RUTENG – Ribuan gempa susulan tercatat pascagempa magnitude (M)7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu lalu (15/8). Kekuatan gempa susulan terbesar tercatat dengan magnitudo 6,2. Sejumlah kejadian tersebut dirasakan masyarakat sejumlah kabupaten.
Gempa susulan hingga hari ini, Kamis, (20 Agustus 2026, pukul 11.00 WIB, tercatat mencapai 3.618 kali.
Berdasarkan update infografis peta sebaran gempa bumi susulan gempa Flores M7.7 hingga tanggal 20 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB total gempa bumi susulan: 3618. Magnitudo terbesar: 6.2, Magnitudo terkecil: 1.1, Magnitudo di atas 5: 28, Gempa susulan dirasakan: 108
Dari grafik peluruhan mulai nampak pola penurunan, sehingga gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 minggu.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau proses penyesuaian kerak bumi pascagempa utama yang melanda wilayah tersebut. Berdasarkan hasil pencatatan BMKG, hingga saat ini gempa susulan terjadi bervariasi antara M1,1 hingga M6,2 akibatnya tidam hanya korban nyawa dan bangunan tapi infrastruktur jalan nyaris putus karena tanah terbelah di beberapa wilayah.
Salah satu jembatan penghubung di Sampek, Manggarai terlihat tanah terbelah dengan parah meninggalkan lubang menganga.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Nelly Florida Riama menyampaikan banyaknya gempa susulan merupakan proses normal pelepasan energi agar kerak bumi mencapai keseimbangan baru. Berdasarkan pemantauan BMKG, grafik aktivitas gempa susulan secara umum telah menunjukkan tren peluruhan (menurun) dan diperkirakan akan mencapai tingkat yang relatif rendah dalam 21 hingga 30 hari ke depan, atau sekitar akhir September 2026.
BMKG masih terus melakukan monitoring dan analisis untuk memperoleh gambaran aktivitas kegempaan tersebut. Namun, dirinya kembali menegaskan bahwa bukan berarti setelah tanggal tersebut gempa tidak dapat dapat terjadi.
Ia menambahkan estimasi ini sifatnya sangat dinamis dan akan terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan data gempa susulan yang direkam.
Sebaran episenter gempa terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat, yang berkaitan dengan zona tektonik Flores Back-arc Thrust.
Untuk memastikan keselamatan masyarakat, BMKG menyiagakan tim bekerja 24 jam penuh dan telah menerjunkan ahli ke wilayah terdampak untuk melakukan survei makroseismik, mikroseismik, kondisi tanah, dan survei tsunami. Pemantauan ini didukung oleh peralatan canggih di wilayah Nusa Tenggara Barat, meliputi 39 Seismograf dan 30 Akselerograf. Intensity meter, Tsunami gauge dan Warning Receiver System.
Perlu ditegaskan bahwa seluruh instrumen ini berfungsi untuk mendeteksi dini dan mempercepat penyampaian informasi, bukan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi.


Sementara itu, mengingat adanya laporan kerusakan pada sejumlah bangunan dan fasilitas publik, BMKG berkoordinasi intensif dengan BNPB, BPBD, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah di wilayah terdampak. Menurut Deputi BMKG, evaluasi lebih lanjut akan tetap diperlukan terhadap kerusakan bangunan yang bersifat non-struktural maupun kerusakan yang dapat mempengaruhi keamanan struktur bangunan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun harus tetap terus waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Selanjutnya, warga menghindari bangunan yang retak, rusak, atau rapuh akibat guncangan sebelumnya. Hal tersebut perlu pengecekan oleh pihak yang berwenang.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., datang langsung menemui para penyintas di Desa Peozaka Ramba, Rabu, 19 Agustus 2206.
Untuk mencapai lokasi, Kepala BNPB harus menempuh medan terjal berupa jalan menanjak dan berbukit dengan akses yang sebagian masih berupa bebatuan.
Kondisi medan tersebut tidak menyurutkan langkah Kepala BNPB untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi penyintas dari dekat, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, sekaligus memberikan penguatan agar masyarakat tetap tenang dan memiliki harapan dalam menghadapi situasi pascagempa.
Dalam dialog bersama masyarakat, Kepala BNPB mengingatkan agar warga tetap tenang menghadapi gempa bumi susulan yang masih terjadi di wilayah tersebut. Kesiapsiagaan tetap harus ditingkatkan, terutama dengan tidak memasuki rumah yang telah mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
“Kalau rumah sudah rusak, jangan dipaksakan untuk masuk. Kita tidak pernah tahu kapan gempa susulan terjadi. Yang paling penting sekarang adalah keselamatan Bapak dan Ibu semua,” ujar Suharyanto kepada para penyintas.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa susulan yang terjadi cenderung memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama. Kendati demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti setiap arahan pemerintah serta petugas di lapangan.
“Jangan panik, tetapi jangan lengah. Tetap berada di tempat yang aman, ikuti arahan petugas, dan jangan kembali ke rumah yang rusak sebelum dipastikan aman,” katanya.
Selain memastikan keselamatan masyarakat, pemerintah juga menyiapkan langkah konkret untuk membantu warga memperbaiki maupun mendapatkan kembali tempat tinggal yang aman. BNPB akan memberikan dukungan perbaikan rumah berdasarkan tingkat kerusakannya, yakni sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Sementara itu, bagi rumah yang masuk kategori rusak berat, pemerintah akan memberikan dukungan pembangunan hunian tetap yang bersifat permanen.
“Untuk rumah yang rusak ringan dan sedang akan kita bantu perbaiki. Kalau rusak berat, solusinya adalah hunian tetap. Pemerintah hadir agar masyarakat tidak dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri,” ujar Suharyanto.
Sebelum hunian tetap bagi rumah rusak berat selesai dibangun, BNPB juga menyiapkan dua alternatif tempat tinggal sementara bagi masyarakat. Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan atau menempati hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah bagi setiap kepala keluarga.
Menurut Suharyanto, dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan masyarakat tetap memiliki tempat tinggal yang layak selama proses pemulihan berlangsung. Karena itu, penanganan tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi harus dilanjutkan dengan langkah pemulihan yang terukur dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Yang paling penting sekarang datanya harus benar. Rumah mana yang rusak ringan, sedang, dan berat harus didata dengan baik. Setelah diverifikasi dan divalidasi, kita bisa segera menentukan bantuan dan mulai proses pembangunannya,” jelasnya.
Untuk mempercepat realisasi dukungan tersebut, Kepala BNPB meminta Pemerintah Kabupaten Ende memperkuat koordinasi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan mempercepat pendataan rumah warga terdampak. Data yang akurat, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi dasar dalam proses verifikasi dan validasi sebelum bantuan perbaikan maupun pembangunan hunian diberikan.
“Kita ingin bantuan ini segera sampai kepada masyarakat. Karena itu, pendataan jangan sampai lambat. Pastikan tidak ada warga terdampak yang terlewat dan tidak ada data yang keliru. Setelah datanya selesai dan terverifikasi, kita bergerak,” tegas Suharyanto.
Di tengah suasana penanganan darurat, perhatian juga diberikan kepada anak-anak penyintas. Kepala BNPB mengajak anak-anak untuk bertemu dan menyerahkan bingkisan berupa makanan ringan serta mainan sebagai bentuk dukungan moril agar mereka tetap merasa diperhatikan dan dapat melewati masa sulit pascagempa dengan lebih tenang.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB juga menyerahkan dukungan logistik kepada para penyintas untuk memenuhi kebutuhan dasar selama berada di lokasi pengungsian. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama proses penanganan darurat.
Kepala BNPB menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendampingi masyarakat terdampak, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar pada masa darurat hingga proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah warga.
“Bapak dan Ibu tidak sendiri. Pemerintah hadir dan akan terus mendampingi. Yang terpenting sekarang kita jaga keselamatan bersama, tetap tenang, dan ikuti arahan petugas. Setelah itu, kita bersama-sama memperbaiki apa yang rusak dan membangun kembali kehidupan masyarakat,” pungkas Suharyanto.+++
bonito/sandro.wangak
