suluhnusa.com – Petani Cemas. Resah juga gelisah. Tanaman padi dan jagung banyak yang layu. Nyaris mati saat ini, akibat kekurangan air. Ancaman gagal panen dan rawan pangan menghantui. Petani pasrah. Kekeringan melanda dibeberapa daerah, terlebih di pesisir Kabupaten Lembata.
Wilhelmus Koda, Petani asal Desa Todanara, 26 Februari 2020, pun ikut cemas. Hujan tak kunjunh turun. Sementara tanaman jagung dan padi yang sudah ditanam mulai berbunga dan layu perlahan.
“Jagung sudah berbunga. Hujan tidak turun. Dan kasihan jagung. Padi juga. Bisa mati kalua hujan tidak turun lagi,” ungkap Koda.
Desa Todanara adalah salah satu desa dipesisir Ile Ape. Akibat hujan yang tak kunjung turun, petani pun tidak bisa menanam tanaman pengganti misalnya kacang tanah, kacang panjang, dan kacang hijau maupun tanaman pengganti lainnya.
Kekeringan yang melanda petani Lembata ini, mendapat perhatian serius dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mathias A.K.Beyeng, yang ditemui suluhnusa.com, 26 Februari 2020 sore di ruangan kerjanya menjelaskan, secara kasat mata curah hujan di tahun 2020 sangat kurang. Saat ini pihaknya sudah menghimbau kepada semua tenaga lapangan pertanian yang tersebar di desa desa untuk tidak meninggalkan petani sendirian.
“Kita menghimbau dan memberikan pnegasan kepada para tenaga lapangan pertanian yang tersebar di semua desa, untuk tetap bersama sama dengan petani, mencari jalan keluar dan tidak boleh meninggalkan petani menghadapai persoala ini sendirian,” ungkap Mathias.
Lebih jauh Mathias membeberkan, berdasarkan pengamatan curah hujan yang rendah terjadi Idi daerah pesisir yakni Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, Pesisir Buyasuri dan Omsuri serta Pesisir Nubatukan.
Sementara Atadei, Nagawutun, Wulandoni, dataran tinggi Nubatukan, dataran tinggi Lebatukan, dataran tinggi Omesuri dan Buyasuri curah hujan masih normal.
Dengan kondisi curah hujan yng demikian, Lembata terancam gagal panen ?
“Untuk menyatakan gagal panen atau rawan pangan bukan kewenangan pihak dinas pertanian. Kami sedang mengumpulkan data untuk dilaporkan kepada Pengamat organisme Pengganggu Tanaman (POPT) untuk menentukan gagal panen, rawan pangan atau tidak. Selain dilaporkan kepada POPT, data tersebut akan dilaporkan juga kepada Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur untuk mengambil langkah langkah strategis dan solutif,” ungkap Mathias.
Mathias juga membeberkan dengan kondisi curah hujan yang kurang, berakibat pada target produksi.

Sebelumnya diberitakan media ini, Musim tanam 2019/2020 dengan curah hujan terlambat membuat dinas pertanian dan ketahanan pangan kabupaten Lembata memiliki strategi untuk meyakinkan petani.
Dukungan terhadap peningkatan produksi maka Dinas Pertanian melakukan pembajakan lahan pertanian sebesar 700 hektar, expansi lahan baru 70 hektar, sawah 12 hektar dan pengadaan sumur bor 10 hektar.
Jagung hibrida 3500 hektar, jagung komposit baik dari kabupaten maupun propinsi 515 hektar. jagung dengan pola tumpang sari. Padi ditumpangi jagung seluas 500 hektar.
Padi lahan kering 1000 hektar. Padi lokal merah 5 hektar. Beras hitam 5 hektar. Sorgum 10 hektar. Kacang tanah 10 hektar.
sandro wangak
