DPRD Lembata Membuka Ruang Mendahului Perubahan Untuk Bayar Kesejahteraan Tenaga Kesehatan

Suluh Nusa, Lembata – Saat melakukan perpanjangan PPKM berbasis Mikro yang dikeluarkan melalui instruksi Bupati Nomor 3 tahun 2021, PLT Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday mendengar dengan sungguhy sungguh berbagai keluhan para dokter dan tenaga kesehatan dalam rapat terbatas satgas Covid 26 Juli 2021 di Kantor Bupati Lembata.

Didampingi Ketua DPRD LemnataLembata Piter Gero dan Sekda Lembata, Paskalis Tapobali, keluhan kepada Thomas Ola bukan saja soal kekurangan oksigen dan fasilitas pendukung tetapi juga soal kesejahteraan tenaga kesehatan.

Selain itu rendahnya kesadaran dlama mematuhi protocol kesehatan juga tak luput dari keluhan para dokter dan kepala puskesmas.

Di dalam Rapat tersebut, seluruh Nakes mengeluh telah menjadi bulan-bulanan karena perilaku warga yang tidak percaya adanya Covid-19.

Perilaku warga dipicu adanya isu sesat yang beredar baik melalui sosmed maupun doktrin yang disebar secara terstruktur.

Para Nakes itu mengeluhkan pengambilan paksa Jenazah pasien Covid-19, keluarga pasien yang terkonfirmasi Covid-19 dengan gejala berat menolak untuk dirujuk ke RSUD Lewoleba, warga tidak disiplin menjalankan Prokes dalam aktivitasnya sehari-hari, keluarga kontak erat dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 melarikan diri saat hendak dilakukan tracking contac, serta keengganan warga mengikuti vaksinasi Covid-19.

Seperti pengakuan Dokter Heny, dari Puskesmas Waipukang, Kecamatan Ile Ape. Ia Mengeluh dihadapan PLT Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, bahwa ada seorang pasien terkonfirmasi Covid-19 meninggal, langsung diangkut paska keluarga.

Ia juga mengaku, warga mengikuti vaksinasi Covid-19 bukan karena kesadaran memperkuat herd imunity, melainkan hanya untuk mendapatkan surat vaksinasi sebagai syarat melakukan perjalanan.

Dokter Heny meminta pemberian kartu tanda pernah divaksin hanya kepada warga yang telah menjalani dua kali vaksinasi.

Lain lagi pengakuan Dokter Tika dari Puskesmas Lamau, Kecamtan Ile Ape Timur. Ia mengeluhkan pasien terkonfirmasi Covid-19 yang di rekomendasikan menjalani Isolasi 14 hari namun tetap bebas berkeliaran dan tidak di rumah, sedangkan satu keluarga mau di Tracking malah lari ke kebun.

Dokter Tika juga menyoroti kegiatan adat maupun kumpul keluarga di Desa tetap berlangsung tanpa prokes yang ketat. Ia menyarankan agar Satgas Covid di desa lebih gesit lagi menyosialisasi Prokes bagi seluruh warga.

Pengakuan Dokter Indra dari Puskesmas Balauring, Kecamatan Buyasuri.

“Keluhan saya, kalau ada pasien terkonfirmasi covid-19 dengan gejala berat dirujuk merka tidak mau. Kita harus bujuk dulu, Paksa dulu baru mau. Harus lebih aktif sosialisasi Covid-19 kepada warga. Ini karena mereka tidak percaya Covid itu ada,” keluh Dokter Indra.

Menurutnya, sikap keras kepala warga Lembata ini akan mempersulit upaya memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Sementara itu, PLT Bupati Lembata, Doktor Thomas Ola Langoday menegaskan, Pemerintah tidak boleh kalah dengan sikap keras kepala warga.

Ia meminta aparat kemanan untuk tidak segan-segan memberlakukan Undang-undang Kekarantinaan jika warga bersikeras degan pemahaman sesat.

“Siapa yang keluar dari jalur itu berurusan dengan hukum. 1 kali beri peluang orang lain akan ikuti. Ini menyangkut mati hidup rakyat Lembata, Jangan main-main,” ujar Doktor Thomas Ola Langoday.

PLT Bupati Lembata pun menyampaikan  terimakasih kepada para dokter serta para Nakes yang sudah mengawal pengamanan pandemi Covid-19 di lapangan. Ia berharap seluruh warga Lembata lebih disiplin menjalankan Prokes.

“Saya mohon menjaga agar ke depan varian baru tidak masuk Lembata dan ketika masuk menjadi tanggung jawab bersama,” kata Plt Bupati Lembata Thomas Ola Langodai.

Berdasarkan data, saat ini terdapat 99 nakes yang positif dan masih menjalani isolasi mandiri di rumah.Ia meminta Dinas Kesehatan agar membantu asupan vitamin dan obat-obatan bagi tenaga kesehatan yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Soal reward dan insentif terhadap nakes dan dokter, Thomas Ola mengatakan, Ketua DPRD sudah membuka ruang untuk memanfaatkan mendahului perubahan, sehingga ia meminta Sekda dan kepala Dinas Kesehatan untuk memanfaatkan ruang itu.

“Jangan biarkan nakes menderita, penuh harap untuk sesuatu yang tidak pasti, padahal pengorbanan mereka jelas. Negara dan daerah tidak boleh kalah dengan penyakit ini,” tegas Thomas Ola.

Terkait ketersediaan oksigen untuk melayani pasien covid, ia meminta manajemen rumah sakit dan puskesmas untuk menyiapkan oksigen yang dapat mencukupi kebutuhan.

“Pasien boleh mati tetapi jangan mati karena ketiadaan oksigen. Karena itu pemerintah membunuh. Puskesmas dan rumah sakit kalau tidak ada oksigen diberitahukan. Ini soal mati dan hidupnya rakyat Lembata,” tegasnya.

Ketua DPRD Lembata Petrus Gero mengatakan, upaya menekan laju covid, juga untuk menekan jumlah orang meninggal karena covid.

“Jumlah 36 meninggal karena covid ini angka besar yang harus diminimalisir,” tegas Gero.

Ia juga mendorong pemerintah untuk memperhatikan insentif dan tunjangan kinerja bagi tenaga kesehatan dan dokter yang bertugas menangani Covid-19.

Faktor penghubung kinerja kerja nakes yang tinggi dituntut tanpa dibarengi reward dan ini harus dibicarakan sebelum perubahan APBD, dan jika memungkinkan dapat dilakukan melalui mendahului perubahan APBD untuk selamatkan situasi saat ini,

“Tanpa reward lalu tuntut orang bekerja bagus itu belum ada teori,” tegas Gero.

Terkait vaksin yang sudah didatangkan, dan hanya terima tahap pertama, menurut Gero sangat merugikan negara, sehingga menjadi tugas bersama untuk mengajak masyarakat agar divaksin. (sultan/sandro)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *