LEWOLEBA – Masyarakat adat dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan dukungan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan Yayasan Bina Sejahtera Baru menggelar Festival Muru 2026.
Festival bertajuk “Festival Muru: Merawat Pesisir dan Melestarikan Budaya” ini berlangsung selama dua hari, 22–23 April 2026, sebagai upaya menjaga ekosistem laut sekaligus memperkuat identitas budaya konservasi masyarakat pesisir Lembata.
Berdasarkan penilaian risiko dampak perubahan iklim 2020, Kabupaten Lembata menghadapi ancaman abrasi, ancaman kehilangan atau kerusakan ekosistem seperti rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove serta terjadi peningkatan suhu di pesisir.
Nelayan menghadapi kondisi semakin jauh jarak untuk menangkap ikan dan waktu melaut yang sangat pendek.
Untuk menjawab tantangan tersebut MURO merupakan salah satu sistem konservasi laut dan pesisir berbasis kearifan lokal yang telah menjaditradisi adat turun-temurun masyarakat Lembata yang berfungsi sebagai sistem konservasi laut dan pesisir berbasis kearifan lokal.
Melalui aturan adat, Muru mengatur pemulihan ekosistem dengan sistem zonasi dan waktu pengambilan hasil laut sesuai dengan periode yang telah disepakati, sehingga keberlanjutan sumber daya tetap terjaga. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kearifan ekologis masyarakat adat, tetapi juga simbol harmoni antara manusia dan alam.
Di tengah tantangan global seperti degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam, Muru menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menawarkan solusi nyata bagi konservasi berkelanjutan. Nilai-nilai dalam Muru sejalan dengan prinsip konservasi modern, seperti partisipasi masyarakat, perlindungan ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya.
Festival Muru 2026 hadir sebagai ruang edukasi, refleksi, sekaligus perayaan atas praktik konservasi berbasis budaya ini. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga laut dan pesisir, festival ini juga bertujuan memperkuat peran masyarakat adat dalam pelestarian budaya serta mendorong peningkatan ekonomi lokal melalui pemanfaatan hasil secara berkelanjutan.
Pada hari pertama, Rabu, 22 April 2026, festival diawali dengan kegiatan trekking atauJelajah lintas alam menyusuri wilayah konservasi Muru untuk melihat langsung praktik konservasi pesisir. Kegiatan berlanjut dengan pelepasan terumbu karang buatan atau Bioreeftek di lokasi Muro sebagai upaya rehabilitasi ekosistem laut.
Sebanyak 95 terumbu karang buatan ditanam, serta aksi bersih pantai dan penanaman 400 pohon mangrove sebagai bentuk nyata kepedulian lingkungan.
Hari pertama juga dimeriahkan dengan pentas seni budaya pesisir oleh kaum muda dan pasar lokal yang menyajikan kuliner, suvenir, serta hasil laut masyarakat.
Pada hari kedua, Kamis 23 April 2026 Festival Muru diisi dengan diskusi bersama Komite Muru dan Kaum Muda yang bertema “Muru sebagai Identitas Budaya Lokal Masyarakat Lembata dalam Konservasi Laut dan Pesisir Berkelanjutan”.
Selain itu, diselenggarakan pendidikan konservasi laut dan pesisir bagi murid SLTP/MTs dan SLTA, serta berbagai lomba kreatif, seperti lomba menggambar, lomba cipta puisi, dan perlombaan teater yang menggambarkan proses budaya menutup dan membuka Muro. Kegiatan hari kedua ditutup dengan lanjutan pentas seni budaya dan pasar lokal.
Melalui Festival Muru 2026, diharapkan masyarakat desa, nelayan semakin aktif dalam menjaga dan melestarikan konservasi pesisir berbasis adat. Anak-anak dan kaum muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai laut sebagai sumber penghidupan, sekaligus pewaris nilai-nilai Muru.
Festival ini juga ditargetkan menghasilkan data dan informasi hasil trekking/jelajah wilayah konservasi Muru, meliputi potensi keanekaragaman hayati, kondisi lingkungan, dan peluang pengembangan konservasi serta ekowisata di wilayah pesisir Lembata.
Resource Mobilization and External Relation Director Plan Indonesia, Urip Budiarto dalam sambutannya menyampaikan: “Dengan melibatkan anak-anak dan generasi muda dalam Festival Muru, kita sedang menanamkan nilai cinta lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Dampak perubahan iklim di pesisir sangat nyata, kita tidak ingin kaum muda kita menghadapi dampak yang lebih luas, sehingga harapan kami kaum muda dapat belajar dan menjadi penggerak di pesisir untuk masa depan yang lebih baik.
“Plan Indonesia melihat Muru sebagai contoh nyata bagaimana perlindungan lingkungan dan pemenuhan hak anak dapat berjalan seiring dalam konteks budaya masyarakat adat.”ungkap Budiarto.
Festival Muru diharapkan menjadi momentum kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, pelajar, pelaku usaha, dan wisatawan dalam menjaga laut dan pesisir, sekaligus memperkenalkan Lembata sebagai destinasi budaya dan ekowisata berbasis kearifan local, jelas Urip.
Sementara itu, Kornelia Penate, Ketua YBS Baru, Lembata juga menegaskan, bahwa “Festival Muru ini adalah bentuk penghargaan kita pada budaya melalui partisipasi masyarakat adat, nelayan, kaum muda perempuan dan pemerintah desa yang telah mendorong konservasi Muru ini berjalan dengan baik tanpa meninggalkan esensi dari budaya itu sendiri, harapanya bahwa zona-zona ini dijaga dan dikembangkan dengan lebih baik, konservasi Muro ini adalah investasi, mari kita bersama sama melanjutkan untuk menjaga laut dan pesisir dari ancaman apapun.+++
alfred/sandro.wangak
