LEWOLEBA – Mendengar nama Kerbau Knoki, bagi warga masyarakat Lembata yang pernah mengenalnya, maka menjadi hal yang cukup menakutkan dan menyeramkan.
Hal ini karena jalur jalan yang sekarang lagi diperbaiki untuk finishing hotmiks dan fasilitas pendukung jalan lainnya, dulunya menjadi jalur transportasi tradisional yang cukup ekstrem. Di sebelahnya dinding bukit dengan tingkat kemiringan yang sangat tajam, disebelahnya juga adalah jurang menganga.
“Saat jalan, kaki sampai gemeteran dan harus saling memapah”, ungkap seorang warga yang rela jalan kaki untuk pertandingan bola voli memperingati pekan suci Paskah yang dihelat di Lewuka kecamatan Wulandoni.
Dalam bahasa Lamaholot dialek Udak, Kerbau Knoki artinya tapak kaki kerbau. Dahulu, daerah ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya kerbau-kerbau liar dan saat bermigrasi untuk mencari makanan, biasa meliwati jalur sempit ini.
Dalam amatan sesuai kondisi geografis dan topografi, kampung Udak dan Lewuka dikelilingi oleh bukit terjal dan curam. Apalagi di belakang taman doa Kampung Udak, tingkat kemiringan antara 70-80 derajad. Dengan demikian, jalur bukit Kerbau Knoki merupakan satu-satunya jalur yang biasa dilewati yang membelah puncak bukit berbatu layaknya gerbang alami yang menghubungkan Desa Udak di lembah dengan dunia luas di balik perbukitan menuju utara: ke arah Uruor, Puor, Boto seterusnya ke Lewoleba dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. (Tulis Vinsen Paji Ujan pada laman FBnya, 19 Mei 2026).
Kini, tempat ini semakin viral karena alokasi dana pemerintah untuk memperbaiki jalan yang lebih mulus dan dari atas ketinggian, puncak bukit Kerbau Knoki disuguhkan panorama alam yang memukau.
Dalam perjalanan Kupang Lembata dengan jasa angkutan tol laut beberapa waktu lalu, Bapak Yunior menceritakan kisah kerja keras masyarakat merintis jalan menghubungkan Udak dengan kampung sekitar, khususnya Uruor dan seterusnya ke Lewoleba dengan membelah bukit terjal.
“Saat pulang liburan dari Kupang, bersama masyarakat dengan semangat gotong royong, secara bertahap membongkar bukit secara manual untuk merintis jalan. Dari sumber lain mengatakan, pekerjaan ini dilanjutkan Bastian Udjan, pengusaha sukses dari kampung Udak.
Usaha kerja keras, kerja nekad masyarakat, akhirnya berbuah manis. Sekitar awal tahun 2000, oto berhasil masuk kampung Udak dan Lewuka sehingga masyarakat pun menyambut dengan penuh sukacita.
Pada liburan kali ini, saya memilih jalur tengah dengan segala kenekadan. Tahun 2024 lalu, memilih jalur Watuwara-Puor-Boto-Lewoleba.
Pada jalur tengah, selepas Puskesmas Wulandoni jalanya beraspal kurang lebih 1 km. Lalu jalan tanah dan berbatu karena digerus air hujan. Dulu jalan sudah beraspal namun mengalami kerusakan dan masih ada sisa-sisa jalan beraspal.
Sebelum kampung Snaki, jalan mulai mendaki bukit dengan tingkat kemiringan yang masih wajar. Mulai kampung Snaki sampai kampung Lewuka dan Udak, jalan sedikit mulus dengan polesan semenisasi. Jadi kampung Udak dan Lewuka, berada persis di bawah barisan bukit mulai dari puncak Kerbau Knoki membentang ke arah kanan (dari arah laut). Selepas puncak bukit Kerbau Knoki, terbentanglah dataran tinggi sampai kampung Uruor desa Belobatang lalu mulai menurun dan sedikit mendaki sebelum memasuki Paubokol terus ke Lewoleba.
Di depan gua Maria kampung Udak, belok kiri dan tantangan pun dimulai. Jalan menyusuri punggung bukit (tabe gawak, bahasa Lamaholot Adonara), dengan tingkat kemiringan 30-40 derajat (bukan kemiringan jalan, namun bukit). Saat melimpas pada tanggal 24 Mei 2026 lalu, jalan sedang dikerjakan dengan penggusuran menggunakan alat berat. Jalan belum beraspal dan masih pemadatan menggunakan tanah sehingga butuh kehati-hatian.
Tantangan sebenarnya yang cukup menguji adrenalin adalah pas di puncak bukit ‘Kerbau Knoki’. Di sebelah kanannya, dinding jalan bebatuan yang kokoh setinggi 4-5 m, lalu di bagian kirinya, jurang terjal dengan tingkat kemiringan mencapai 70-80 derajat yang cukup risiko bagi penderita phobia ketinggian karena langsung menyaksikan jurang yang terjal.
Ketika sampai di puncak dan berhenti, dibuat terkesima dan takjub. Puncak Bukit Knoki, menampilkan dua sisi yang sangat kontras. Jalur jalan yang cukup ekstrim namun menyuguhkan panorama alam yang sangat memukau.
![]()
Tampak laut membiru, barisan bukit membentang mengapit. Awan putih bergelantungan di bentangan cakrawala nan maha luas, memagut erat di puncak dan lereng bukit serta berkelabat manja pada salah-selah pepohonan menghijau. Buih-buih putih air laut meninggi ketika ombak laut selatan memecah mencumbui batu karang pantai. Tampak kampung Udak dan Lewuka, berada di lembah nan subur serta dingin menyejukkan jiwa, diapiti oleh pepohonan menghijau dari tanaman perkebunan kelapa, kemiri, kakau dan pepohonan lainnya. Semuanya berpadu erat menyuguhkan landscape panorama alam yang indah memesona dan menjadi titik spot foto yang sangat instagramable. Saat di puncak, menoleh ke kanan, tampak dari kejauhan barisan perkampungan di kaki gunung ‘Ile Labalekang’, Watuwara, Puor dan Boto, menampilkan keindahan tersendiri.
Sebelum puncak Kerbau Knoki, beberapa puluh meter, jalan sudah berhotmiks mulus sampai Lewoleba, sedangkan bagian bawahnya masih pengerjaan menuju ke tahap finishing, hotmiks.
Dengan demikian, puncak Kerbau Knoki bisa menjadi destinasi wisata baru di Lembata. Betapa tidak!
Saya yakin, ketika orang baru yang melimpas di jalur ini, pasti berhenti sejenak dan mengabadikan pemandangan alam yang sangat indah memesona dengan berfoto atau membuat vidio. Bagi jiwa petualangan, tentu tidak bosan-bosan menggunakan jalur ini kalau punya kepentingan di wilayah sekitarnya karena menyajikan tantangan alam yang menguji adrenalin.
Di atas puncak, dibuat pondok agar terkesan natural-tradisional, untuk dijadikan ‘rest area’ sekaligus destinasi wisata bagi pelaku perjalanan melalui pelabuhan Wulandoni. Mungkin sambil menunggu kapal berlabuh atau turun dari kapal, bisa menjadi tempat istirahat sementara agar bisa menyaksikan keindahan dan keagungan anugareh Tuhan seraya menikmati suguhan kopi-teh panas, ditemani pangan lokal, pisang, ubi rebus, jagung titi nan lembut dan gurih. Para pelancong datang, duduk istirahat di pondok seraya menyaksikan suguhan keindahan alam seperti yang sudah dideskripsikan di atas, untuk mengamini pernyataan Kadis Pariwisata Lembata, Yakobus Andreas Wuwur SP., M.Si,
“Setiap elemen, berpotensi daya tarik, itulah pariwisata”. Namun bukan berpotensi lagi, puncak Kerbau Knoki, nyata-nyatanya bisa menjadi destinasi wisata baru. Ini hanya imajinasi saja. Semoga.+++
Simon Kopong Seran

