Abstrak
Usaha gereja dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat belajar-mengajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) sudah terlaksana melalui kegiatan sekolah minggu. Namun kurangnya SDM yakni tenanga guru Sekolah Minggu mengakibatkan pembagian kategorial berdasarkan usia anak belum terlaksana dengan baik.Hal ini nampak pada penggabungan kelas antara anak usia batita, Balita, TK, SD dan SMP termasuk remaja. Remaja awal atau anak usia SMP yang berusia 12-15 tahun yang seharusnya berada dalam kelas tersendiri, akhirnya harus bergabung bersama kelas kecil. Masalah ini terjadi karena selain faktor kurangnya SDM, juga terjadi karena belum adanya pedoman yang baku dari Sinode GMIT tentang pembangian kelas berdasarkan usia. Kondisi seperti ini terlihat dari jumlah kehadiran remaja yang semakin hari semakin berkurang dalam ibadah Sekolah Minggu. Secara keseluruhan jumlah remaja awal sebanyak 16 orang. Remaja yang masih aktif di Sekolah Minggu berjumlah 9 orang, sisanya bergabung dengan komisi pemuda dan ada juga yang tidak bergabung dengan kedua kategorial tersebut yakni Sekolah Minggu maupun Pemuda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskrptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan, harapan remaja tentang sekolah minggu, motivasi mengikuti sekolah minggu, dan aktifitas remaja sejauh ini masih terlihat monoton, cara mengajar kurang menyenagkan, aktifitas hanya sebatas menghafal ayat Firman Tuhan dan pembelajaran kurang menyenangkan. Oleh karena itu Tulisan ini dapat di simpulkan bahwa harapan remaja tentang sekolah minggu harus melibatkan tiga aspek dalam pembelajaran yakni aspek kognitif, aspek Afektif dan aspek Psikomotorik.
Kata Kunci: Persepsi, Remaja, Sekolah minggu
Abstract
The church’s efforts in running it’s function as a Christian education teaching- learning process have been done throughout Sunday school activity. The lack of human resources, especially Sunday School teachers, has resulted in the categorical division based on the children’s age has not been implemented properly. It can be seen in the combination of classes between toddlers, kindergartens, and elementary schools as well as junior high school as teenagers. Early teens or junior high school children ages which is around 12-15 years old should be in their own class however they join small class. This problem occurs due to the lack of human resources and also because of there is no standard guideline from the GMIT Synod regarding class development based on the age. This condition can be seen from the absence of teenagers daily on Sunday school worship. Overall, the number of early adolescents was 16 people. There are 9 teenagers who are still active in Sunday School, the rest joined the youth commission and some did not join both of the categories, namely Sunday School and Youth. The method used in this research is descriptive qualitative research method.The results showed that knowledge, teenagers’ expectations about Sunday school, motivation to attend Sunday school, and youth activities so far still seem monotonous, teaching methods are not entertaining, activities limited to memorize verses of the Word of God and learning is not interesting. Therefore, from this paper can be concluded that the expectations of adolescents about Sunday school must involve three aspects of learning, such as cognitive aspects, affective aspects and psycho-motor aspects.
Keywords : Perception, Adolescence , Sunday School
