Bali di Senja Tanah Anarkhi

suluhnusa.com_Nyoman Dhamantra, Anggota DPR RI, melalui pesan tertulisnya, yang disampaikan Dewa Nyoman Sutarba menyatakan, bahwa nilai Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, perlu terus menerus di tanamkan di tengah masyarakat, terlebih kepada generasi muda. Pesan tersebut disampaikan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Bangsa, bersama Sekehe Teruna-teruni (STT) “Setia Remaja”, Desa Pedungan, Sabtu 11 Juli 2015, di Sekretariat Dhamantra Centre, Jl. Kenyeri 15, Sumerta Kaja, Denpasar.

Lebih lanjut disebutkan, banyak kalangan tersentak ketika aksi-aksi ketidak adilan, kekerasan dan terorisme kembali marak, yang memperlihatkan upaya merongrong empat pilar bangsa masih tetap bergerak di sekitar kita. Juga ada kehebohan ketika para pelaku dari kaum muda.

“Baik mereka yang terlibat dalam sel-sel kekerasan, jelas menganut ideologi dan agenda politik yang bertentangan dengan empat pilar kebangsaan-kenegaraan Indonesia. Untuk mencapai agenda-agenda itu, mereka jelas terlihat tidak segan-segan melakukan berbagai bentuk aksi kekerasan, pelanggaran hukum dan bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan sampai pada terorisme atau berbagai bentuk tindakan kekerasan lain,” pesanya, lebih lanjut.

Sementara itu, Ngurah Karyadi mencatat, tidak banyak pembicaraan di kalangan publik tentang keempat pilar itu sepanjang masa demokrasi dan kebebasan sejak 1998, termasuk di Bali. Jika ada, diskusi publik tentang keempat pilar itu, maka ia hilang-hilang timbul untuk kemudian seolah lenyap tanpa bekas. “Hanya wacana. Tidak ada upaya tindak lanjut sistematis dari pemerintah khususnya untuk merevitalisasi, menyosialisasikan, dan menanamkan kembali keempat pilar itu dalam kehidupan kebangsaan-kenegaraan sehari-hari. Terjadi sebaliknya, Bali dan bahkan Indonesia berada dalam apa yang dikatakan Superman Is Dead: ‘Sunset di Tanah Anarkhi’.

Dimana, sepanjang reformasi politik yang bermula pada 1998 sampai kini, negara-bangsa Indonesia hampir tidak pernah putus dipenuhi gagasan, wacana, gerakan, dan aksi yang secara diametral bertolak belakang dengan keempat pilar itu,” jelas Ngurah Karyadi

Dalam kesempatan tersebut, Ngurah Karyadi berharap Desa/Banjar Adat di Bali, serta Sekehe Teruna-teruni menjadi lokus informal dalam penanaman dan penguatan semangat kebangsaan keindonesiaan tersebut, disamping lembaga formal. Mengutip presiden pertama RI, Bung Karno, Ngurah Karyadi berharap lembaga informal berperan sebagai arena dalam nation and character building.

“Mengingat, euforria “reformasi dan kebebasan” membuat nyaris lenyapnya upaya transmisi pengetahuan dan praksis menyangkut keempat pilar itu dalam kehidupan ketatanegaraan. Pancasila, yang pada masa-masa sebelumnya merupakan mata kuliah/pelajaran wajib, sejak saat itu hampir hilang dalam kurikulum lembaga-lembaga pendidikan sejak dari SD sampai perguruan tinggi,”katanya, mengingatkan.

Pendapat ini di amini Wayan Manggis, tokoh masyarakat dan Kepala LPM Pedungan. Dimana menurutnya, sejak menjelang akhir 1990-an, pelajar, mahasiswa dan generasi muda tidak lagi mendapatkan penguatan paham kebangsaan-keindonesiaan tersebut. Jika pun mereka mendapatkannya, itu hanya selintas ketika mereka yang bakal menjadi pegawai (PNS) menempuh latihan prajabatan.

“Untuk itulah, kreatifitas STT Setia Remaja, Pedungan, yang hendak selenggarakan “Pitik Kite Festifal,” (18-23 Juli) perlu mendapat dukungan, dan sekaligus menjadi bagian dalam memperkuat nilai kebangsaan, dan bukan sekedar ‘nganggoan kite’, kata Wayan Manggis.

Atas kesangsian ini, Ketut Widarsa, tokoh STT Setia Remaja, Pedungan menyatakan, perlu langkah-langkah konkret dalam sosialisasi dan revitalisasi empat pilar bangsa. “Festifal Layang-layang yang hendak kami selenggarakan sebagai bentuk ekpresi budaya untuk itu. Ada berbagai kegiatan dan melibatkan segenap kelompok remaja di Pedungan dan sekitar,” katanya, meyakinkan.(sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *