suluhnusa.com_Tidak bisa kita pungkiri bahwa penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan masih jauh, ibarat panggang dari api. Hal sepele tapi serius, bahwa hanya untuk membuang sampah pada tempatnya saja sulitnya bukan kepalang.
Dan membangun kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya agar lingkungan terlihat nyaman dan bersih butuh waktu, tenaga, pikiran, kesabaran bahkan uang.
Untuk membantu membangun kesadaran atas sampah inilah, Dani Aristya bersama beberapa orang lalu membentuk sebuah komunitas dengan nama Komunitas Bali Bersih.
Komunitas ini dibentuk bukan karena Bali adalah pulau sampah, tetapi untuk menjaga Bali agar lebih bersih dengan membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan memberi contoh kepada masyarakat. Dengan contoh, misal membersihkan sampah non-organik dan membuang sampah pada tempatnya sesungguhnya dilakukan agar masyarakat dalam dapat meniru pola itu.
Pemerintah memiliki tanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata, dan terjangkau oleh masyarakat. Namun pemerintah sadar tidak mungkin bekerja sendiri, diperlukan peran serta dari berbagai pihak termasuk dunia usaha dan swasta.
Demikian pula halnya dengan upaya menggalakkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tempat-tempat umum, pemerintah juga memerlukan kerjasama dari semua lapisan masyarakat.
Dan Komunitas Bali Bersih mengambil posisi sebagai kelompok masyarakat yang konsen terhadap kebersihan lingkungan dan sampah. Konsentrasi dan komitmen Komunitas Bali Bersih ini dibuktikan dengan beberapa waktu lalu, dilakukan kegiatan Denpasar City Cleanup yang berlokasi di daerah Sidakarya.
Kegiatan Denpasar City Cleanup di Sidakarya tersebut merupakan kegiatan perdana yang dilakukan oleh Komunitas bali Bersih, dan pada saat itu antusias peserta sudah tinggi. Para relawan datang dengan sukarela membawa peralatan untuk memerangi sampah seperti sapu dan kantong sampah. Semua relawan yang berjumlah hampir 80 orang saat itu berbaur gembira, bahagia bekerja membersihkan Kota Denpasar. Mereka bahagia melakukan itu. Sebab, selain sebagai wujud nyata kegiatan komunitas, relawan ini juga sadar benar, bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan. Ketika lingkungan dijaga dengan baik maka dia akan memberi berkah untuk kelanjutan hidup manusia.
Dan virus bersih bersih Bali ini kepada suluhnusa.com Aristya mengungkapkan, dirinya bersama Komunitas Bali Bersih merasa berkewajiban untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. Membangun kesadaran ini dilakukan dengan kerja nyata. Setelah berhasil menggelar kerja bersih di daerah Sidakarya, kali ini Komunitas Bali Bersih menggandeng band se-visi The Bullhead dan SID serta beberapa instansi/komunitas dan individu lain, untuk membersihkan pantai Kuta.
Kegiatan Kuta Beach Cleanup ini, sesungguhnya ingin memberi pesan kepada wisatawan baik domestik dan mancanegara untuk turut menjaga pantai kuta dari kotoran dan sampah.
“Langkah awal adalah cukup membuang sampah pada tempat sampah yang sudah disediakan di Pantai Kuta, sudah turut menjaga pantai ini agar tetap indah dan nyaman dikunjungi,” ungkap Aristya.
Kuta Beach Clean up kali ini, ungkap Aristya tidak dibiayai oleh pihak manapun dan merupakan aksi gabungan antara Komunitas Bali Bersih dan sebuah band Bali yang juga peduli lingkungan, The Bullhead Bali. Puluhan kantong sampah disediakan oleh Eco Bali Recycling, dan hampir seratus tas sampah disumbangkan oleh The Bullhead dan Komunitas Bali Bersih. Aksi ini dipilih untuk dilaksanakan di Pantai Kuta karena selain merupakan objek wisata ternama, pantai Kuta juga merupakan kawasan konservasi penyu dimana jika tidak bersih dari sampah plastik, ada kemungkinan besar penyu-penyu akan mati karena tersangkut atau memakan plastik.
“Kegiatan bersih-bersih yang kami lakukan untuk membantu mengurangi banyaknya sampah yang belum tertanggulangi di Pantai Kuta. Namun demikian, kami tahu bahwa kegiatan ini cuma menyelesaikan masalah sampah hari ini saja. Masalah sampah sesungguhnya bisa lebih dituntaskan dengan konsep 3 R: Reduce, Reuse dan Recycle. Kurangi penggunaan benda-benda non-organik sekali pakai yang merupakan calon sampah seperti gelas plastik, kantong plastik, dan termasuk juga sedotan plastik. Gunakan ulang semua produk plastik yang masih bisa digunakan ulang, misal kresek bisa dipakai berkali-kali sebelum dibuang ke tempat sampah. Recycle atau daur ulang sampah kita, bisa melalui jasa recycle seperti Eco Bali Recycling atau mulai mendaur ulang sampah organik dengan membuat kompos sederhana,” jelas Aristya.
Walau banyak masalah sampah Bali yang belum teratasi, namun Dani Aristya dan Komunitas Bali Bersihnya merasa bangga dan senang melihat ratusan anak muda dari berbagai komunitas yang telah ikut membantu acara ini, bahkan beberapa sudah menyatakan kesediaannya untuk diundang lagi di acara serupa.
Sementara itu, Ajiq dari The Bullhead Bali juga mengutarakan kegembiraan yang sama, karena kegiatan sederhana ini diikuti oleh banyak relawan yang luarbiasa.
“Saya berterima kasih kepada Komunitas Bali Bersih atas kerjasamanya menyukseskan Kuta Beach Clean up kali ini. Aksi tadi mungkin memang salah satu dari beach cleanup terbesar dari yang pernah ada di Bali yang dihadiri setidaknya 200 orang sukarelawan. Bisa dibilang sukses, karena dengan relawan yg banyak kami benar-benar bisa total membersihkan dan atau paling tidak mengurangi sampah disana. Namun demikian, kami masih gagal membuka mata masyarakat, wisatawan, ataupun pengunjung pantai Kuta untuk lebih menyadari pentingnya menjaga kebersihan. Terbukti, saat saya akan pulang tadi dan melintasi rute aksi, saya masih melihat sampah-sampah seperti gelas/botol air mineral, bungkus snack, dll kembali ditinggalkan berserakan begitu saja diatas pasir..Namun setidaknya, kita sudah melakukan sesuatu dan itu untuk hal yang baik” tegas Ajiq. (sandrowangak)
