KUPANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTT terus menggalakan program literasi yang menyasar peningkatan ketangguhan masyarakat petani dalam menghadapi dampak perubahan ancaman iklim salah satunya dengan terus menggalakan Sekolah Lapang Iklim (SLI).
Untuk mendukung hal itu, Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (Cirma) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTT menandatangani MOU (Memorandum of Understanding) nota kesepakatan perjanjian kerja sama Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang akan segera di gelar di Timor Barat dengan melibatkan 6000 petani kecil di 30 desa di Kabupaten Malaka, TTU, TTS, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
Penandatangan itu di lakukan di puncak sumber mata air Oel Neneno Kelurahan Bello Kota Kupang pada sela-sela peluncuran Program Penanaman Bibit Pohon di sumber mata air Bello Kamis, 13 Maret 2025.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II NTT, Rahmattulloh Adji mengatakan, BMKG berkolaborasi dengan Lembaga Cirma NTT termasuk berbagai pihak untuk melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI). Kolaborasi ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman petani dan penyuluh pertanian terhadap informasi iklim.
“Sekolah Lapang Iklim (SLI) merupakan salah satu upaya BMKG dalam meningkatkan literasi iklim dan desiminasi informasi iklim untuk petani. Hal ini sesuai Intruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2011, yaitu pengamanan produksi beras Nasional dalam menghadapi kondisi iklim ekstrim,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, Sekolah Lapang Iklim sejalan dengan program Nawacita, untuk mewujudkan kemandirian ekonomi.
Sementara, John Mangu Ladjar Direktur Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (Cirma) NTT pihaknya dan BMKG mengambil tempat di Sumber Mata Air Oen Neneno dan Oel Nepaut karena Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang juga masuk dalam peogram pendampingan petani kecil.
“Benar kalau hari ini penanaman bibit pohon di sumber mata air yang ada di Bello sini sekaligus dilakukan penandatangan nota kesepakatan kerjasama untuk kegiatan Sekolah Lapang Iklim di Timor Barat bagi 6000 petani kecil yang ada di 30 desa kira-kira seperti itu,” jelas Ladjar.
Sambil berharap dengan adanya sekolah lapang iklim bagi petani nantinya petani bisa mendapatkan informasi iklim untuk pertanian demi
mendukung ketahanan pangan serta informasi bagaimana petani dapat menyesuaikan strategi dan pola tanam pada saat terjadi iklim ekstrim. +++goe
