Jalan Sengsara Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

SULUH NUSA, LEMBATA – Jeleknya infrastruktur jalan di Lembata, bukan berita baru. Kondisi jalan strategis nasional yang menghubungkan Lewoleba-Lamalera, selama ini terkesan dianaktirikan. Rute Wangatoa, Belame, Puor, Poswatu-Lamalera B ibarat jalur ”neraka”. Di musim hujan jadi kubangan banjir dan musim kemarau jadi ”kali mati” berbatu. Padahal ”jalur neraka” ini justru menuju destinasi Surga Wisata Lamalera yang sudah mendunia.

 

Kini jalur neraka ini oleh Pemkab Lembata berganti nama menjadi Jalan Anton Enga Tifaona. Puji Tuhan. Siapa sosok ini sebenarnya sehingga namanya diabadikan sebagai nama jalan? Begitu hebat dan berjasakah figur ini bagi Lembata?

Sebut Helm dan Jalur Puncak, Ingat Anton Tifaona

Helm sudah dikenal di seluruh Indonesia. Saat menjabat sebagai Asisten Operasi Polda Jatim, Anton Tifaona jalani misi khusus. Merobah predikat ”terjelek” Polda Jatim di bidang lalu lintas dan kriminalitas. Anton menerapkan konsep helmisasi. Uji coba dilakukan pada penggalan jarak 100 meter. Semua pengendara sepeda motor yang lewat di situ, wajib pakai helm. Walau dihujani protes, Enga jalan terus. Akhirnya Surabaya bahkan seluruh Indonesia pakai helm. Konseptornya adalah anak kampung Imulolo, Lembata kelahiran 21 Agustus 1934, Anton Enga Tifaona. Konsep ”buka tutup” jalur Puncak, konseptornya juga adalah Anton Enga Tifaona, saat jadi Wakapolda Jabar.

Danres Bujangan, Hingga Prestasi Internasional.

Memasuki dunia bhayangkara, Anton Tifaona tampil sebagai lulusan terbaik SPN Sukabumi 1957. Otaknya yang cemerlang menghantarnya masuk PTIK. Karir kepolisian Anton terbilang mulus. Menjadi Danres di Ngada , saat masih mahasiswa PTIK dan bujangan. Lulus PTIK, Anton jadi Sekpri Panglima Antar Daerah Kepolisian di Banjarmasin. Lalu berturut-turut jadi Komandan Polisi Airud Wilyah II Kalimantan;

Danres Khusus Timtim dan Paban VI Asisten Operasi KapolriKapolri

Satu prestasi internasional yang diukirnya adalah Latma Aman Malindo, Latihan Kemanan Bersama
Polri dan Polisi Diradja Malaysia. Sempat jadi Asisten Operasi Sapu Jagat di Jakarta. Saat jadi Kapolda Maluku, Anton prakarsai Pengadilan Terapung. Lalu jadi Kapolda Sulutteng. Terakhir jadi Wakapolda Jabar.

Jenderal Miskin, Konseptor Program Pengentasan Kemiskinan Nasional.

Tanggal 1 September 1989 Pak Anton pensiun dengan pangkat Brigjen Polisi. Putera ke-4nya mengikuti jejaknya yakni Brigadir Jenderal Polisi Daniel Boli Hironimus Tifaona. Ke-9 anak keluarga Anton Tifaona dan Mama Nyo Tifaona sudah mandiri. Mereka adalah Thomas Simon Petrus Tifaona (Tommy), Rosa Susana Somi Tifaona (Ina), Alexander Benedictus Bala Tifaona (Leksi), Daniel Boli Hironimus Tifaona (Denny), Bernardus Paskalis Geroda Tifaona (Bernard), Margaretha Yuliana Kelosum Tifaona (Sandra), Sophia Barek Tifaona (Sofi), Theresia Carolina Budi Tifaona (Thres), dan Josephina Kewa Tifaona (Joice).

Lexy Tifaona dan Tommy Tifaona, dua putra Brigjen Pol Purn.Drs. Anton Enga Tifaona di Jalan Anton Enga Tifaona,Lembata Mei 2022. Walau sudah pensiun, Pak Anton terus mengabdi bagi negara. Dewan Hankamnas percayakannya membuat konsep pengentasan kemiskinan, yang akhirnya oleh Presiden dijadikan Program Pengentasan Kemiskinan Nasional. Padahal jenderal yang dikenal tegas, lempeng dan agamis ini bukan jenderal yang kaya materi. Di balik kehebatan Anton Enga Tifaona, ada Mama Veronika Wilhelmina Nyo Tifaona, wanita perkasa yang setia mendampingi sebagai istri, ibu dan bendahara rumah tangga handal. Prinsip hidup Mama Nyo tegas. Ogah memberi makan keluarganya dengan uang hasil korupsi, suap dan sogok.  TAHAN dan TUHAN jadi resep dan pedoman keluarga. Bagi Pak Anton, Tertib,Tabah dan Tuhan menjadi azas hidupnya.

Bangun Rumah Tuhan dengan Modal Rp2 Juta.

Saat terjadi Konflik Poso Jilid II, Anton Tifaona jadi Ketua Tim Operasional Rekonsiliasi Pusat. Jenderal Anton juga dipercaya sebagai Wakil Ketua DPP Paroki St. Antonius Padua Otista. Juga jadi Ketua Panitia Pembangunan Gereja di Komplek Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma. Bermodal awal

 

Rp.2 Juta, akhirnya berhasil berdiri gereja St. Agustinus, yang diberkati oleh Mgr. Leo Sukoto pada 15 Agustus 1995.

 

Pada 09 Desember 1992, Pak Anton Tifaona dan Mama Ony sempat menjadi tamu Sri Paus Yohanes Paulus II. Di Vatikan, pasangan pasutri yang sangat agamis dan rajin berdoa Rosario ini, berziarah ke Lourdes, Prancis.

 

Pejuang Otonomi Lembata Sejati

Otonomi Lembata, merupakan hasil perjuangan panjang Rakyat dan pencinta Lembata dengan tonggak sejarahnya Statement 7 Maret 1954 di Hadakewa. Apa andil dan peran Anton Tifaona dalam Perjuangan Rakyat Lembata memperjuangkan otonomi Lembata?

 

Pada 1944-1945 si kecil Anton Tifaona masuk Sekolah Rakyat di Lamalera. Saking cerdasnya, saat duduk di kelas 2 SR, Anton ditunjuk jadi guru bantu di Boto. Kembali ke Lamalera Anton langsung lompat ke kelas 3. Gurunya adalah Petrus Gute Betekeneng yang kemudian jadi Proklamator Lembata mencetuskan Statement 7 Maret 1954. “Beliau guru ,kakak, motivator, pembimbing dan penuntun saya yang baik. Beliaulah yang meyakinkan ayah saya untuk terus menyekolahkan saya ke Standard School di Larantuka,” tutur Pak Anton.

 

“Kaka Piet Gute di mata saya adalah guru yang berpikiran antisipatif dan pemimpin yang visioner. Dengan lantang memaparkan pandangannya, agar orang-orang Lomblen/Lembata segera terbebas dari kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, keterbelakangan dan keterisolasian. Dan Lembata harus jadi kabupaten sendiri,” demikian Anton Tifaona.

 

Perlu dicatat bahwa sebelum tahun 1954, masyarakat Lomblen masih terpecah oleh sistem Paji dan Demon(g) yang dipaksakan masuk Lomblen. Tiga hamente tunduk pada Kerajaan Larantuka dan tiga hamente tunduk pada Kerajaan Adonara (Sagu), Lomblen yang mulanya aman, sengaja dipecah belah, dibuat saling bermusuhan sebagai hasil politik devide et impera buatan kolonial Belanda, dan tunduk pada atasan yang berbeda.

 

Walau Indonesia sudah merdeka, tetapi model kolonial tetap hidup di Lomblen saat itu. Tokoh Lomblen sadar dan berniat melepaskan diri dari kungkungan yang mengobrak-abriknya. Namun harus dilakukan secara cerdas melalui partai politik, tidak bisa lewat cara kekerasan. Perjuangan politik lalu digulirkan dipelopori oleh Petrus Gute Betekeneng. Para kepala hamente, kepala desa, guru, tokoh adat dan masyarakat diajak untuk bersatu berjuang bersama untuk penghapusan swapraja Larantuka dan Adonara, dihilangkanya sistem Paji dan Demon, dan Lomblen harus berpemerintahan sendiri.

 

Perjuangan Rakyat Lomblen di bawah bendera Partai Katolik dan Partai Masyumi ranting Kedang ini akhirnya menghasilkan kebulatan tekad dengan dicetuskannya Statement 7 Maret 1954 yang monumental itu. Perjuangan Rakyat Lomblen ini terus diperjuangkan oleh rakyat Lembata di Lembata dan di rantau. Untuk mendukung perjuangan rakyat ini, di Ende 3 siswa SMA
Syuradikara yakni Anton Enga Tifaona, Anton Langoday dan Poli Bataona memotori berdiri organisasi pemuda TRI TONA. Saat masih mahasiswa PTIK Jakarta, Anton jadi Ketua Pan.Pemb.Djakarta.

Layak jadi Pahlawan Nasional

Pada tanggal 7 Maret 1999, dicetuskannya Memorandum Rakyat Lembata 1999 di Lewoleba. Intinya Lembata mau Otonom. Delegasi Rakyat Lembata dikirim ke Jakarta membawa surat mandat agar bergabung dengan tokoh masyarakat Lembata di Jakarta.

 

Lalu dibentuk Tim Gabungan Delegasi Rakyat Lembata, pada 30 Maret 1999 diketuai oleh Brigjen Pol. (Purn) Drs. Anton E.Tifaona. Tugas delegasi, memperjuangkan Lembata menjadi kabupaten. Semua anggota Tim Delegasi berkomitmen untuk ikhlas berjuang demi terwujudnya Kabupaten Lembata, tanpa pretensi untuk mendapat apa-apa. Hasilnya, terwujudlah Lembata menjadi Kabupaten. Jelas kiranya peran Bapak Anton Enga Tifaona. Berjuang sejak muda lewat Tritona hingga Lembata jadi kabupaten.

 

Beliau seorang pejuang sejati Lembata sampai mati. Berbagai prestasi tingkat nasional dan internasional telah diukirnya. Atas perjuangan, pengabdian dan jasanya bagi bangsa, negara dan kampung halamannya ini, Bapak Brigjen.Pol. (Purn) Drs.Anton Enga Tifaona layak jadi Pahlawan Nasional, tidak sekedar menjadi nama sebuah jalan di Lembata. ******

Thomas B. Ataladjar

Praktisi Sejarah dan Penulis Tinggal di Bogor

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *