Denpasar-Kegiatan bersih lingkungan untuk kali keempat diadakan oleh Komunitas Bali Bersih didukung oleh EcoBali Recycling, Star Invasion dan Bali Treetop Adventure Park.
Tiga kegiatan sebelumnya telah diadakan yaitu Denpasar City Cleanup pada 12 Januari 2014, Kuta Beach Cleanup pada 9 Februari 2014, dan Bali Cleanup Episode 1 pada 25 Mei 2014.
Komunitas Bali Bersih kembali mengadakan kegiatan bersih lingkungan pada Minggu, 24 Agustus 2014. Kegiatan yang bertajuk Bali Cleanup Episode 2 ini mengambil lokasi di Lapangan Banjar Gede, Desa Abianbase, Mengwi, Badung, Bali.
Lapangan Banjar Gede adalah fasilitas publik yang biasa digunakan untuk berbagai aktivitas, salah satunya olahraga; sepakbola ataupun lari. Namun sayang, tidak sedikit sampah berserakan di sekitar lapangan. Sampah plastik tentu saja yang paling banyak terlihat.
Banjar Gede dipilih sebagai lokasi cleanup oleh Komunitas Bali Bersih karena terlihat tanah kosong yang relatif luas yang digunakan sebagai tempat ‘penitipan’ sampah. Selain itu, di lapangan yang telah dilengkapi tempat sampah ini juga masih ditemukan banyak sampah plastik seperti sedotan dan bungkus makanan ringan.
Tidak kurang dari 200 orang berpartisipasi menjadi sukarelawan dalam kegiatan Bali Cleanup Episode 2 ini. Mereka berasal dari beberapa sekolah yaitu, SMK Triatma Jaya, SMK PGRI 3 Badung, SMA 1 Kuta Utara, SMA Kuta Pura, dan juga komunitas seperti KOMBAD, Blues Troops Bali, Backpacker Indonesia, United Bali, Bali Jani, Rotaract, dan Panti Asuhan Sunya Giri
Rangkaian kegiatan cleanup dimulai dengan diskusi dan bagi informasi mengenai masalah sampah dan upaya penanggulangannya. Narasumber terkait adalah Ketut Mertaadi dari Eco Bali Recycling.
Usai kegiatan diskusi, kegiatan bersih lingkungan pun dimulai. Para sukarelawan pun berpencar ke sekeliling lapangan, dengan “bersenjatakan” sapu lidi dan karung mereka mulai membersihkan sampah yang berserakan. Beberapa bahkan “terjun” ke dalam saluran air dan mencungkil tumpukan sampah lalu mengumpulkannya ke dalam karung-karung.
“Mungkin warga di sini belum mengerti mengenai bahayanya sampah jadi mereka buang sampah sembarangan, padahal sudah ada tempat sampah. Warga seharusnya membuang sampah pada tempat sampah yang sudah disediakan dan memilah sampah organik dan non-organik. Inilah ironi di Bali,” ujar Dimas dan Putu Widianingsih dari Sispala Giri Natural SMA Kuta Pura, Kuta, Badung, Bali.
Berbagai sampah organik (tidak dapat terurai oleh alam); plastik seperti bungkus makanan, minuman, bahkan sampah berbahan kaca ditemukan di sekitar lapangan dan beberapa menumpuk di saluran air. Dari banyaknya sampah yang didapat, terbukti kesadaran warga sekitar untuk tidak membuang sampah sembarangan, masih kurang.
Cuaca panas terik tidak menjadi halangan bagi para sukarelawan untuk berupaya membersihkan lingkungan di sekitar Lapangan Banjar Gede. Kegiatan ini diharapkan menjadi gaung sebagai upaya menyelamatkan Bali dari sampah, paling tidak dari lingkungan terdekat.
“Kami sebagai komunitas berharap kegiatan ini bisa mempertemukan para pencinta alam dan membantu memupuk kesadaran akan tradisi menyampah yang baik dan bertanggung jawab. Dan karena kami adalaha komunitas bali bersih maka senjata kami hanya sapu lidi dan tong sampah,” tegas Dani Aristya, Ketua Komunitas Bali Bersih.
Sementara itu Ketut Mertanadi, dari Eco Bali Recycling menjelaskan sampah yang terdapat di rumah terbagi menjadi organik dan non-organik, sampah organik dapat dibuat menjadi kompos dengan cara menggali lubang di tanah kemudian menempatkan sampah-sampah tersebut di lubang lalu menutupnya, disebut sistem biopori sedangkan sampah non-organik seperti botol, kaleng dapat dipilah lalu bisa diberikan ke pemulung.
Lanjut Mertanadi, Ada degradable plastic dan bio-degedrable plastic. Degradable plastic itu akan lenyap dari pandangan saja karena nanti dia akan lenyap tapi tetap berupa butiran plastik, sedangkan bio-degadrable plastic memang terbuat dari singkong atau jagung, dari bahan alam jadi dia kembali ke alam.
“Saya setuju dengan diciptakannya jenis plastik itu tapi yang saya lebih tidak setuju karena begitu anda tahu itu bisa terurai, kebiasaan membuang sampah sembarangan akan semakin jadi, tetapi tetap yang paling baik adalah reduce”, jelas Mertanadi menjawab beberapa pertanyaan dari peserta diskusi.
Reduce atau mengurangi dalam menghasilkan sampah plastik atau penggunaan plastik adalah hal sederhana namun berdampak besar bagi lingkungan. Semua itu adalah mengenai keputusan, untuk menghasilkan sampah atau tidak. Semua tergantung pribadi kita. (sandrowangak/*)
