Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry- Bagian VI
Saya mencoba tertidur tetapi tidak terlelap, tiba-tiba saya merasakan sesuatu menyentuh pinggang saya, saya mengapai benda itu dan ternyata adalah kaki mayat korban yang mengapung. Saya tidak merasa takut sama sekali hanya merasa jijik sehingga saya putuskan untuk berenang ke arah titik gumpalan hitam yang saya sudah tandai sebelum tidur sekalian menjauh dari mayat itu.
suluhnusa.com-Saya terbangun akibat teriknya matahari dan ombak yang sudah mulai meninggi. Saya melihat jam tangan mido yang saya ambil dari Almarhum Pak Derek sudah menunjukkan pukul 9.45 Wita.
Saya memandang ke arah daratan dengan sangat gembira oleh karena jarak bibir pantai hanya sekitar 250 meter saja. Bibir pantai semakin nyata terlihat. Bukit yang di pulau itu gersang yang hanya ditumbuhi semak belukar yang pendek semakin nyata dalam penglihatan saya. Ranting pohon pun sudah terlihat dengan jelas.
Dalam hati saya tidak memiliki keraguan lagi akan tiba di pantai secepatnya sehingga saya mulai santai. Hati saya riang gembira sehingga saya berfikir bahwa kalau nanti sampai di daratan saya akan menuju ke Hotel Pantai Timor dan setelah 2 minggu barulah saya tiba tibamenampakkan diri ke khalayak umum bahwa saya sudah ada di daratan. Begitulah rencana saya.
Ombak dan angin bertiup kearah ke daratan membuat saya semakin yakin akan secepatnya sampai ke pantai sehingga saya tidak perlu berenang apalagi lengan tangan saya terasa sangat sakit dan bengkak akibat bergesekan dengan pelampung selama berenang.
Saya mengangkat lengan memperhatikan lengan atas dekat ketiak kiri dan kanan ternyata sudah terluka. Lukanya berwarnanya putih akibat terkena air garam tetapi saya tidak peduli dengan luka itu karena saya sudah sangat yakin akan selamat sampai ke pantai.
Saya memperhatikan sekeliling, pada jarak kira kira 20 meter arah selatan terdapat sebuah drum besar yang berukuran 200 liter. Saya berenang ke arah drum itu dan berusaha duduk di atasnya tetapi tidak bisa karena setiap kali saya naik, drum itu berputar sehingga saya hanya berpegangan pada drum itu.
Kalau saya perhatikan, drum itu kira-kira berisi minyak pelumas. Mungkin karena saya sudah terlalu yakin akan selamat maka saya mulai berfikir bahwa kalau sampai di pantai Air Cina, saya akan menjual pelumas ini Rp. 15.000,- per liter di kali 200 liter maka hasilnya Rp. 3 juta padahal harga sesungguhnya Rp. 25.000 per liter di pasaran. Fikiran ini menghibur saya sehingga saya senyum senyum sendiri.
Saya terhanyut bersama drum itu ke arah pantai didorong oleh ombak dan angin. Semakin lama semakin dekat ke pantai dan bibir pantaipun semakin jelas saya lihat.
Pada jarak kira kira 75 meter ke bibir pantai, saya sangat kaget melihat bibir pantai yang ternyata bukan pasir melainkan tebing karang yang sangat curam hampir tegak lurus 90 derajat dengan ketinggian kira kira 20 sampai 30 meter.
Saya terkesima melihat tebing karang itu. Lagi-lagi saya mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberi waktu atau timing yang tepat. Seandainya saya tiba di pantai di saat nalam yang gelap sudah dapat dipastikan bahwa saya pasti tewas karena akan dihempaskan ombak ke tebing itu kemudian saat air surut, saya akan terhisap ke lubang-lubang karang yang ada di bawahnya. Sungguh besar kasih Tuhan yang selalu menyertai saya dalam perjalanan ini.
Saya melepaskan drum pelumas itu kemudian berenang ke arah utara mengikuti alunan ombak yang panjang dengan maksud mencari di mana ada bibir pantai yang berpasir sebagai tempat untuk mendarat. Mustahil mendarat di tebing curam.
Untuk menghindari gesekan lengan atas saya yang terluka dengan pelampung, maka pelampung saya dorong ke antara perut dan dada kemudian saya tengkurap dan berenang, namun lengan saya masih terasa sangat perih saat digerakkan tetapi saya tidak peduli dan tetap berenang menyusuri pantai.
Saat saya berenang di pesisir pantai, saya selalu usahakan supaya tidak terlalu dekat ke pantai karang jadi jarak saya dengan bibir pantai saya pertahankan kira-kira sekitar 50an meter dari bibir pantai yang penuh dengan karang itu. Hal ini dimaksudkan supaya tubuh saya jangan terhempas oleh ombak yang mengalun ke tebing karang. Kalau terlalu dekat pasti tubuh saya akan terhempas.
Selama berenang di bibir pantai, saya tidak pernah melihat rumah masyarakat. Hal ini sangat wajar karena masyarakat Timor tidak memiliki kebiasaan bermukim di tepi pantai seperti masyarakat Bugis, Mandar, Makasar atau Bajo.
Saya mulai ragu kalau saya bukan berada di pantai Air Cina karena di Air Cina ada sebuah gereja di tepi pantai yang bisa dilihat dari jauh dan banyak pula perahu-perahu nelayan di sana sementara di pantai ini sama sekali tidak tampak adanya tanda tanda hunian penduduk.
Di kejauhan pada bagian utara saya melihat hutan mangrove sehingga saya berkeyakinan bahwa di sana pasti ada pasir karena tidak mungkin mangrove bisa tumbuh di pantai yang berkarang.
Saya berenang terus ke arah mangrove itu dan saya tidak lagi menggunakan jam saat berenang karena saat itu semangat saya benar-benar tinggi dan tenaga saya sangat prima. Itu mungkin terjadi karena hati saya sangat senang sudah bisa mendarat walau masih mencari tempat pendaratan.
Semakin lama semakin dekat ke hutan mangrove itu, kemudian samar-sangat saya melihat sesuatu yang bergerak di dekat hutan mangrove itu yang ternyata adalah seseorang yang sedang memancing ikan. Orang itu berdiri di atas kayu mangrove yang sudah tumbang sambil memancing.
Saya berteriak ke Arah orang itu. “Huuuu……iiiiii….. Hooooo…. Toloooong….”, tetapi orang itu tidak bergeming mungkin tidak mendengar suara saya karena terhalang oleh suara ombak yang bising. Saya berenang lebih dekat lagi dan kemudian saya melihat pantai berpasir yang hanya memiliki lebar sekitar 15 meter tetapi saat ombak menghempas pantai, bibir pantai berpasir itu tidak kelihatan karena pada bagian atasnya terdapat batu karang tua yang hitam.
Saya berteriak lagi ke arah orang lagi memancing itu berkali2. Orang itu berdiri kemudian seakan2 memperhatikan dari mana asal suara teriakan kemudian org tsb sudah melihat posisi saya.
Orang itu berlari dan melompat di antara batu2 besar di pinggir hutan mangrove kemudian dia menuju ke daratan yang ditumbuhi rumput tundra.
Orang itu rupanya berlari turun ke arah Setelah pasir putih yang saya lihat sbg tempat untuk mendarat. Org itu memberi lambaian seakan-akan memberi isyarat kepada saya untuk mendarat di tempat yang aman itu. Rupanya apa yang saya rencanakan itupula yang direncanakan orang tsb.
Saat orang itu memberi isyarat untuk mendarat, saya tidak langsung berenang menuju ke sana karena perkiraan saya bahwa di depan pasir itu kemungkinan terdapat karang hidup yang tajam.
Perlu diketahui bahwa pantai di daratan Timor yang tidak berpenghuni biasanya masih utuh, karang masih hidup dan sangat indah untuk wisata surfing. Ombak yang ada di sana tidak sebesar ombak yang ada di Sulawesi. Di sana, ombak sangat tinggi saat air pasang dan interval pasang surut sangat tinggi.
Saat saya terangkat ke atas oleh alunan ombak, saya melihat ke pantai berpasir itu ternyata sudah ada 5 orang yang menunggu saya di sana dan semuanya laki-laki. Oleh karena semuanya laki2 maka saya berkesimpulan bahwa pantai ini pasti jauh dr permukiman warga karena tak ada perempuan di antara kelima org tsb.
Perhitungan saya bahwa kalau saya dihempas oleh hanya 2 atau 3 gulungan ombak maka pasti saya akan terbawa kembali oleh arus ombak keluar dari bibir pantai. Olehnya itu saya harus menghitung gulungan ombak dari arah belakang. Kalau sudah ada gulungan ombak sampai minimal 5 maka saya akan segera mengerahkan seluruh tenaga berenang bersama gulungan ombak agar bisa langsung sampai di bibir pantai paling atas. Seperti itulah perhitungan saya.
Dari arah belakang saya melihat ada sekitar 6 gulungan ombak. Yang di depan pertama agak kecil kemudian di susul yang agak besar dan lebih besar lagi. Ombak pertama saya biarkan mendorong saya sedikit dan pas terkena ombak kedua, saya berenang sekuat tenaga bersama ombak kedua, ketiga dan berikutnya dan tiba-tiba lengan saya ditangkap oleh orang yang menunggu saya di bibir pantai.
Saya langsung berdiri dan berjalan tetapi orang orang itu memegang lengan saya kiri dan kanan sakit sekali. Saya menjerit dan minta supaya lengan saya dilepas. Mereka melepaskannya kemudian saya mengangkat lengan baju yang saya pakai dan memperlihatkan ke mereka luka berwarna putih akibat rendaman garam di luka tsb.
Mereka akan menggotong saya ke atas tetapi saya tidak mau. Saya sampaikan bahwa saya masih kuat jadi biarkan saya berjalan sendiri.
Saya berjalan ke atas batu karang yang cukup datar bersama mereka kemudian di sana ada air yang tergenang di atas batu karang. Salah seorang di antara mereka menyuruh saya berbaring di dalam air yang tergenang itu tetapi saya menolak tetapi orang itu berkata : “Bapak dong baring di air ini su biar hangat”. Masuk akal juga menurut fikiran saya bahwa pasti air tergenang ini panas karena terkena radiasi panas matahari.
Akhirnya saya berbaring di dalam air itu sehingga badan saya terasa hangat dan nyaman, kemudian mereka semua menumpangkan tangan di atas tubuh saya, ada yang di kaki, perut dan dada kemudian seorang yang sudah tua dengan kumis dan jenggot panjang beruban memegang kepala saya kemudian berbicara dalam bahasa mereka yang saya sama sekali tidak mengerti bahasa itu. Jadi dalam fikiran saya mungkin mereka sedang berdoa buat saya menggunakan bahasa mereka.
Setelah itu, saya duduk sesaat dan merasakan air itu ternyata tidak asin. Saya membasuh wajah dengan air itu, membasuh kepala lalu air itu saya pakai berkumur2 beberapa kali kemudian saya berdiri. Saya merasa haus tetapi tidak ada niat meneguk air itu.
Orangtua berjenggot itu berkata : “Bapak, katong ke atas sa, di atas ada pohon untuk berteduh”. Saya ikuti mereka berjalan menuju ke pohon yang ada di atas daratan. Ternyata pohon itu adalah pohon duri yang cukup rindang.
Tanah di bawah pohon itu datar dan teduh. Saya duduk bersila sambil bersandar ke pohon itu, kemudian orang orang itu duduk melingkari saya. Mereka berdiskusi dalam bahasa mereka yang saya tidak tahu artinya sambil masing2 mereka mengeluarkan plastik dari saku mereka yang ternyata isinya adalah tembakau dan daun jagung.
Mereka menggulung tembakau dengan daun jagung untuk dirokok, lalu saya mengulurkan tangan ke Bapatua Jenggot dan meminta supaya rokok tsb untuk saya dengan berkata : “Bapa, ini rokok untuk beta su e…”.
Bapatua : “na pake su”.
Sementara Bapatua menyodorkan rokok tsb tiba tiba orang yang di sebelah kiri saya merogoh saku bajunya dan mengeluarkan rokok Dji Sam Soe kemudian menyodorkan kepada saya sambil berkata : “Bapak pake ini sa”.
Saya : “na biar beta pake Bapatua pung rokok sa”.
Orang tsb cukup antusias dan berharap supaya rokok Dji Sam Soenya saya pake sehingga saya menhambil rokok itu dan membukanya ternyata isinya sisa sebatang sehingga saya mengembalikan rokok tersebut ke orang itu. Orang itu mengeluarkan rokok tersebut dari bungkusannya kemudian menyodorkan kepada saya. Sayapun mengambil rokok itu karena kalau tidak diambil maka pasti mereka menganggap saya tidak sopan sesuai adat istiadat masyarakat Timor.
Saya menaruh rokok itu di bibir kemudian salah seorang di antaranya menyodorkan pemantik tua yang mirip pemantik merek Zippo, kalau orang Rote menyebutnya Zippo Bugis yaitu pemantik yang diisi dengan kapas dengan bahan bakar minyak tanah. Saya menyalakan pemantik itu kemudian membakar rokok Dji Sam Soe tsb lalu saya isap dalam-dalam.
Saya isap berkali kali dengan durasi tinggi supaya asapnya mengepul. Saat asap rokok itu mengepul, saya hembuskan keluar dengan penuh rasa nyaman dengan gaya cool kemudian berkata : “Bapak bapak dong, selama beta di laut, beta sonde pernah tersiksa karena haus atau lapar. Beta sangat tersiksa karena sonde ada rokok. Beta ada uang di saku ma katong mau beli di mana o..” (selama saya di laut, saya tidak pernah tersiksa karena lapar dan haus. Saya tersiksa karena tidak pernah merokok. Saya masih punya uang di kantong tetapi mau beli rokok di mana ya?”.
Kelima orang itu tertawa terpingkal-pingkal bahkan dua orang di antaranya tertawa sambil memegang perut. Kemudian ada di antara mereka bertanya : “Bapak, di laut ada harim ju ko?” (Bapak, apakah ada cewe di laut).
Saya : “ada ma sonde suka”.
Mereka : “ko kenapa son suka”.
Saya : “Ko babau na”. (Berbau).
Orangtua : “ko su mati na pasti babau su” (orang yang sudah mati pasti berbau).
Kami bergurau cukup lama, mungkin mereka sengaja supaya saya terhibur. Selama bergurau itu, saya memeriksa dompet yang isinya masih lengkap. HP saya juga masih ada. Saya berharap HP ini bisa diperbaiki karena di dalam HP ini banyak sekali foto-foto yang saya ambil menjelang kapal tenggelam sehingga HP tersebut saya harus jaga baik-baik. Di saku belakang celana saya juga masih tersimpan cincin giok dan cincin kawin milik Pak Derek, kemudian jam tangan milik Pak Derek masih tetap terkunci di lengan kiri saya dan masih berfungsi dengan baik.
Setelah puas beristirahat sambil bergurau dengan mereka, saya berbicara kepada mereka dalam bahasa halus : “Bapak dong, bosorang bisa cari kasi beta taxi ko?” (Bapak-bapak, apakah ada yang bisa pergi memesan taxi buat saya?).
Saya kaget karena lagi lagi mereka tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Orangtua berjanggut itu tertawa sampai terantuk-batuk. Kemudian salah seorang di antaranya berkata : “ko Bapak fikir ini tempat ada di mana ko?”.
Saya : “Ini di Air Cina ko kakak?”. Lagi lagi mereka tertawa sampai ada yang berteriak-teriak.
Bapatua : “Bapak sering ke Rote ko?”.
Saya : “Iya Bapak. Ko beta kerja di sana su empat tahun. Anak bini ada di sana”.
Bapatua : “Bini orang Rote ko?”.
Saya : “Sonde Bapak. Bini orang Toraja”.
Bapatua : “Anak dong orang Sumba ko?”.
Saya : “Bata ju orang Toraja Bapak”.
Bapatua : “Anak dong su pernah pi Pulau Semua ko”.
Saya : “Pernah satu kali tahun 2001, waktu itu beta tugas dinas bersama dengan Pak Tian Dillak Bupati Rote Ndao sekarang yang waktu itu dia masih Asisten di Kabupaten Kupang.
Bapatua : “Na kalau anak dong sering lalu lalang pi Rote na coba lihat pi sana”.
Sambil menunjuk ke satu pulau yang panjang tetapi sempit,
“itu pulau apa dia pung nama”.
Saya : “son tau Bapak”.
Bapatua : “itu dia pung nama Pulau Tabuy”.
Saya kaget dan bertanya : “jadi ini pulau Semau ko?”.
Orangtua : “Iya. Ini Pulau Semau dan nama kampung di sini adalah Uihtuituan dan ini pantai namanya Pantai Liman”.
Tadinya saya cukup bersemangat karena berfikir bahwa saya sudah sampai di Air Cina dan bisa naik taxi ke Kupang kemudian bersembunyi selama dua minggu di Hotel Pantai Timor tetapi setelah tahu bahwa saya ternyata terdapar di Pulau Semau di pantai Liman yang jaraknya cukup jauh dari pelabuhan tradisional warga Semau yang mana pelabuhan tradisional ini sbg tempat menyeberang ke Kota Kupang maka saya menjadi agak kecewa dan loyo.
Selama saya di Kupang dan Rote sejak Tahun 1999 sampai 2006, saya selalu berpetualang ke berbagai tempat dan pulau karena di sana terdapat ratusan pulau yang belum berpenghuni sehingga banyak sekali misteri alam yang belum banyak diketahui orang. Laut yang ganas menyimpan berbagai misteri sehingga terkadang saya dengan teman teman menyusuri pantai dan menyeberangi lautan hanya untuk bisa mengenal sedikit misteri tentang pulau-pulau tak berpenghuni itu.
Sekilas tentang pulau Tabuy, saya dan teman-teman sudah pernah membuat rencana akan ke sana tetapi belum kesampaian. Menurut cerita rakyat bahwa pulau ini sangat misterius karena sepanjang pantainya sebelah utara penuh dengan tulang belulang dan tengkorak manusia sehingga pulau ini sering juga disebut Pulau Setan.
Jadi, kalau dihubungkan dengan kejadian saat saya berenang di waktu malam terakhir bahwa saya melihat cahaya lampu, kemungkinan besar itu berasal dari Pulau Tabuy dan suara-suara orang bertengkar tersebut kemungkinan suara makhluk halus yang ada di pulau itu (Kalau dihubungkan dengan kesaksian masyarakat sekitar).
Menurut warga Uihtutuan yang paling dekat ke Pulau Tabuy bahwa terkadang juga mereka melihat cahaya berwarna merah di pulau itu seakan2 ada yang memakai obor di sana.
Jadi kesimpulan saya bahwa pada tadi malam saya berenang di sisi utara pantai Pulau Tabuy. Kuasa Tuhan sehingga saya tidak terdampar di pulau Tabuy malam itu karena seandainya mendarat di sana kemungkinan saya tidak akan selamat.
Mengapa tidak selamat, karena Pulau Tabuy adalah pulau tak berpenghuni dan di sana tidak ada air yang bisa dikunsumsi. Saya bisa dehidrasi dan TEWAS di sana.
Bagaimana saya sampai di permukiman penduduk dan sampai di RS TNI di kupang. ***