Felita 2026, Giat Massal Sukses Tanpa Produksi Sampah Massal

Panitia mengklaim berhasil produksi sampah anorganik dari urusan perut tidak lebih dari 10 persen

LEWOLEBA – Tri Hari Gelaran Festival Literasi Lembata (Felita) 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Kegiatan yang menghadirkan 400-an anak dan lebih dari 180 orang dewasa ini berakhir tanpa banyak produksi sampah utamanya sampah anorganik.

Urusan konsumsi yang dalam banyak event massal kerapkali memproduksi sampah justru jadi fokus cegah produksi sampah dalam Felita 2026.



Pasalnya, panitia menyediakan wadah tampung air minum siap konsumsi berkapasitas 1200 liter yang bisa diakses dengan botol air minum yang wajib dibawa peserta. Dalam urusan makanan, panitia hanya menyediakan makanan tanpa perlengkapan makan personal.

Selama tiga hari, anak-anak antri makan dengan alat makan pribadi. Panitia mengklaim berhasil produksi sampah anorganik dari urusan perut tidak lebih dari 10 persen. Kesan positif datang dari peserta terutama anak-anak.

Tiara, salah satunya. Siswa salah satu sekolah dasar di Kecamatan Ile Ape Timur ini kagum dengan pola makan minum yang diterapkan panitia.

“Saya senang dengan ada begini ni. (tandon air, red). Ambil makan lalu mau minum, tinggal ambil air di situ. Kami disuruh bawa tempat makan dan botol air sendiri. Nanti kalau haus, tinggal datang ambil lagi. Tidak perlu beli air, ” tutur Tiara, saat ditemui usai ambil jatah makan dan mengisi air minum, pada pukul 08.00 , (Senin, 11 Mei 2026).



Panas terik adalah salah satu ciri khas cuaca Kota Lewoleba, tempat kegiatan Felita 2026. Di pelataran depan Perpustakaan Gorys Keraf dan Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Lembata, panas sungguh-sungguh memicu keringat.

Jonisper, salah satu tim logistik Felita 2026 malah keliru memprediksi kebutuhan air.

“Awalnya saya pikir 1 tandon pasti pas. Jadi dari depo isi ulang air, kita bawa pake galon baru dimasukan ke tandon sampai penuh. Ternyata sampai habis kegiatan harus isi dua kali, ” terang Jonisper.

Felita 2026 yang didominasi kegiatan praktik ternyata memantik keseringan peserta untuk mengakses air minum. Senam pagi, bermain tali merdeka, kesengge dan gasing memang menguras energi. Belum lagi anek aneka kegiatan klinik yang bersentuhan dengan Gerak fisik.

Beni, panitia lainnya menuturkan, pola ini tidak hanya menghemat biaya tapi juga menekan produksi sampah plastik dari aktivitas konsumsi.

“Ini guru dan siswa 580 lebih nih. Kalau 1 orang tiap hari 3 gelas saja, kalikan dengan 3 hari. Berapa banyak uang dan berapa banyak sampah setelah itu, ” tuturnya.

Kesan hampir serupa juga dialami Oa dan Gratia. Keduanya siswa salah satu SMP di Kota Lewoleba.



“Kami diminta bawa tempat makan dan minum sendiri. Menurut say aini lebih praktis. karena habis makan bisa dicuci dan pakai lagi. Kalau tumbler ini, nanti kita bisa ambil air minum sesuai keperluan dan keinginan masing-masing. Dan pasti tidak menimbulkan sampah anorganik, “ terang Gratia sembari menunjuk wadah makan dan botol air yang dibawanya.

Oa, sahabat Gratia lebih menekankan pencegahan sampah di lokasi kegiatan.

“Ini praktis karena tidak menimbulkan sampah di sekitar pekarangan tempat kegiatan. Jadi kalau saya usul, lebih bagus itu supaya kita kurangi sampah, yang kita lakukan seperti ini, kalau makan minum bawa perlengkapan sendiri.”

Keduanya mengharapkan, pola makan minum seperti ini bisa dilakukan juga di banyak tempat dan kegiatan lainnya.

“Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Kami ajak teman-teman lain yang kali ini belum datang, untuk bisa terlibat di kegiatan Festival Literasi lain dan bagusnya kalau bawa tempat makan dan minum sendiri seperti ini. Terima kasih, salam literasi, “ ujar keduanya bersemangat.

Felita 2026 yang digelar pada 10-12 Mei 2026 sudah berakhir. Memang tidak benar-benar zero sampah. Pengamatan media, masih ada peserta yang tidak patuh.

Datang tanpa membawa wadah makan-minum personal. Dampaknya langsung terlihat, beberapa gelas plastik ada di lokasi Felita 2026 meski sangat sedikit. Dan untuk mencegahnya, panitia juga mengagendakan jadwal operasi sampah setiap pagi dan sore hari.



“Ini memang ide tak lazim jadi pencapaian belum bisa 100 persen. Ada banyak peserta terutama yang datang di acara parade literasi dan pembukaan, tidak menyiapkan perlengkapan makan personal. Mereka sudah datang dan kita layani. Tapi secara keseluruhan, Felita 2026 berhasil dari aspek literasi ekologi soal pencegahan produksi sampah. Saya kira dengan massa lebih dari 500 orang ini, kami percaya diri, produksi sampah anorganik terutama dari urusan konsumsi di bawah 10 persen, “ pungkas Anselmus Asan Ola, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata.

Di luar kecakapan membaca, menulis dan publik speaking, Felita 2026 yang didukung Perpustakaan Nasional melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik 2026 ini juga meninggalkan jejak literasi lain. Kepedulian dan keterampilan menentukan pilihan yakni aktivitas tidak memproduksi sampah. +++


sandro/benki


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *