Di pintu pagi,
Sa dengar Ama pu oreng su tidak semerdu kemarin
Lalu pada tungku yang menyala
Sa lihat Ina sedang menanak dengan mata yang kian berembun
Entalah, sa juga te tau pasti alasannya….
Ina, Nasi di tungku su masak
Ama pu Tuak di koli juga su penuh
Lalu apa yang buat Ina pu air mata tatumpah?
Ina,
Bukankah sama saja, Hari kemarin, hari ini, bahkan besok?
Ina tetap menanak nasi
Ama tetap memanjat koli
Dan mereka,
Mereka tetap tertawa diatas tumpukan kertas yang bernama “Doi”
Lalu apa yang harus Ina tangisi?
Kekuasaankah, Hukum, atau Doi?
Ina,
Tidak ada yang lebih tau dari Ina
Tidak ada yang lebih mengerti dari Ama
Jadi, Ama pu tuak di koli harus tetap penuh
Ina pu tungku harus tetap menyala.
Biarlah urusan negeri
Jadi urusan para “Ber-uang”
Yang gila akan tahta
Yang haus akan kekuasaan
Perempuan Perantau Kata
Ina : Ibu/Mama
Ama : Bapa/Ayah
Su : Sudah/telah
Koli : pohon lontar
Pu : Punya
Tuak : Nira
Tatumpah : Menetes
