dalam jeda perjalanan kesekian, aku kembali datang
angin garam yang kering dari utara
menyapa bangunan tua peninggalan Belanda
jejak kompeni berlomba lomba menampakkan diri
ditingkah aroma ikan asin yang serupa rindu memanggil untuk kembali
lorong lorong kampus seribu jendela memeram sejuta kenang
sisi mana yang tak bertuan ?
jendela jendela kusam masih mengintip masa depan
ruang ruang kuliah tetap riuh dan penuh keluh
sebagian buku dalam rak kayu menyimpan sejarah masa lalu
sementara di seberang jalan deretan pohon waru berbagi teduh
deru mesin tua terus melaju
membiarkan terik matahari berpacu dengan waktu
kupunguti kisah kita yang berceceran di sepanjang jalan Jatayu
dan tiap sudut kota semakin jelas menampakkan senyummu
melintasi ruang dan waktu, aku dikepung rindu
di bibirmu yang ranum seperti buah anggur dijajakan sepanjang jalan
pernah kutulis, seribu sajak rahasia
tentang labirin di matamu yang tiap malam menyesatkan aku
untuk mengayuh peluh hingga mengadu lenguh
waktu terus melaju, mesin tua terus menderu
seonggok malam menunggu termangu di dermaga kayu
bulan kesepian memancar enggan
ombak berdebur pelan, menggiring tanya ke tepian
dalam jeda perjalanan kesekian, tak juga kutemukan labirin yang menyesatkan
memang
perjalanan harus kulanjutkan sendirian
luh widyastuti
