Cerita Cahaya

Pada Suatu Malam

pijar-pijar lampu malam mekar bak kelopak
kembang. mengiring betis-betis putih melangkah
di cuci cahaya senyap. di situ ada juga betis-betis
putih bersila lantai. cerita mereka tentang malam.

jika subuh membasuh, remang tinggal sebentar.
setara sayup-sayup pandang ditirai becak. perempuan
dan malam mengayuh betis. menjemput ranjang diam.
hingga gerimis percepat langkah. kembali suram
tempat ini di bawah pijar.

Djogja, Desember 2013

Pada Jembatan Kali Code

setiap malam tak pernah jadi biasa.
salingsilang cahaya bagai kilat menjilat aspal.
knalpot meraung menggemuruh guntur.
orang-orang pinggir jembatan mengukur sepi.
menghitung detak antara aliran air dan
jembatan.

lalu, atap rumah-rumah mengambang
mengawan berwarna direndap gelap. bercerita
tentang lintang batas manusia: malam
dan siang. saat orang-orang pinggir jembatan
membiasakan malam.

Djogja, Desember 2013

Pada Stasiun Tugu

kalau malam ini kembali, jangan bawa
aku tempat ini lagi. malam ini begitu berat
bagiku, ketika senyum berarti ranjang.
doaku sudah lama tak jadi neraca. timpang
sudah. aku di sini saja. biarku dibawa ke
masa kecilku. bermain lombat-lompat pada
ruas-ruas garis bantaran rel. sampai bosan,
sebab hujan tak melenyapkan garisnya.
hingga saatnya deru kereta api membawa aku
pulang pada gemuruh banjir di belakang rumahku.

Djogja, Desember 2013

Pada Pulang

biarlah malam ini menjadi sajak. pada waktu
yang kita arsir bersama. pada cahaya yang kita
hirup bersama. pada dingin yang kita kandung
bersama. tak cukup jadi cerita. biar itu jadi
gelombang. gemuruhnya selalu kita dengar.
getarnya masih akan terasa, meski kita tak
pernah kembali pada arungan yang sama lagi.
pada suatu malam nanti.

Djogja, Desember 2013
Alfred Tuname

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *