suluhnusa.com_Biasanya setiap pagi ia berjalan beriringan dengan suaminya. Gerak tubuhnya khas, bergoyang lembut ke kiri dan ke kanan, lalu tangannya diayunkan perlahan mengikuti irama kakinya. Nafasnya yang memburu membuatku hafal, itu pasti perempuan tua berusia hampir tujuh puluh tahun yang akrab kupanggil Oma Panjul, lewat depan rumahku. Ia selalu begitu, tertawa ceria sambil menyapa siapa saja yang ditemuinya.
Panjul adalah nama marga suaminya. Entah kenapa bila menyebut kata ‘Panjul’ aku kerap bertanya pada diri sendiri, apakah itu satu-satunya nama marga yang menarik yang ada di benak nenek moyang sang suami? Atau kata itu memang punya arti tersendiri yang sangat bertuah? Ah sudahlah. Sepasang suami isteri ini selalu kulihat riang gembira, seolah tak ada beban yang tidak bisa terselesaikan. Suaminya yang kupanggil Opa Panjul menuntun isterinya yang berjalan dengan nafas tersengal-sengal, terlihat ia begitu penuh perhatian dan sayang. Ada rasa iri menyelusup diam-diam di sanubariku.
Pasangan suami isteri yang menurutku seharusnya sudah duduk tenang di rumah sembari menunggu cucu ini, memang tidak pantas lagi jika harus mengais rejeki di usia mereka yang sudah uzur itu. Oma Panjul masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga Indo Belanda yang tinggal sekitar dua kilometer dari rumahnya. Sedang Opa Panjul, menjadi tukang sapu di lapangan sepakbola yang letaknya tidak jauh dari tempat sang isteri bekerja. Rumah mereka yang terletak berdekatan dengan kali Ciliwung, menjorok ke bawah, sehingga jika mereka akan berangkat bekerja, harus meniti puluhan anak tangga untuk menuju jalan utama, jalan yang ada di depan rumahku. Jadi pantaslah bila aku berpapasan dengan mereka, nafas Oma Panjul selalu memburu.
Sore hari keduanya pulang bersama. Di tangan kiri Oma Panjul ada bungkusan plastik hitam yang menurut penuturannya berisi lauk pauk dan nasi makan siangnya yang sengaja tidak ia makan untuk cucunya di rumah. Sedang Opa Panjul menenteng ikatan daun singkong dan pepaya yang dipetiknya dari kebun tak bertuan di sebelah lapangan sepak bola yang ia tanam.
“Lumayan buat lauk makan nanti malam,” selalu begitu ia berkata bila kutanya untuk apa daun singkong dan daun pepaya itu. Aku tak berani bertanya lebih lagi karena hampir setiap hari ia menenteng dua jenis sayuran yang kerap membuat penyakit asam uratku kambuh. Dan sepertinya, tawa kedua Oma dan Opa yang selalu menghiasi wajah mereka, sudah cukup membuktikan kalau mereka tidak bermasalah dengan ke dua dedaunan itu.
Opa dan Oma Panjul memiliki lima anak, tiga perempuan dan dua laki-laki. Tiga anak perempuannya sudah menikah dan sudah pula bercerai, mereka dengan anak masing-masing tinggal di rumah kedua orangtuanya di tepian kali Ciliwung itu. Sedang dua anak laki-laki berprofesi sebagai tukang bangunan, mereka telah memiliki isteri dengan masing-masing tiga anak. Keduanya membangun gubuk di tanah kosong liar bantaran kali yang berdekatan dengan rumah orangtua mereka. Pernah tatkala kali Ciliwung banjir, rumah mereka hanyut terbawa air, untung bayi merah yang baru dilahirkan salah seorang menantu Opa Panjul selamat tidak hanyut terbawa luapan kali.
“Bayi ini mengambang di selokan kecil menuju kali. Wah, kalau saya tidak ada di rumah, saya tidak tahu bagaimana nasibnya,” cerita Oma Panjul tatkala kutemui tengah menemani menantunya membawa bayi itu berobat gratis di balai desa.
“Cucu Oma seakarang sakit apa?” tanyaku.
“Muntaber, kemarin karena tidak bisa beli bubur bayi instan dan susu, Ibunya memberi dia air tajin sisa menanak nasi aking. Mungkin ususnya tidak bisa terima, air tajin dari nasi aking yang dibuat Mamanya,” sahutnya tanpa beban. Wajah Oma Panjul tampak seperti biasa, ceria.
***
Dan sekarang, sudah hampir seminggu tidak kulihat pasangan suami isteri yang selalu tampak bahagia itu. Aku berusaha bertanya pada tetangga yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan suami isteri manula ini, tapi mereka juga tidak tahu. Bu Usman, pemilik warung sayur-mayur tempat aku kerap berbelanja berbisik, “ada yang bilang Oma stres, salah satu anaknya yang janda baru saja melahirkan. Bayinya sumbing dan suaminya tidak ada. Terus, anaknya yang juga janda, pacaran dengan suami orang, katanya dia pakai dukun untuk membuat laki-laki itu tergila-gila padanya. Kemarin, anaknya itu dikeroyok orang di pengkolan jalan. Entah siapa yang mengeroyok, mungkin orang suruhan isteri laki-laki selingkuhannya. Kasihan Oma dan Opa, sudah tua masih dibebani permasalah anak-anaknya, sudah gitu harus nyari duit pula buat kasih makan mereka.”
Ya, seminggu tidak melihat tawa Oma Panjul dan suaminya, serasa ada yang hilang dari kehidupanku. Tawa pasangan itu sangat membekas dan memberi makna bagi hidup perkawinanku, aku ingin sampai tua seperti mereka. Ada pesan tak tertulis saat Opa Panjul memegang tangan isterinya agar tidak jatuh, ada esensi terdalam dari arti cinta yang tertanam utuh di kehidupan mereka. Kisah anak-anak yang kehidupannya carut-marut, menjadi kisah tersendiri. Dan aku harus mencari tahu mengapa sudah seminggu ini pasangan manula itu tidak lewat di depan rumahku, mengapa? Apakah mereka sakit?
Kubuka pagar bambu yang mengelilingi rumah setengah batako dengan plesteran kasar itu dengan hati-hati. Suara gonggongan anjing kampung menyambutku. Seorang anak remaja memandang kehadiranku dengan curiga, alisnya bertaut memerhatikan sosokku dari atas ke bawah.
“Oma dan Opa ada?” tanyaku.
“Nggak tahu, lihat aja di dalam!” perintahnya sambil ngeloyor pergi.
Masih tetap diiringi gonggongan anjing, aku masuk kedalam rumah. Seorang anak berusia lima tahun sedang memegang piring plastik berisi nasi dengan lauk tempe. Pipinya yang kurus berkerak karena ingus yang berwarna kehijauan yang keluar dari hidungnya. Ruang sempit yang berisi sofa usang dan kumal itu, rupanya menjadi satu-satunya tempat untuk menerima tamu. Tak lama Seorang perempuan berusia tiga puluhan, bertubuh kurus keluar dari dapur, ia mengenakan daster lusuh yang tampak kotor di beberapa bagian. Perempuan itu menatapku lalu bertanya, “mau cari siapa?”
“Oh, mau ketemu Oma dan Opa Panjul, mereka ada?” tanyaku.
“Bapak lagi bawa Ibu ke Puskemas. Sudah hampir seminggu sakit,” sahutnya.
“Sakit apa?”
“Nggak tahu, Ibu hanya mengeluh perutnya sakit. Kemarin dia mengalami pendarahan.”
“Pendarahan?”
Perempuan itu mengangguk. Rupanya ia puteri Oma yang janda. Ia tampak tak bersemangat usai menuturkan penyakit Ibunya. Sesekali ia membentak anaknya dan mencubitnya tatkala anak itu minta tambah nasi yang ada di piringnya. Aku bisa meraba apa yang sudah terjadi, penghuni rumah ini tentunya mengalami krisis makanan selama Oma sakit. Ya, sepasang suami isteri renta itu beberapa hari ini tak bisa bekerja untuk menghidupi anak-anak mereka yang berkumpul di rumah nan sesak itu.
Keesokkan harinya, aku kembali mengunjungi rumah itu. Oma tergeletak di tempat tidur, penyakitnya kelihatan bertambah parah. Menurut penuturan Opa, dokter Puskesmas menyarankan ia untuk membawa Oma ke rumah sakit besar agar di periksa secara keseluruhan.
“Saya tidak ada duit buat bawa oma ke rumah sakit besar, sudah tiga kali ke Puskesmas, tapi tidak ada perubahan. Kemarin, saya usahakan ke lapangan, lumayan ada yang memberi uang dua puluh ribu rupiah usai menyapu. Uang itu saya belikan beras satu liter dan sisanya bayar Mak Palal.” Katanya sambil duduk di sisi isterinya.
“Bayar Mak Palal, untuk apa?”
“Begini Nak Ani, kata dokter di Puskesmas, isteri saya perutnya harus dirongsen dengan alat rongsen tiga dimensi, saya nggak tahu apa itu, mereka hanya bilang harus di CT-Scan dan di MRI, wah nggak tahulah itu istilah kedokteran, setelah saya tanya-tanya bayarnya mahal betul, sekitar jutaan rupiah, itu belum obat-obatan dan bayar jasa dokter spesialis. Perkiraan saya sih, kalau ditotal semua sekitar tiga jutaan. Kalau opname lain lagi, kata orang rumahsakit, saya harus kasih uang muka sebesar dua juta rupiah. Nah, saya belum tahu berapa bayarnya jika Oma keluar dari rumahsakit, mungkin bisa lebih dari dua juta rupiah dan itu belum ditambah dengan biaya pengobatan. Saya tidak punya apa-apa lagi, mau gadai sertifikat rumah, ini rumah sudah bukan milik saya lagi, sejak setahun yang lalu Pemda memperingatkan kami untuk pindah dari sini karena tanah di rumah ini masuk dalam tanah bantaran kali yang bebas bangunan. Entah kapan kami akan digusur. Mak Palal satu-satunya harapan Opa, dia dukun beranak yang Opa rasa bisa menyembuhkan Oma.” Tuturnya. Di dalam mata tuanya aku tahu ada kilatan bening yang samar mengambang di situ.
“Opa mau saya buatkan Jakesda? Semacam asuransi kesehatan gratis dari Pemda?” tanyaku.
“Apa syaratnya?”
“Hanya KTP dan Kartu Keluarga.”
Opa tercenung. “Kartu keluarga saya sudah hanyut terbawa air kali Ciliwung waktu banjir tahun lalu. Kalau KTP sih ada.”
“Baiklah akan saya usahakan, nanti saya minta salinan KK Opa di kelurahan. Mudah-mudahan dengan Jamkesda Oma bisa dirawat di rumah sakit, ya.”
Satu hari kugunakan untuk mengurus Jamkesda. Ketika surat jaminan berobat gratis itu jadi dan aku mengantarkan Oma ke rumah sakit yang dirujuk, hasilnya sungguh mengecewakan, semua kelas tidak ada yang kosong, alasannya penuh. Aku membawa Oma ke rumah sakit lainnya yang juga bisa menerima Jamkesda, jawaban tetap sama, andai pun ada, isteri Opa itu diminta menunggu satu minggu lagi dan harus menginap di rumah sakit tanpa jaminan asuransi kesehatan. Opa tampaknya mulai putus asa, tatkala kuajak ia ke sebuah rumah sakit yang letaknya agak di luar kota, ia terlihat lesu. Kondisi Oma yang semakin memburuk juga membuatnya tak bersemangat lagi mencari rumah sakit yang mau menerima asuransi untuk orang miskin itu.
“Sudahlah Nak Ani. Tak perlu repot-repot lagi. Tadi malam Mak Palal datang ke rumah. Setelah dia memeriksa perut Oma, katanya di dalam perut ada paku sepanjang lima senti meter yang berputar-putar mengelilingi perutnya. Paku itu yang menyebabkan oma selalu mengeluarkan darah.” Opa Panjul berkata dengan serius.
Aku termenung.
Keesokkan harinya, kukuras isi tabunganku tanpa sepengetahuan suamiku, kubawa Oma ke rumah sakit lumayan mahal yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Kuperintahkan pihak rumah sakit untuk memeriksa apa penyakit wanita tua yang perkasa ini. Hampir sehari penuh aku dan Opa menungguinya melakukan chek-up kesehatan secara keseluruhan. Hasilnya sungguh membuat jantungku berdebar. Sel-sel kanker sudah menjalar ke kandungannya. Jika kandungan itu diangkat, dipastikan hidup Oma tak bertahan lama, sel itu akan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Dokter menyuruhku membawanya pulang, mereka lepas tangan. Andai operasi pun, biayanya puluhan juta rupiah karena sebelumnya harus dilakukan biopsi sel-sel kanker terlebih dahulu. Aku tidak berani menjelaskan secara rinci tentang penyakit Oma pada suaminya. Kubiarkan Opa Panjul tetap bersikukuh kalau paku yang ada di perut Oma, memang sedang berjalan-jalan ke sana ke mari. Sama persis seperti yang dikatakan Mak Palal.
“Saya sudah tahu siapa yang menempatkan paku di perut isteri saya. Mak Palal juga sudah tahu. Sebenarnya yang dituju saya, tapi tidak kena ke saya. Saya punya penangkalnya.” Kata Opa Panjul saat perjalanan pulang.
Tiba di rumah, Opa Panjul memperlihatkan paku yang ada dalam hasil rongsen isterinya. Ia tak tahu kalau titik-titik hitam itu adalah sel-sel kanker yang berkembang biak dengan cepatnya. Sekali lagi, kuurungkan menjelaskan semua itu padanya. Aku tak mau lelaki tua yang kuyakin sangat mencintai isterinya ini sedih. Kemudian aku mulai merangkai-rangkai kata-kata agar ia tidak curiga. “Kalau boleh tahu siapa orang yang mengirimkan paku itu ke perut Oma?”
“Opa rasa orang-orang Pemda. Mereka menyuruh Opa pindah dari rumah yang sekarang kita tempati. Dia berkali-kali datang ke rumah. Kemarin bahkan datang mengancam hendak membuldoser tempat tinggal kami. Pas Opa keluarin pedang dan celurit, mereka kabur…” Opa Panjul terkekeh. Dan aku meringis.
Ketika Oma Panjul akhirnya meninggal, rahasia penyakitnya masih tetap kusimpan rapi. Aku mendengar kisah paku yang melanglangbuana di perut isterinya yang ia ceritakan pada setiap pelayat dengan perasaan tak menentu. Tapi biarlah begitu. Biarlah dengan demikian beban lelaki tua yang ditinggal mati isterinya karena kanker rahim itu sedikit terangkat. Suatu saat, jika hatinya telah tenang akan kuceritakan. Jadi, tatkala isu tentang paku dan bumbu-bumbu cerita yang menyertainya berkembang pesat di sekitar tempat tinggalku, aku diam saja. Aku membiarkan paku itu tetap ada di benak Opa Panjul, sebab Jamkesda yang kuurus sudah tak berguna lagi.
Fanny J.Poyk
Depok, Februari 2012
Pernah Dimuat di Suratkabar Jurnal Nasional