KUPANG – Dukungan Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asissi Kolhua, RD Longginus Bone, menjadi sorotan dalam pelaksanaan Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional tingkat Kelurahan Kolhua dan Bello yang digelar pada 5–6 Desember 2025.
Selain menyediakan aula dan pelataran gereja sebagai lokasi kegiatan, Romo Dus juga menyiapkan sembilan unit piala secara khusus bagi para pemenang lomba sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan anak-anak di wilayah Kota Kupang.
Festival yang melibatkan ratusan siswa SD dan SMP dari Kota Kupang tersebut berlangsung meriah selama dua hari. Anak-anak berkompetisi dalam sejumlah permainan tradisional seperti sikidoka, galasing, gasing kayu, dan tali merdeka. Kehadiran pihak gereja sebagai tuan rumah disebut memberi suasana hangat serta ruang aman bagi anak-anak untuk belajar sportivitas dan kebersamaan.
Ketua Panitia, Johnny Eduard Rihi, S.Pd, mengapresiasi peran besar Pastor Dus Bone sejak tahap persiapan hingga penutupan kegiatan.
“Romo Dus tidak hanya membuka fasilitas gereja, tetapi juga menambah semangat anak-anak dengan menyediakan sembilan piala. Ini bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi upaya pelestarian permainan rakyat,” ujarnya di sela kegiatan.
Apresiasi yang sama disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kabid Dikdas, Okto Naitboho. Ia menilai dukungan Pastor Dus Bone menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan maupun sekolah dan pemerintah, tetapi juga dapat dikuatkan oleh peran tokoh agama dan komunitas lokal.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Romo Dus atas kepedulian beliau. Anak-anak peserta lomba mendapatkan ruang untuk berkembang, dan ini selaras dengan arah pembinaan pendidikan dasar di Kota Kupang,” tutur Okto.
Ketua KPOTI NTT, Sandro Wangak melalui Ketua Kota Kupang sekaligus penyelenggara kegiatan, Gregorius Takene, SE, menegaskan bahwa kehadiran permainan rakyat bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan sarana membangun karakter generasi muda di tengah maraknya permainan digital.
“Antusiasme anak-anak menunjukkan bahwa permainan tradisional tetap hidup dan relevan. Dengan dukungan gereja dan pemerintah, kegiatan ini akan terus menjadi ruang pembelajaran bersama,” katanya.

Festival ini turut didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVI NTT, K3S Kota Kupang, Pemerintah Kecamatan Maulafa, serta para lurah Kolhua dan Bello. Sejumlah dinas terkait juga terlibat dalam dukungan teknis, seperti Dinas Pendidikan Kota Kupang, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Sikumna, Dinas Pertanian, dan Dinas Kebersihan Kota Kupang. Kehadiran UMKM lokal selama dua hari pelaksanaan menambah suasana hidup di area lomba.
Dengan komitmen berbagai pihak, festival ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus membentuk karakter anak-anak Kota Kupang.+++goe.t/sw
