RUTENG – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Hingga pukul 12.30 WIB, 14 orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka dan 2000 penyintas akibat gempa tersebut
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diterima Beritasatu.com, dari 13 korban luka, dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut masih dalam proses verifikasi dan validasi di lapangan.
Korban meninggal dunia tersebar di tiga kabupaten. Sebanyak tiga orang meninggal dunia di Kabupaten Sikka, enam orang di Kabupaten Manggarai, dan lima orang di Kabupaten Manggarai Timur.
Sementara korban luka dilaporkan berada di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur. BNPB menegaskan jumlah korban masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan.
Selain korban jiwa, sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri. Sebagian besar warga mengungsi setelah merasakan guncangan kuat dan menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan.
Gempa Berpusat di Laut Flores
Gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB, dengan episentrum gempa berada di koordinat 8,41 lintang selatan dan 121,39 bujur timur, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Sulawesi Selatan. Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami.
Namun, setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan, BMKG menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir. Masyarakat tetap diminta waspada terhadap gempa susulan dan menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan.
Kesaksian warga dan Nenek 90 Tahun Yang selamat
Arnoldus Peamole, warga Bajawa, Flores, mengaku gempa terjadi saat dirinya masih bersantai sesaat setelah bangun tidur. Kepanikan yang ia alami bersama salah satu anggota keluarganya bahkan mendorongnya keluar rumah dengan melompat dari jendela.
“Saat gempa terjadi itu saya sudah bangun. Saya tidur sama saudara. Rasanya getaran besar sekali. Kami enggak sempat membuka pintu, kami langsung lompat keluar dari jendela sampai ke depan rumah dan ternyata warga juga sudah panik,” ujar Arnoldus.
Meski sudah berhasil menyelamatkan diri dari dalam rumah sesaat setelah gempa terjadi, Arnoldus dan saudaranya baru menyadari masih ada anggota keluarga mereka yang masih tertinggal.
“Sampai di depan rumah, baru ingat ada nenek saya yang berusia 90 tahun lebih. Kami langsung kembali ke dalam untuk mengangkat nenek keluar rumah dan berlindung di tempat terbuka,” ucapnya.
Guncangan lebih besar dari gempa 1990
Ia mengaku sempat berbincang dengan beberapa anggota keluarga lain mengenai gempa yang baru ia rasakan. Beberapa di antara mereka menyebut getaran gempa terasa lebih besar dibandingkan kejadian pada 1992 silam.
“Guncangan itu (kami rasakan) sekitar 1 menit, terus susulannya mungkin terasa sekitar empat kali. Namun, susulan yang kedua, ketiga, keempat itu guncangannya tidak terlalu besar,” kata Arnoldus.
Beruntung, Arnoldus menyebut kondisi rumahnya tidak mengalami kerusakan signifikan akibat guncangan gempa itu. Ia menyebut hanya ada retakan pada bagian lantai kamar mandi rumahnya, tanpa ada bagian rumah yang roboh.+++
god.t/bonito
