KUPANG – SELAMA ini, penyiraman tanaman dilakukan secara tradisional/konvensional. Hal ini kurang efisien karena terjadi pemborosan.
Air yang disiram bisa saja meresap ke dalam tanah atau cepat menguap ketika kena matahari, sehingga air cepat mengering. Untuk itu dikenalkan salah satu inovasi baru yaitu irigasi tetes, dimana air diisi pada bejana lalu diteteskan secara perlahan-lahan.
Hal ini disampaikan oleh Direktur LSM Pelita Harapan Lembata, Magdalena Peni Ladjar, belum lama ini saat obrolan dengan penulis. Menurut Peni Ladjar, “Penggunaan irigasi tetes merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau semakin panjang. Sistem irigasi tetes memungkinkan air diberikan secara perlahan dan tepat pada akar tanaman sehingga lebih hemat air dan meningkatkan peluang hidup bibit yang baru ditanam”.
Metode penyiraman sistim irigasi tetes lebih efisien karena air dialirkan/diteteskan secara perlahan langsung ke akarnya, sehingga tanah terus lembab dan peluang untuk hidup lebih besar.
“Sistim irigasi tetes ini sudah berhasil pada konservasi mata air Wai Au Lerek dan Waimata Lamadua Desa Katakeja Kecamatan Atadei Lembata yang dilaksanakan pada tahun 2024 dan 2025 lalu”, urai Peni Ladjar menjelaskan.
Dalam rangka memperingati Hari Pramuka Nasional, pada Kamis,13 Agustus 2026, LSM Pelita Harapan berkolaborasi dengan Gugus Depan Pramuka SMAK St. Yakobus Rasul Lewoleba, SMPN 2 Lewoleba untuk melaksanakan aksi nyata reboisasi di seputaran sumber mata air Waigolo Lite Desa Ulumado Kecamatan Nubatukan Lembata.

Aksi reboisasi ini dilaksanakan di selah-selah kegiatan kemah Pramuka yang dihelat pada tanggal 12-14 Agustus 2026 di pelataran halaman SMAK St. Yakobus Rasul.
“Aksi penanaman pohon ini melibatkan juga OMK dan Karang Taruna Desa Ulumado”, jelas Kades, Ph. Konrardus Demon, yang dimintai komentarnya secara terpisah.
“Pada hari itu, berhasil menanam pada lahan seluas kurang lebih 2500 meter persegi dengan bibit pohon sebanyak 525 yang diperoleh secara gratis dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Benain Noelmina dan persemaian permanen Bour di desa Bour Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan rehabilitasi hutan dan lahan di Kabupaten Lembata”, tutur Peni Ladjar menjelaskan.
Ide awal aksi reboisasi ini, merupakan inisiasi dari Wakil Kepala Sekolah SMAK St. Yakobus Rasul, Marvina Mei juga sebagai pegiat LSM Pelita Harapan. Kegiatan Pramuka selama ini hanya identik dengan berkemah, cari jejak dan hiking, namun belum ada aksi nyata.
“Untuk itu anak-anak generasi milinael perlu diajak untuk gerakan mencintai lingkungan seperti membersihkan sampah atau menanam pohon”, tutur Peni Ladjar menirukan.
Hal ini menginspirasi untuk gerakan aksi menanam pohon di seputaran mata air Waigolo.
“Dan mata air Waigolo Lite dipilih karena 8000an warga Kecamatan Nubatukan menikmati untuk sumber air minum”, kata Peni Ladjar dibenarkan Kades Lite Ulumado. Bahkan Kades mengatakan bahwa warga masyarakat desa Ulumado memanfaatkan sumber air Waigolo untuk kepentingan pertanian dan tanaman hortikultura.
Bagaimana proses perawatan selanjutnya? Magdalena Peni Ladjar, Alumni Akademi Sekretaris dan Manajemen (Aksema) Makasar pimpinan Yosep Tupen Palan menuturkan, menjadi tanggung jawab pihak Pramuka SMAK St. Yakobus Rasul, Guru pendamping, Kades dan warga desa Ulumado.
“Pihak sekolah akan melakukan monitoring dan rencananya pada bulan Desember akan melakukan monitoring dan reboisasi lanjutan serta melakukan penyulaman”, urai Peni Ladjar.
Pada kesempatan terpisah, menurut Kades Ulumado, “Saya atas nama pemerintah Desa Lite Ulumado, mengucapkan terima kasih kepada LSM Pelita Harapan yang telah bekerja sama dengan SMAK St. Yakobus Rasul dalam hal reboisasi di sumber mata air Waigolo dengan cara penanaman dan irigasi tetes. Dan saya atas nama pemerintah Desa bertanggugjawab atas keberlanjutan irigasi tetes yang sudah ditanam bersama”, tutur Kades dengan nada tegas.
“Upaya perawatan dilakukan secara gotong-royong melibatkan seluruh warga masyarakat dengan iklas”, ujar Kades dengan nada harap. “Namun, sekarang masyarakat masih sibuk mengurus kebun untuk persiapan musim tanam maka untuk sementara perawatan ditangani oleh Pemdes dan BPD”, kata Kades memberikan alasan.
Menurutnya, pelestarian Mata Air Wai Golo merupakan tanggung jawab bersama karena mata air tersebut menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar dan masyarakat Kota Lewoleba.

Ketua Gudep SMAK St. Yakobus Rasul Lewoleba, Benediktus Bataona, mengutip siaran pers humas sekolah mengatakan, kegiatan ini merupakan implementasi nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka, khususnya cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
“Pramuka harus menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan. Menanam pohon adalah langkah awal, tetapi memastikan pohon itu hidup hingga tumbuh besar adalah bentuk tanggung jawab yang sesungguhnya. Karena itu, penggunaan irigasi tetes menjadi bagian penting dari upaya perawatan bibit di musim kemarau”.
Demikian secuil aksi nyata anak-anak generasi milineal Lembata. Patut diberikan apresiasi walau belum terasakan manfaatnya. Aksi nyata ini untuk menjaga kelestarian kawasan resapan air sekaligus membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga dan mencintai lingkungan hidup.
Lebih khusus lagi menjaga kelestarian sumberdaya air karena merupakan kebutuhan vital manusia.
“Tentu dampaknya akan dirasakan minimal 5-10 ke depan, melalui penelitian untuk melihat apakah pohon/hutan semakin hijau atau tidak, debit air semakin besar atau tidak”, ujarnya menutupi pembicaraan.+++
simon.kopong.seran
