Petikan judul tulisan diatas saya kutip dari Story WhatsApp Rm. Pius Laba Buri,Pr, Pria berkacamata penggemar fanatik warna biru Italia, kelahiran Adonara, 26 Juli 1976, tepat 44 tahun silam kembali merayakan Syukuran Ulang Tahun kelahirannya di hari Minggu.
Putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Bapak Paulus Lanan Werang dan Ibu Lusia Sura Basa(Alm) ini sudah 10 tahun mengabdikan diri menjadi Pastor di Paroki Lerek. Menjadi pastor pembantu 4 tahun (2005-2009) dan menjadi Pastor Paroki 6 tahun (2014-sekarang) di Paroki Lerek.
Beliau melayani dengan sangat baik. Mampu menaklukan watak umat Paroki Lerek yang keras. Setelah melayani misa hari Minggu di dua stasi yakni Stasi Watuwawer (Misa Pertama) dan Stasi Atawolo( Misa kedua) beliau langsung kembali ke Pastoran Paroki karena sore harinya akan dilaksanakan arisan kelompok St.Vinsensius di Pastoran. Sekitar pukul 15.00 WITA, arisan berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan yang dihadiri oleh seluruh anggota kelompok yakni 21 orang.
Tanpa disadari, ternyata ada kejutan Ulang Tahun yang sudah disiapkan oleh beberapa anggota kelompok arisan yang dipimpin oleh istri ketua kelompok arisan Bapak Pankrasius Nimo Koban.
Dibantu Putri mereka Gloria Koban, sebuah kue tart Ulang Tahun berhias lilin angka 44, pun sebuah nasi tumpeng dihiasi lauk pauk tersusun rapih di dalam lemari makan. Setelah selesai arisan, semua anggota kelompok arisan, beberapa karyawan Paroki dan juga enam orang sahabat yang datang dari Waipukang, langsung berpindah ke ruang tamu pastoran untuk ibadat bersama yang dipimpin oleh bapak Pankrasius Nimo Koban, lagu oleh Saudari Helen Watun, dan bacaan oleh Saudari Gloria Koban berlangsung khsusuk.
Seusai ibadat, Romo Pius yang akrab disapa “Rompy” diminta untuk menempati kursi special yang sudah disiapkan. Dipandu oleh Bapak Philipus Pelile Watun, acara sederhana berlangsung cukup meriah ala orang Lerek. Dimulai dari acara penyematan topi kebesaran ala Pangeran, yang sudah disiapkan oleh Bapak Philipus Pelile Watun, berlanjut pada acara pemotongan kue ulang tahun dan nasi tumpeng. Dibantu Romo Erik Liwun,Pastor pembantu Paroki Lerek, lilin berangka 44 itu pun mulai dibakar.
Lidah api melahap manja, menari anggun seolah pertanda kebahagiaan kini sedang menaungi hati “ Sang Bekeer Muda”. Setelah berdoa dalam hati, sambil meniup lilin dibarengi iringan lagu Selamat Ulang Tahun dari sesama saudaranya, Romo Pius tersenyum manis, memotong kue lalu membagikan kepada semua yang hadir.
Potongan kue pertama diberikan kepada adik sekaligus sahabat yang setia membantunya yakni Romo Erik liwun. Potongan kedua diberikan kepada Mama Dina Tolok, wanita yang selalu setia menjaga agar asap dapur Pastoran Paroki tetap mengepul. Potongan ketiga diberikan kepada Om Wan Namang, yang mewakili semua Karyawan transportasi Paroki Lerek yakni Narwastu 01 dan Narwastu 02.
Potongan keempat diberikan kepada Bapak Pankrasius Nimo Koban yag mewakili semua anggota Kelompok arisan St. vinsensius. Dan potongan terakhir diberikan kepada Saudarinya Bidan Linde yang mewakili tujuh orang sahabat yang datang dari Waipukang. Selanjutnya acara pemotongan nasi tumpeng yang dibantu Bapak Pankrasius dan istri. Sembari berkelakar ala orang Lerek, Bapak Pankrasius Menyuapi Rompy. Ah,, pemandangan yang cukup membahagiakan.
10 tahun berada di Paroki Lerek, terpisah dari orang tua yang jauh di Adonara, pun setelah ditinggal Sang Ibunda tersayang saat masih berusia 16 tahun, kali ini seperti beliau sedang berdiri disamping Ayah dan Ibunya sendiri di Paroki Lerek. Dilanjutkan dengan acara jabat tangan bersama secara akrab sambil memberi ucapan Ulang tahun kepada yang berbahagia.
Acara berlanjut dengan doa makan dan selanjutnya santap malam bersama. Semua yang hadir sangat menikmati hidangan yang sudah disiapkan di atas meja. Cukup banyak variasi makanan yang disiapkan diatas meja. Tak lupa pula makanan dan minuman lokal orang Lerek yakni Ubi kayu yang dikukus dan Tuak Tapor. Gelorah Tuak tapor kian memabukkan kala konok mulai diedarkan. Itulah tradisi di Paroki Lerek. Jangan tolak. Katanya itu pamali.
Setelah santap malam, konok masih tetap diedarkan. Sambil bincang-bincang, Rompy diwawancarai secara Ekslusif oleh Saudari Adel Ladja( Anggota Komsos Paroki Lerek). Berikut petikan wawancaranya.
Apa yang membuat Romo bertahan untuk tetap melanjutkan studi sepeninggal mama diusia Romo yang ke-16 tahun?
Ada pukulan berat setelah mama meninggal, sampai saya berhenti sekolah. Tapi saat Ujian Akhir Sekolah,saya dipanggil untuk ujian dan ternyata saya Lulus. Selanjutnya saja menjalani hidup apa adanya. Berjuang dengan kondisi serba kurang. Ditambah lagi dukungan penuh dari semua mama kecil saya hingga saat ini.
Bagaimana perasaan Romo selama berada di Paroki Lerek selama 10 tahun hingga merayakan HUT yang Ke-44 pun di tempat ini?
Saya bahagia berada di sini. Saya mempelajari watak umat disini selama 10 tahun dan saya hafal. Meskipun watak umat yang berbatok kepala “keras” namun lunak dalam tingkah laku, Pun lihai dalam bermain teka-teki ala Lerek. Bagi saya, dimanapun saya bekerja, saya harus selalu bahagia. Ada beberapa tempat saya mengabdi yang menjadikan saya anak angkat. Yang paling terasa adalah keluarga angkat saya yang ada di Lewoleba. Mereka menganggap saya adalah anak lelaki sulung mereka, karena dalam keluarga mereka hanya ada 3 orang anak perempuan. Kedua orang tua angkat dan Ketiga adik angkat saya juga sangat menyayangi saya hingga saat ini. Di Lerek, semuanya menyayangi saya. Mereka adalah keluarga saya tanpa kecuali.
Bagaimana perasaan Romo setelah menerima kejutan sederhana dari sanak saudara kelompok arisan?
“Luar biasa kejutan ini, tapi saya kikuk, soalnya tidak terbiasa dengan hal seperti ini”.
Apa harapan Romo di usia yang ke-44 Tahun ini?
“Saya berharap daya juang saya untuk mengabdi dengan ikhlas tidak boleh padam’.
Terima kasih Romo, untuk kebersamaan kita di hari ini, terkhusus untuk wawancara singkat yang sangat memantik saya sebagai anak tanah Paroki ini, semoga saya dan kami semua yang berada di Paroki ini pun memiliki harapan yang sama seperti harapan Romo di usia ke-44 ini. Mengutip bacaan hari ini saya coba mengaitkannya dengan segala harap baik yang Romo rapalkan di hari ini.
Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melinkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhhnya Aku melakukan sesuai permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian( 1 Raj.3 :11-12)
Teringat akan sebuah kalimat, “Banyak orang meminta hal terbaik dari Tuhan, tetapi terkadang justru mereka lupa memberi yang terbaik untuk Tuhan dan sesama.”***
Lerek, 26 Juli 2020
Adel Ladjar-Komsos Paroki Lerek





Kata”nya romantis, Menyentuh sekali kaka adel..
Ditunggu karya” selanjutnya..