Camping Seni Bukan Sekedar Mimpi Kecil di Kolontobo

Anak anak tidak membutuhkan guru yang sempurna, mereka butuh guru yang mau menjadi teman

LEWOLEBA – DENGANmenjauh dari rutinitas sehari-hari, camping menjadi wadah yang sempurna untuk menanamkan nilai-nilai positif seperti tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan. Camping atau berkemah kerap menjadi jalan membangun mimpi mimpi besar.

Di Pantai Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, ratusan anak anak taman literasi dari lima desa berkumpul, merajut mimpi, 18 April 2026.

Komunitas Literasi Sumbu Pakerti Kecamatan Ile Ape menjadi buang inisiatif kegiatan ini dengan branding camping seni.

Taman literasi yang tersebar di Desa Kolontobo, Desa Petuntawa, Desa RiangBao dan Desa Dulitukan sehati membangun karakter peserta melalui thema, Membangun Kepercayaan Diri Anak Sejak Dini Melalui Panggung Kesenian.

Maria Mila Ate, Ketua Komunitas Literasi Pakarti Ile Ape menjelaskan kegiatan CAMPING SENI 2026 mengusung tema “Membangun Kepercayaan Diri Anak Sejak Dini Melalui Panggung Kesenian” di awali dengan kegiatan Literasi Bersama Fasilitator tamu dari Komunitas Forum Pinggir Jalan dan Komunitas Pondok Perubahan.

“Aktivis literasi Pondok Perubahan mencoba membangun kepercayaan diri anak anak melalui Bibi dongeng kemudian Anak-anak diminta untuk menceritakan kembali. Sementara, Forum Pinggir Jalan-Lembata meningkatkan kesadaran Anak-anak sejak dini tentang batasan tubuh dalam membangun kepercayaan diri. Di sisi lain, Anak-anak yang berusia kisaran 5-6 tahun melakukan kegiatan mewarnai ditempat yang berbeda”, jelas Maria Ate.

Menurut Mila, guru yang paling bijak adalah pengalaman bersama semesta. Anak anak tidak membutuhkan guru yang sempurna, mereka butuh guru yang mau menjadi teman.

“Anak-anak tidak membutuhkan guru yang sempurna. Mereka hanya butuh guru yang mau menjadi temannya yang bersedia mendengarkan dan membuat mereka belajar mengenal potensi dalam diri anak-anak”, tutur Maria Ate.

Kegiatan camping seni yang dihadiri Bunda Literasi Lembata  Ursula S. Bayo; Istri wakil bupati Lembata, Hj. Nurmila Nasir; Kadis Perpustakaan, Anselmus Asan Ola; Camat Ile Ape, Laurens Manuk dan Kepala Desa yang menjadi peserta kegiatan.

Camping ini digelar berbagai kegiatan edukasi pengelolaan sampah dan kreasi kerajinan tangan oleh Mbak Sepmy, pengerajin tangan dari sampah.

Anak-anak diberikan edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah dan kemudian dilanjutkan dengan proses kreasi kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah-sampah plastik, pentas seni setiap taman literasi membawakan jenis pertunjukan yang berbeda, yakni Kabaret, Teater, dan Seni Tari.

“Kegiatan diakhiri dengan pertunjukan teater Mimpi Kecil dari Taman Literasi Dulitukan”, tutur Maria Ate sembari menginspirasi pembentukan komunitas Baibereun yang beranggotakan fasilitator literasi di Kabupaten Lembata.

Literasi Untuk Hidup

Bunda Literasi Lembata, Ursula Surat Bayo Tuaq dalam sambutannya menyampaikan Literasi merupakan fondas utama dalam Pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

“Tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari”, jelas Ursula Bayo.

Dalam Konteks kabupaten Lembata, Gerakan literasi memiliki makna yang sangat penting dan strategis. Lembatakaya akan budaya, Bahasa dan kearifan lokal perlu diangkat dan dilestarikan melalui kegiatan Literasi. Lembata memiliki banyak ceritra rakyat, Sejarah lokal, hingga tradisi lisan yang luar biasa. Semua itu perlu dituangkan dalam bentuk tulisan, dibaca oleh generasi muda, dan dijadikan warisan yang terus hidup.

Ursula tidak lupa memberikan  apresiasi kepada Komunitas Sumbu Pakarti bersama seluruh pegiat literasi yang telah bekerja dengan penuh dedikasi untuk membangun karakter anak anak Lembata.

“Kita semua menyadari bahwa membangun kepercayaan diri anak tidak bisa dilakukan secara instan. Ia harus ditanamkan sejak Dini, dipupuk dengan kasih sayang, dan diperkuat melalui pengalaman nyata”, demikian Ursula. +++


sandro.wangak


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *