suluhnusa.com – Cemburu merupakan sebuah ungkapan yang tidak asing bagi kita semua. Dari anak kecil hingga orangtua renta, semua pasti pernah mengungkapkan kata cemburu. Cemburu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna keprihatinan, kecurigaan, dan kekurang-percayaan. Cemburu yang selama ini mungkin bagi sebagian orang dianggap atau selalu dikaitkan dengan urusan asmara. Oleh orang-orang yang sedang dimabuk asmara sering terdengar ungkapan klasik “cemburu tandanya cinta”. Banyak dari kita yang tertipu dengan ungkaapan tersebut. Kenapa demikian? karena sampai saat ini belum ada ahli atau ilmuwan yang dapat membuktikan bahwa cemburu tandanya cinta. Namun kita sudah banyak terjebak dengan ungkapan bodoh tersebut.
Cemburu bukanlah sebuah perasaan tunggal, tapi kombinasi banyak perasaan yang bercampur aduk jadi satu atau biasa disebut nelangsa. Ada sebagian orang menganggap cemburu adalah suatu hal yang negatif sesuai dengan defenisi cemburu itu sendiri. Ada yang menganggap cemburu tandanya tak mampu atau kerenya “sirik”, kehilangan kepercayaan, dengki, ancaman, adanya persaingan, panas hati, berjaga-jaga dan lain sebagainya. Anggapan seperti ini sungguh tidak salah. Karena suatu hal yang terjadi di lingkungan sekitar kita kadang dipicu oleh perasaan cemburu. Namun dalam tulisan kali ini, penulis ingin memaparkan cemburu dalam konotasi yang berbeda. Kita perlu menghadirkan cemburu di lingkungan kerja kita masing-masing, sesuai dengan jenis pekerjaan. Penulis memilih judul “Guru memiliki rasa cemburu” karena sesuai dengan jenis pekerjaan.
Kenapa guru harus memiliki rasa cemburu?. Guru merupakan tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberi penilaian, serta melakukan evaluasi secara berkala kepada peserta didik. Guru tidak hanya mengajar pada lembaga pendidikan formal, tapi juga pendidikan lainnya. Guru merupakan role model atau sosok yang diteladani muridnya. Masih banyak lagi peran dan tugas guru, baik di lingukan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dari sini kita dapat memahami bahwa peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang berkualitas. penciptaan baik secara intelektual maupun akhlak. Namun kadang peran guru tersebut dianggap tidak berarti atau spele oleh sebagian masyarakat di lingkungan sekitarnya. Pekerjaan guru dianggap pekerjaan yang mudah. Profesi guru dianggap tak berarti, mungkin hanya melihat tampilan luar guru.
Untuk menepis pandangan yang sangat spele terhadap profesi guru ini, maka guru perlu memiliki perasaan cemburu. Seorang guru wajib cemburu terhadap rekan seprofesinya. Bukan berarti cemburu ketika berada di tengah-tengah rekan guru yang memiliki penampilan luar serba glamour. Akan tetapi guru wajib cemburu pada rekannya yang memiliki perangkat pembelajaran lengkap, pola mengajar yang paling dinantikan peserta didik, menjadi pembicara atau pemateri dalam pelatihan atau workshop serta prestasi atau kelebihan lain yang dimiliki. Seorang guru harus cemburu ketika berada diantara rekan guru yang banyak memiliki karya. Tentunya cemburu seperti ini dalam artian atau konotasi yang positif. Cemburu pada prestasi atau karya rekan seprofesi seperti ini, akan mendorong semangat kita untuk lebih giat dalam berproses. Misalnya dengan melengkapi perangkat pembelajaran dan lain sebagainya. Dengan demikian semangat cemburu seorang guru bisa merubah pola pikir, pola tindak dan pola aksi diri kita sendiri sebagai seorang pendidik dan pengajar.
Rasa cemburu seorang guru bisa berproses mendekati atau bahkan menjadi guru yang lebih dari sekedar profesional. Ketika guru sudah berproses dengan baik, dengan sendirinya profesi guru akan dijadikan tolak ukur dengan jenis profesi yang lain. Profesi guru tidak bisa disejajarkan dengan profesi lain, karena tugas guru tentunya lebih berat, guru mencerdaskan anak bangsa. Ketika kita berada di lingkungan mana saja, profesi guru akan selalu disanjung dan dijunjung. Hanya guru yang mampu membuktikan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi biasa tapi menjadi guru adalah profesi terhormat. Sehingga orang di sekitar kita melihat seorang guru akan muncul pernyataan “itu baru guru!”, bukan pernyataan “ itu guru baru”. Untuk sampai pada tahap ini tentunya tidak semudah membalikan telapak tangan. Maka marilah kita menjadi guru atau pendidik yang memiliki “rasa cemburu”.
Seorang guru ketika sudah berproses dengan baik, tentu akan berdampak pada tempat kerjanya secara khusus, dan dunia pendidikan pada umumnya. Karya guru tidak hanya berpengaruh pada dirinya sendiri, tetapi akan berpengaruh langsung pada peserta didiknya. Seorang guru sudah memiliki karya maka tugas dan tanggung jawabnya adalah mengajar, mendidik, melatih para peserta didik agar menjadi individu yang berkualitas. Poin terakhir dari tugas seorang guru adalah untuk memberikan dorongan kepada para siswanya, agar berusaha keras untuk lebih maju. Bentuk dorongan yang diberikan seorang guru kepada peserta didiknya bisa dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan hadiah. Tujuanya adalah agar guru dan siswanya sama-sama berprestasi. Seorang guru akan merasa berhasil jika siswanya lebih berkualitas darinya. Berdosa jika guru meninggalkan generasi yang lemah.
Rasa cemburu seorang guru tidak seperti cemburunya dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Juga rasa cemburu guru tidak seperti orang yang sirik, sehingga dengan berbagai cara untuk menjatuhkan rekannya. Cemburunya guru bukan berarti dia tidak mampu untuk bersaing. Namun cemburunya guru semata-mata mengejar karya, berpacu mengejar kualitas, karena mencerdaskan anak bangsa harus penuh dengan karya dan dedikasi yang kualitas. Guru yang memiliki karya dan kualitas tentunya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Siswa dapat memiliki karakter yang baik sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dimasayarakat.
Dengan berkarya tentumya guru dapat meminimalisir kegiatan siswa yang sifatnya hura-hura diluar jam sekolah. Siswa atau peserta didik lebih disibukkan dengan kegiatan-kegiatan positif baik pada jam sekolah maupun di luar jam sekolah. tentua Semua hal ini tidak semulus yang dibayangkan. Namun kekika guru memiliki niat yang tulus untuk berproses yakinlah pasti akan ada hasil. Untuk berproses kearah yang lebih baik pasti ada hambatan serta tantangan, namun tantangan dan hambatan jangan dijadikan kerikil tajam yang menghalangi niat ikhlas dan tulus. Jadikan tantangan dan hambatan sebagai pemacu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Jika guru tidak berproses untuk berkarya, lalu bagaimana dengan generasi penerus bangsa?. ditangan generasi peneruslah akan lahir karya-karya baru. Di pundak mereka ada beban yang sangat berat,maka dari sekarang bekali mereka dengan teladan-teladan yang baik dan bermanfaat.***
Opick Pasandan
Guru MTs AL-Hidayah Wewit
