Suluh Nusa, Lembata – PELAKSANA TUGAS Bupati Lembata Thomas Ola meminta masyarakat Lembata untuk tidak melakukan “kekerasan” verbal, “intimidasi psikologis” atau marah-marah apalagi membawa persoalan ke ranah hukum terhadap tenaga kependidikan atau guru-guru.
Sebab menurut Thomas untuk setiap tindakan yang berupa cubitan atau jeweran tak lain merupakan bagian dari upaya membina anak-anak.
Hal ini dikatakan Plt. Bupati Lembata Thomas Ola dalam kunjungannya ke Desa Baobolak, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata pekan pertama Agustus. Thomas Ola mengatakan guru merupakan pelita dan lilin yang menjadi suluh menerangi anak-anak.
“Jangan marah guru-guru. Guru cubit anak kamu lapor Kapolres. Jangan e. Itu bagian dari upaya membina,”tegas Thomas Ola.
Thomas Ola dihadapan warga Baobolak mengatakan guru memiliki peran penting dalam membangun negeri ini dan diberi pengharapan untuk membangun bangsa melalui pendidikan.
Selaku Plt. Bupati Lembata menurut Thomas Ola selama ini secara senyap telah melakukan tugas dalam jabatannya dengan melakukan kunjungan ke bebrapa sekolah dalam kota Lewoleba meskipun saat ini anak-anak lagi belajar dari rumah.
“Dalam kota Lewoleba selama ini saya melakukan operasi senyap. Jalan sendiri mengunjungi guru-guru dan anak-anak karena betapa pentingnya masa depan Lembata ini ada di tangan guru-guru.”tegas Thomas Ola.
Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Kualitas pendidikan yang baik akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, terutama pada era globalisasi seperti sekarang. Perkembangan teknologi dan informasi sangat pesat. Kini, Revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan Digitalisasi dan Otomasi.
Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas serta memiliki daya saing yang tinggi, maka pendidikan yang diberikan kepada warganya harus dilaksanakan secara tepat dan maksimal.
Menurut Thomas, pendidikan karakter diharapkan mampu mengatasi solusi ketidakteraturan masalah yang ada di masyarakat. Sejalan dengan itu, semua pihak baik pemerintah, sekolah dan masyarakat yang terlibat dalam dunia pendidikan sebaiknya lebih peka dan tanggap terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat.
“Pendidikan hendaknya berorientasi dan dilaksanakan demi pengembangan anak didik dalam rangka memelihara dan meningkatkan martabat manusia dan budayanya. Pendidikan harus memberikan perhatian kepada kemampuan masing-masing anak didik. Perhatian penilaian sekarang tidak terbatas pada aspek pengetahuan atau kognitif mereka saja. Melainkan harus mencakup aspek afektif atau sikap dan psikomotor atau keterampilan,” tegas Thomas.***
Sultan
