SUMBA – Pulau Sumba, Provinsi NTT menyimpan sejuta pesona yang menjadi destinasi wisata yang tidak bosan-bosan dijelajahi wisatawan manca negara dan domestik.
Aneka potensi dan wahana wisata yang bertebaran dari ujung Sumba Timur hingga ujung Barat Daya, baik wisata alam yang sangat mempesona, uma kalada (rumah adat) dengan atap menjulang tinggi ke langit yang begitu agung, sakral dengan lingkungan seputaran rumah adat yang masih natural-tradisional.
Ada wisata budaya dalam atraksi ketangkasan perang yang sangat heroik yaitu pagelaran Pasola sebagai puncak ritual syukuran panen dalam keyakinan tradisional Marapu.
Destinasi wisata pantai Walakiri di Waingapu yang terkenal hamparan pasir putih yang sangat eksotik plus panorama yang sangat menakjubkan tatkala sun set di senja dengan pancaran aneka warna yang membias dari garis cakrawala dengan sinar keemasan dan warna jingga. Pantai ini viral karena Mira Lesmana yang membuat film Pendekar Tongkat Emas dan mempopulerkan di instagram.
Selain itu, ada danau (laguna) Waikuri, di pelosok Kabupaten Sumba Barat Daya, desa Kalena Rongo, Kecamatan Kodi Utara, yang juga namanya sudah kesohor ke manca Negara. Dan satu lagi yang tidak kalah eksotiknya adalah bukit Wai Rinding di Desa Pambota Njara, Kecamatan Kota Waingapu Sumba Timur.
Keunikan bukit Wai Rinding adalah deretan perbukitan, sejauh mata memandang dengan hamparan padang savana yang begitu luas.
Deretan perbukitan, membentuk lekak-lekuk yang begitu indah, ditumbuhi hamparan savana yang menyatu dengan garis cakrawala, menjadi penampilannya begitu asri dan sangat eksotik membentuk landskap yang tak jemu dipandang mata serta menjadi spot-spot foto yang sangat instagramable.
Pesona bukit Wai Rinding, menampilkan dua panorama yang begitu kontras, namun sangat menakjubkan. Ketika musim penghujan, padang savana begitu menghijau bak permadani dan saat musim kemarau, berubah menjadi coklat keemesan. Ketika senja hendak menjemput malam, sinar mentari keemasan atau pun jingga ‘sunset’ membias manja dari garis cakrawala memagut erat hamparan savana, menjadikan panorama yang begitu indah memesona dan sangat istimewah, menciptakan suasana bathin yang begitu teduh, tenang dan bertempik sorai serta memanjakan mata untuk berlama-lama memandangya sembari mengaggumi kreasi ajaib tangan Tuhan.

Kemolekan Bukit Wai Rinding, membuat daya tarik yang sangat menakjubkan bagi para pelancong untuk bertravelling, memantik naluri pegiat seni sebagai lokasi shooting video klip lagu “Man Upon The Hill”, salah satu band indie “Stars & And Rabbit” bergenre folks dari Indonesia (Backpacher Jakarta), foto preweding Maudy Ayunda dan Jesse Choi (Kompas.com, 28/05/2022) serta lokasi shooting film Mira Lesmana yang membuat film Pendekar Tongkat Emas.
Semenjak itulah, pesona bukit Wai Rinding pun menjadi popular seantero dunia dan menjadikan destinasi alam yang ramai dikunjungi wisatawan.
Bukit Wai Rinding terletak di Desa Pambota Njara, Kecamatan Kota Waingapu Kabupaten Sumba Timur dengan jarak kurang lebih 25 km atau 30 menit perjalanan dari pusat kota Waingapu melalui jalan yang sudah beraspal mulus membelah barisan perbukitan sehingga banyak jalan membentuk leter S.
Itu pun menjadi suatu daya tarik tersendiri. Mobil berjalan perlahan meliuk-liuk di punggung-punggung bukit dan sedikit memacuh tegang adrenalin. Ketika mobil dipacu dengan menambah kecepatan, tiba-tiba merayap perlahan karena harus berbelok pada tikungan.
Destinasi wisata bukit Wai Rinding, bisa dicapai melalui jalur Tambolaka (Sumba Barat Daya)-Waikabubak (Sumba Barat), Waibakul (Sumba Tengah), dengan waktu tempuh dengan durasi 4 jam dengan kendaraan darat, namun para pelancong tidak perlu menyesal, karena alam dan pulau Sumba selalu menyuguhkan keunikan dan kekhasan akan dunia pariwisatanya.
Dan menjadi patokan lokasinya adalah sebuah warung kecil berada di kiri jalan (arah Sumba Tengah). Ada papan nama penunjuk bertuliskan Bukit Wai Rinding dan tertampak jelas di bagian kiri, sebuah gapura kecil bertuliskan, “Selamat Datang Di Bukit Lai Uhuk Wai Rinding”.
Sesampainya di sana, memarkirkan kendaraan pada kiiri-kanan. Para pelayan wisata menyambut dengan senyum sumringah seraya mempersilahkan mengisi buku tamu. Dari situ, berjalan kaki mendaki bukit dengan kemiringan yang tidak terlalu tajam dengan jarak kurang lebih 50 m.
Ketika mencapai puncak bukit, anda dibuat terkesima dan menikmati keelokan dan keajaiban bukit Wai Rinding dengan segala eksotismenya. Wisatawan pasti akan puas dan takjub atas kebesaran Allah. Di atas puncak bukit, wisatawan bisa berfoto sambil menunggang kuda sandel wood yang dibawa anak-anak gembala dari kampung di sekitarnya lalu sedikit memberikan tips secara iklas.

Wisatawan bisa mencoba menunggang kuda sambil berjalan perlahan di atas punggung bukit atau dipandu oleh pemilik kuda seraya menyaksikan sejauh mata memandang kemolekan pulau Sumba dan Bukit Wai Rinding. Waktu yang tepat direkomendasikan untuk berkunjung yaitu antara pukul 17.00 s.d. 18.00, karena saat itu bisa menyaksikan sun set yang membias warna keemasan dan jingga dari batas garis cakrawala, sehingga membuat panorama alam begitu indah mempersona.
Bumdes, Mengelolah Pariwisata Bukit Wai Rinding.
Pada saat penulis berkunjung, tidak sempat mengobrol dengan pelayan wisata, namun suatu informasi, bahwa destinasi wisata Bukit Wai Rinding dikelolah oleh Bumdes desa setempat. Saya pun meminta nomor HP dan menyampaikan, akan menghubungi suatu waktu nanti.
Sekembali di Kupang, saya pun menelpon Direktur Bumdes, Sony Nggalah Amah. Sony menjelaskan, sejak bukit Wai Rinding menjadi lokasi shooting flim Pendekar Tongkat Emas oleh Mira Lesmana tahun 2007, maka menjadi populer, sehingga menarik minat wisatawan untuk beramai-ramai berkunjung. Awalnya dikelolah oleh perorangan, namun atas pertimbangan Kepala Desa Pambota Jara, Titus Umbu Jawai Rani, pengelolaan pariwisata bukit Wai Rinding dikelolah oleh Bumdes sejak Maret 2022.
Melalui Peraturan Desa Nomor 01 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Pariwisata Bukit Wai Rinding, dipercayakan kepada Bumdes ‘Harapan Baru’ dan memilih kepengurusan terdiri dari tujuh orang yaitu Ketua, Sekretaris, Bendahara, Kanit Usaha Pariwisata, Kanit Usaha Air Bersih, seorang Linmas dan Satpam.
Menurut Soni, alumni Universitas Warma Dewa Denpasar Bali jurusan Akuntansi (2019), setiap pengunjung dikenakan tarif sesuai ketentuan. Lebih jauh, Sony menambahkan, pengunjung paling ramai pada musim kemarau (Mei s.d. Oktober). Dari hasil pendapatan karcis dan jasa parkiran, hasil keuntungan dibagi untuk beberapa porsi kepentingan yaitu gaji pengurus dan sumbangan pendapatan asli desa (PADes).
Untuk mendukung pelayanan pariwisata, dibangun beberapa fasilitas yaitu lopo, toilet, ruang informasi, WC umum dan WC khusus penyandang disabilitas, ruang tunggu dan galery yang dibangun atas bantuan Kemenkes dan oleh konsorsium beberapa lembaga/LSM yang peduli yaitu Koperda (bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi), LSM Sopan Sumba (pemberdayaan perempuan/gender dan anak) dan C.D. Betesda (pelayanan kesehatan).
Menurut Direktur, dalam rencana pengembangan, akan dimusyawarahkan untuk menentukan tarif yang berbeda-beda berdasarkan kriteria yaitu pengunjung lokal, domestik, turis asing, foto praweding dan jasa penunggang kuda yang disiapkan.
“Yah khusus jasa penunggangan kuda, diatur dengan memberikan kesempatan yang sama dan keadilan bagi semua kuda agar jangan terjadi kecemburuan sosial”, jelas Sony, yang pernah bekerja sebagai marketing pada salah satu mall di Denpasar Bali (2015-2019) untuk membiayai kuliahnya.
Selain itu, sistim pembagian hasil, disesuaikan berdasarkan persentasi, yaitu gaji pengurus (40 persen), untuk desa 60 persen, lalu dibagi lagi menjadi, 20 persen PA Des, termasuk sumbangan sosial yang diatur oleh Pemdes, 20 persen biaya pengembangan fasilitas, 10 persen hak ulayat dan 10 persen biaya kebersihan.
“Namun semuanya rencana ini, tergantung kesepakatan musyawarah desa, dan Bumdes melaksanakan sesuai kesepakatan” beber Soni.

Soni ingin membangun kafe dan home stay untuk mengakomodir kepentingan pengunjung yang ingin bermalam di bukit Wai Rinding. Namun, untuk sementara ini, direncanakan penyewaan tenda, semacam untuk berkemah seraya menikmati sensasi suasana malam di seputaran Bukit Wai Rinding. Direktur juga berupaya memasang penerangan di puncak bukit dan menanam bunga atau tanaman untuk mempercantik dan memperindah kawasan bukit Wai Rinding yang bisa menjadi titik-titik spot baru untuk berfoto.
Untuk menunjang pengembangan pariwisata secara terintegrasi, dalam rancangannya, ke depan dibentuk kelompok-kelompok di bawah binaan dan unit usaha Bumdes yaitu tenun ikat, produk lokal makan khas Sumba, pertanian (jagung dan jamur herbal), pengadaan mobil tangki untuk air bersih (sedang berjalan), warung makanan dan usaha lain sesuai kebutuhan.
Demikian, gambaran singkat tentang eksotik bukit Wai Rinding dan upaya pengembangan pariwisata yang dikelolah oleh Bumdes sebagai wujud penjabaran Undang-Undang Desa. Selain itu, sebagai upaya untuk memberikan peran yang lebih kepada masyarakat desa untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki demi kesejahteraan masyarakat desa. +++simon.kopong.seran • Fotografer Mario Saputra berkontribusi dalam foto foto ini












