suluhnusa.com_Tanpa seni hidup kita akan miskin dengan pengalaman batin.
Demikian diungkap professor, mantan guru besar pada Institut Kesenian Jakarta Sardono W. Kusuma.
Panorama alam laut dan gunung mengapiti sebuah panggung di taman kota, Larantuka. Sebuah kota kecil nan sempit yang memiliki pesona wisata religi yang sudah terkabar ke pelosok dunia.
Ada panggung permanen di tengah taman kota itu didandan begitu menarik untuk menggelar Festival Seni Budaya tingkat kecamatan se-Kabupaten Flores Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Flores Timur selama dua hari pada tanggal 27 – 29 Agustus 2015.
Kegiatan ini mengusung tema,”Melalui Festival Seni dan Budaya,Flotim menyongsong masa depan yang lebih bermartabat”.
Sebanyak 17 kecamatan menyuguhkan penampilannya terbaik yang mengangkat sebagian besar cerita rakyat masyarakat Lamaholot dalam bentuk seni tari teater dan seni tari.
Kecamatan-kecamatan yang tersebar di pulau Adonara, Solor dan daerah pelosok di daratan Larantuka begitu antusias menghadiri panggung acara. Dari anak muda sampai pada orang tua ikut berpartisipasi mewakili kecamatannya masing-masing meski harus menyeberang dan menempuh perjalanan darat yang jauh dengan biaya yang tidak murah.
Dari wajah mereka terpancar ketulusan dan kerinduan yang dalam akan sebuah ajang berkesenian. Sebuah refleksi berkesenian yang patut diapresiasi masyarakat Flores Timur di tengah keterbatasan infrastruktur dan konflik sosial yang kerap menganggu kenyamanan kehidupan masyarakat Flores Timur.
Peringkat pertama pada Festival Seni dan Budaya Flotim tahun 2015 dari kecamatan Tite Hena menampilkan seni teater yang diadaptasi dari sastra lisan daerah Kisah Penemuan Waireo Sebagi Tetes Terakhir Dahaga Nun Tanah Lewoingu”,Kecamatan Tite Hena.
Cerita ini mengisahkan dua orang kakak beradik. Sang kakak bernama Wulogening Kakang (kakak), seorang petani yang hidup di gunung bermata pencaharian petani dan sang adik bernama Wulogening Aring (adik) yang hidup di berujung pada perkelahian hebat.
Suku Kebelen di Lewoingu berusaha mendamaikan kedua kakak beradik ini namun sang kakak melakukan perlawanan hingga melarikan diri ke daerah Tanjung Bunga. Selang beberapa waktu kemudian suku Kabelen bersama sang adik mencari keberadaan sang kakak, Wulogening Kakang.
Ketika sampai di tempat persembunyian Wulugening Kakang di daerah Tanjung Bunga,mereka tidak menemukan Wulogening Kakang dan hanya mendapatkan seekor anjing. Mereka memutuskan membawa seekor anjing itu kembali ke Lewoingu. Anjing itupun dipelihara Wulugening Aring. Seiring berjalannya waktu, anjing itupun bertambah besar. Suatu ketika anjing itu beberapa kali pulang dari hutan dengan tubuh basah.
Masyarakat Lewoingu merasa ada keanehan karena pada saat itu Lewoingu mengalami kesulitan air. Apa gerangan yang terjadi pada seekor anjing ini? Masyarakat memutuskan menganyam sebuah ketupat dan mengisinya dengan abu dapur untuk melacak jejak anjing tersebut. Masyarakat Lewoingu membuntuti anjing itu hingga sampai pada sebuah mata air yang dinamakan Waireo yang jauh dari perkampungan.
Suku Kebelen memutuskan melakukan seremonial di mata air tersebut dan pada akhirnya mata air itu bertambah besar dan bisa dialirkan ke kampung Lewoingu dan dimanfatkan sampai sekarang.
Uniknya,ketika terjadi konflik di Lewoingu, debet mata air Waireo semakin berkurang. Cerita ini memberikan pesan moral yang bernilai tinggi betapa dekatnya hubungan nenek moyang dengan alam. Setiap adegan bernuansakan tempo dulu dengan dialog berbahasa daerah, berdialek kecamatan Tite Hena yang kental semakin meramaikan suasana dan menggelitik gelak tawa penonton seolah para penonton sedang menertawakan diri sendiri yang semakin menjauh dengan alam.
Kecamatan Adonara Timur yang menempati peringkat II juga menampilkan seni teater yang berjudul “Adonara”. Sebuah cerita masa lampau tentang asal muasal kehadiran manusia pertama di Adonara. Dandanan para pelaku yang sangat identik dengan manusia tempo dulu seolah mengajak para penonton untuk menengok kembali sejarah asal muasal Adonara.
Teater ini menyiratkan pesan sekaligus mengingatkan masyarakat Adonara yang masih rawan dengan konflik perang tanding bahwa sesungguhnya masyarakat Adonara berasal dari satu keturunan yaitu Kelake Ado Pehan dan Kewae Sode Bolen.
Seni tari berjudul “Gae Wata” yang disuguhkan oleh remaja dari kecamatan Kelubagolit berhasil mencuri perhatian para juri dan menjadi peringkat III. Gerakan gemulai dari para penari remaja menceritakan sebuah proses pembuatan jagung titi, salah satu makanan ringan khas dari Adonara yang sudah dikenal hingga ke manca negara.
Tarian ini seolah mengajak masyarakat Lamaholot pada umumnya dan masyarakat Adonara pada khusunya untuk mencintai dan mengkonsumsi makanan lokal yang terancam punah dengan kehadiran berbagai makanan ringan yang dipajang di mini market.
Perhelatan ini dinilai oleh tiga juri,diantaranya,Piter Kedang seniman asal Larantuka yang kaya pengalaman, Silvester Hurit, seorang seniman teater dan pemerhati budaya Lamaholot yang tidak asing lagi di Flores Timur dan mantan guru besar pada Institut Kesenian Jakarta, Profesor Sardono W.Kusuma.
Motivasi yang diberikan para juri sebelum mengumukan kejuaraan, mengajak masyarakat Lamaholot untuk menghargai, merawat dan mencintai budaya Lamaholot.Melalui seni, sesungguhnya kita sedang memperkuat identitas kita sebagai masyarakat Lamaholot yang kaya akan keanekaragaman budaya.
Dengan berkesenian kita sedang berupaya merawat dimensi kemanusiaan dan mengekspresikan solidaritas kita sebagai mahkluk sosial yang selalu hidup berdampingan dengan orang lain. Dunia sedang memasuki gelombang perekonomian kreatifitas. Banyak Negara yang maju mengandalkan seni sebagai pundi perekonomian yang sangat menjanjikan.
“Tanpa seni hidup kita akan miskin dengan pengalaman batin,” ungkap profesor Sardono W.Kusuma menutup arahannya.
Semoga kedepannya perhelatan ini dapat menciptakan iklim sebagai ruang pertemuan yang semakin semarak dengan keterlibatan berbagai stakeholder baik pemerintah,seniman dan masyarakat Flores Timur untuk mewujudkan wadah seni yang lebih baik demi menggali kebudayaan Lamaholot dan memberikan spirit seni dan perubahan bagi masyarakat Lamaholot,Flores Timur.
Benediktus Bereng Lanan
Wakil Ketua Seksi Dokumentasi dan Publikasi Agupena Flotim,
Nomor Handphone:0823 1082 8022,
Email:berenglanan@yahoo.com
