yang pertama dikenal sebagai sarana upakara yadnya adalah canang. Selanjutnya penulis akan membatasi jenis banten yang dimaksud dalam tulisan ini , dalam bentuk paling sederhana yaitu ‘canang’
Setiap Purnama dan Tilem anak anak dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas diharuskan membawa sebuah canang ke sekolah dengan harapan selain untuk yadnya juga dapat menegakkan ajaran Hindu di Bali serta mempertebal rasa keimanan dalam diri siswa. Namun tanyakanlah pada mereka berapa anak yang membuat sendiri canang yang dibawanya. Hanya segelintir saja, sedangkan sisanya membeli !
Tidak salah memang, karena dengan membeli atau membuat sendiri persembahyangan akan tetap berlangsung. Tapi bagaimana dengan kwalitas keimanan mereka terhadap Tuhan apakah sama antara anak yang membeli ‘canang’ dan anak yang membuat ‘canang’? Bagaimana dengan rasa memiliki mereka terhadap agamanya sendiri ? dan bagaimana dengan kelestarian budaya Bali ?
Seperti disebutkan sebelumnya dalam pembuatan sebuah ‘banten’ diperlukan syarat syarat khusus seperti membersihkan badan, berpakaian rapi, mengikat rambut dan hal lain saat seseorang membuat ‘banten’ atau menyiapkan sarana upakara yadnya.
Hal ini mempunyai makna yang sangat dalam, bahwa ketika kita sudah meniatkan hati dan pikiran untuk mengadakan upakara yadnya bahkan dalam membuat sarananya hati dan pikiran sudah disucikan dan sudah terfokus dengan tujuan dari yadnya yang akan diselenggarakan.
Dengan kata lain “rasa” yang ditimbulkan dari membuat ‘banten’ sendiri lalu menjadikannya persembahan kepada Tuhan akan berbeda dari pada saat seseorangnya membeli ‘banten’ dari seorang tukang banten. “Rasa” itulah yang kemudian membuat iman seseorang terhadap Tuhan nya akan semakin kuat.
Dengan meningkatnya iman dan takwa kepada Tuhan maka rasa memiliki dan penghargaan terhadap agama sendiri juga akan meningkat. Sehingga ekspansi dari kepercayaan dan agama lain akan dapat dibendung. Seseorang umat Hindu tidak akan dengan mudah menyerahkan keimanannya kepada keyakinan yang berbeda yang seringkali datang dengan iming iming peningkatan ekonomi.
Selain itu masyarakat Bali yang sebagian perekonomiannya digerakkan dari sektor pariwisata harus menyadari betul bahwa wisatawan yang datang ke Bali karena dua hal yang menarik dari tanah Bali ini yaitu keindahan alam terutama pantainya dan budayanya.
Budaya Bali sangat erat kaitannya dengan ajaran Hindu yang menjadi kepercayaan yang dominan di Bali ini termasuk salah satunya adalah pembuatan upakara yadnya. Hal ini harus ditanamkan sejak kecil, sehingga masyarakat Bali tidak tergerus dengan budaya asing yang masuk sangat deras di Bali. Selain itu menanamkan kebiasaan membuat ‘banten’ sejak kecil akan membentengi seseorang dari budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan adat istiadat bangsa Indonesia umumnya dan Bali khususnya.
Dengan adanya arus globalisasi , kecendrungan masyarakat dalam hal ini orang tua lebih memfokuskan mengembangkan kemampuan anak yang bersifaf kognitif dengan menyediakan fasilitas seperti gadget sejak usia taman kanak kanak. Tanpa diarahkan, anak akan semakin jauh dari kebiasaan dan tradisi Bali. Hal ini berbahaya bagi masa depan pariwisata Bali. Jika budaya Bali mulai menghilang, wisatawan perlahan akan berpaling pada daerah lain. Sebab banyak daerah lain yang mempunyai ojek wisata tak kalah indah dengan Bali bahkan lebih alami, tapi mereka tidak punya keindahan budaya seperti yang ada di Bali.
Bayangkan kalau sampai masyarakat Bali, umat Hindu, sendiri sudah tidak bisa membuat ‘canang’ karena kurangnya ditanamkan sedari kecil. Apakah kita nantinya akan mengimport ‘canang’ dari luar daerah ? seperti halnya janur dan pisang yang mulai didatangkan dari luar Bali. Amit amit jabang bayi. Jangan sampai itu terjadi. Walaupun saat ini apa yang menjadi cikal bakal keadaan itu sudah terlihat dengan adanya fenomena adanya seorang pedagang ‘canang’ di sebuah pasar kawasan Denpasar, pedagangnya berasal dari Jawa !
Menanamkan Cinta Budaya Bali Sejak Dini
Menanamkan kebiasaan mencintai agama dengan melestarikan kebudayaan penting dilakukan sejak dini. Anak mengenal pendidikan pertama dalam keluarga. Dalam hal ini keluarga, orang tua memberi contoh dengan membuat sarana upakara sendiri dalam rumah tangga. Ibu sedapat mungkin , walaupun mempunyai waktu terbatas, mengenalkan kepada anak bagaimana pembuatan canang, mengisi bunga bunga dan lain sebagainya, yang kemudian dipersembahkan dalam perembahyangan bersama di pura/ sanggah masing masing. Dengan demikian anak sudah mulai belajar sekaligus merasakan perbedaan ‘rasa’ dalam persembahyangan dengan menggunakan canang yang dibuat sendiri dan yang dibeli dari pedagang.
Menanamkan kebiasaan ini juga penting dilakukan di sekolah. Sudah seharusnya sekolah menjadi pusat perkembangan budaya bagi peserta didik. Dengan memasukkan materi Kurikulum Muatan Lokal ke dalam muatan kurikulum regular akan membantu tercapainya tujuan tersebut. Apabila ada keterbatasan waktu yang menjadi alokasi waktu beban belajar kurikuler maka materi budaya seperti mengajarkan anak membuat canang, klakat, ketupat dan sarana upakara lainnya dapat diberikan pada jam ekstrakurikuler.
Penyelenggaraan pendidikan muatan lokal selain dengan strategi top down dapat dibangun secara up down, atau tumbuh di dan dari satuan pendidikan. Hal ini berarti satuan pendidikan diberi kewenangan untuk menentukan jenis muatan lokal sesuai dengan analisis konteks. Penentuan jenis muatan lokal kemudian diikuti dengan penyusunan kurikulum yang sesuai dengan identifikasi kebutuhandan atau ketersediaan sumber daya pendukung.
Muatan lokal yang mendukung perkembangan budaya Bali di Sekolah Dasar diantaranya Menganyam, Mejejahitan, Permaian Tradisional sebagai keunggulan lokal. Menanamkan cinta budaya Bali juga dapat di lakukan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan semacam Rare Bali Festifal , lomba lomba pembuatan canang, banten dalam kegiatan kegiatan hari ulang tahun.
Penutup
Dengan demikian, apabila seluruh komponen sudah seia sekata dalam meng’ajeg’kan Bali, mulai dari orang tua, sekolah dan pemerintah bahkan swasta, dipastikan bahwa budaya Bali akan tetap lestari dan Bali tidak akan kehilangan pamornya sebagai tujuan wisata yang paling banyak diminati di dunia yang pastinya akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakatnya.
Kedepan, tidak akan ada lagi anggapan-anggapan bahwa membuat ‘canang’ tidak efektif dan efesien sebab sudah adanya kesadaran diri yang tumbuh akibat kebiasaan dan “rasa” keimanan yang meningkat.
Luh widyastuti
Guru di SD Negeri I Peguyangan
Daftar Pustaka
https://suluhnusa.com/humaniora/20130905/karena-demikian-sakralnya-banten-itu.html, (25 Agustus 2014)
http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/makna-banten-bagi-umat-hindu/; I Made Yanuar (25 Agustus 2014)
http://www.eocommunity.com/makna-Banten-Canang-Sari-di-dalam-persembahyangan-umat-Hindu-di-Bali ( 25 Agustus 2014 )
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2013/08/lampiran-ii-pedoman-pengembangan-muatal-lokal.pdf ; Ahmad Sudrajat ( 25 Agustus 2014 )
