“Panggilan itu misteri. Di mana pun saya berada jika Tuhan berkehendak maka semua bisa terjadi le…”, ungkap spontan Suster Fransiska Ledjab, JMJ, saat berbincang-bincang dengan penulis belum lama ini.
Artinya, manusia boleh bercita-cita namun Tuhan berkendak lain maka bisa saja tidak terwujud, bahkan ada yang sudah menerima kaul untuk hidup selibat namun bisa keluar dan hidup sebagai awam. Hal ini sangat dimaknai oleh Suster Siska.
Dalam obrolan itu, terungkap bahwa Suster Fransiska Ledjab, sejak kecil bercita-cita untuk hidup membiara. Pada hal sejak masih usia bocah yang hidup di kampung halaman, Waiwejak Kecamatan Atadei Lembata belum memahami apa itu suster.
“Sewaktu masih kecil, ketika ditanyakan, saat besar menjadi apa, saya selalu menjawab menjadi Suster”, tutur Suster mengenang masa kecilnya. Saat beranjak dewasa saat memasuki dunia pendidikan, begitu banyak mendapat tantangan sehingga panggilan menjadi Suster sempat hilang. Namun paska menamatkan pendidikan SMA (1989), berpikir kembali untuk memilih hidup membiara.
Pada awalnya sempat melamar pada kongregasi SPC, Suster St. Paulus dari Kartes, namun tidak jadi berangkat. Pada suatu kesempatan, secara kebetulan kaka ipar punya saudari tiga orang sudah menjalani panggilan hidup membiara pada kongregasi JMJ, berlibur di kampung halaman. Ketiga saudara yang memilih ordo Suster Jesus Maria Joseph (SJMJ), keluarga Kudus Nasareth itu pun mengajak ketika saya menyampaikan niat untuk hidup membiara. Pada tahun 1990, menulis lamaran ke Susteran JMJ di Makasar. Memilih tempat jauh, juga punya pertimbangan lain.

“Yah… di Flores juga banyak biara, namun kalau memilih di Flores maka bisa saja saya akan pulang”, tutur Suster memberikan alasan.
Tahun 1990 mulai mengikuti proses pembinaan dan pendidikan hidup membiara, mulai dari aspiran dan tahun 1991 mengikuti postulant. Semua proses berjalan lancar tanpa hambatan. Tahun 1991, menulis lamaran kembali mengikti novis tahun pertama (1992) kemudian lanjut pada novis tahun kedua (1993). sampai pada akhirnya tahun 1994, atas restu dari Tuhan dan pertolongan Bunda Maria, akhirnya menerima kaul pertama bersama 10 Suster lainnya dari 11 yang mengikuti aspiran.
Ketika ditanya, apakah ada peristiwa istimewah sewaktu masa cilik yang memberikan inspirasi untuk memilih hidup selibet? Yah sebenarnya tidak ada hal atau peristiwa istimewah. Kebetulan warga satu kampung ada juga yang sudah memilih hidup membiara menjadi Suster dari kongregasi CIJ, namun hal itu bukan hal yang menarik (secara fisik) buat saya.
“Yah…semua itu merupakan misteri Allah yang sulit diselami secara akal sehat. Kalau itu merupakan kehendak Allah, maka semuanya bisa terjadi”, ungkap Suster lagi.
Dalam perenungan yang panjang, Fransiska memilih motto, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”. (1 Timotius 1:12). “Hal yang paling utama dan pertama adalah Tuhan setia kepadaku. Tuhan menaruh kepercayaan kepadaku lalu menetapkan aku melaksanakan tugas dan pekerjaan-Nya ini, maka aku pun harus setia untuk menerima tugas pelayanan ini untuk kemuliaan nama Tuhan”, kata Suster seolah berjanji pada dirinya. Yah banyak tantangan namun hidup membiara adalah pilihan sendiri, maka dijalani dengan sukacita.
“Pada prinsipnya, saya menyadari bahwa saya yang harus menentukan nasib sendiri, bukan paksaan dari siapa pun, maka saya iklas menjalaninya. Soal kesalahpahaman dalam hidup membiara adalah hal biasa namun suatu tekad yang bulat maka dijalani dengan sukacita. Saya masih ingat betul, Kaka Karel Tue Ledjab pernah bersurat mengatakan, Siska, di kalangan keluarga kita kalau sudah membuang ludah, jangan menariknya kembali”, ceritra Siska mengenang.
Artinya bahwa ketika sudah membuat keputusan, maka harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah diambil, dan jangan sampai gagal di tengah jalan Kalimat itu terus mengiang di genderang telinga, namun menjadi tantangan dan pemantik motivasi berlipat-lipat untuk tetap setia dalam jalan panggilanNya sampai pada akhirnya Tuhan tetap setia dan memilih untuk hidup membiara.
Sebenarnya pada awalnya orang tua tidak setuju memilih hidup membiara karena saya sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara yang selalu dimanjakan, sehingga (mungkin) keluarga meragukan kemampuan saya dalam hidup selibet. Lagi pula, hidup pada keluarga yang sangat sederhana dan bapa meninggal dalam usia kecil, sewaktu kelas 5 SD.
“Hal merupakan awal kehidupan baru yang harus saya jalani. Dari si anak manja sudah harus berjuang untuk masa depan yang lebih baik”, ungkap Suster dengan nada lirih.
Dalam tugas pelayanan hidup membiara, kurang lebih 34 tahun (sejak tahun 1994), lebih banyak mengabdikan diri pada tugas pelayanan karitas sebagai tenaga medis. Tahun 1994-1996, ditugaskan di RS. Hermana Lambean Sulawesi Utara pada Instalasi Farmasi rumah sakit dengan tugas meracik obat dan pelayanan obat-obatan. Tahun 1996-1998, ditugaskan di RS. Gunung Maria Tomohon Sulawesi Utara pada bagian farmasi, sehingga tahun 1998 kongregasi mempercayakan mengikuti pendidikan pada Fakultas Farmasi Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta dan sukses meraih gelar Sarjana Farmasi pada akhir tahun 2003.
Pasca menyandang gelar Sarjana Farmasi, ditugaskan pada RS. Budi Mulia Bitung Sulawesi Utara, lalu tahun 2005-2009 di RS. Bitung. Tahun 2009-2010 melanjutkan pendidikan spesialis Apoteker, lalu ditempatkan di RS. Gunung Maria Tomohon sampai tahun 2011, selanjutnya dipindahkan ke bagian farmasi milik Yayasan sampai dengan tahun 2022 lalu ditugaskan pada bagian keuangan rumah sakit sampai sekarang.
Menyadari akan segala tugas pelayanan yang dipercayakan, menurut Siska, sebagai anggota terekat, maka selalu setia dan taat menjalankan tugas dengan iklas. Pada dasarnya, Susteran Yesus Maria Yoseph, mengemban misi dan semangat selalu menyesuaikan diri dengan keadaan jaman. Semangat ini menuntut para anggota tarekat untuk selalu siap sedia, kesetiaan sempurna dalam tugas pelayanan. Hal ini, sejalan dengan visi misi kongregasi dan terinspirasi dari Ignasius Loyola yang berlatar belakang militer.
Suster Fransiska Ledjab tak urung berbicara masalah anak muda. Suster mengharapkan kepada anak muda untuk selalu menggunakan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan yang positip karena waktu tidak pernah akan kembali. Lakukan kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan karena masa depan ditentukan oleh diri sendiri bukan ditentukan oleh orang tua, saudara atau orang lain.
Setiap keputusan yang diambil untuk menentukan masa depan, ada di tangan sendiri. Kalau memilih menjadi tukang ojek, maka lakukan dengan baik, tulus, setia dan profesional karena di sana akan ditemukan kenyamanan dan kebahagiaan. Perlu juga mengatur pola hidup yang sehat dan pola makan yang baik, karena ketika kita sehat maka kita bisa melayani orang lain.
Dengan menjamurnya media sosial yang dapat menggerus etika anak-anak muda, Suster berpesan, gunakan media sosial secara positip. Dengan perkembangan jaman maka media sosial juga bagian dari kemajuan, namun kita perlu mengambil hal positipnya. Anak-anak sekarang sibuk dengan permainan HP, sehingga mengabaikan etika kehidupan. Itu hal yang paling sederhana soal etika. Anak dipanggil untuk suatu urusan, selalu cuek, tidak mau hiraukan, masa bodoh.
“Yah boleh sibuk main HP, namun ketika dipanggil harus menjawab dan apa yang dibicarakan juga harus didengar” tutur Suster berpesan.
Pada kesempatan berharga ini, Suster Fransiska memperkenalkan kongregasi Suster Jesus Maria Joseph (SJMJ), yang mempunyai visi misi di bidang pendidikan, kesehatan dan pastoral sosial. Dalam bidang pendidikan, ordo SJMJ ikut membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menciptakan manusia yang berkarakter dan beriman kepada Tuhan untuk hidup menyesuaikan keadaan jaman.
Ordo ini mempunyai ribuan sekolah di tanah air, mulai dari TK sampai perguruan tinggi (Stikes). Pada bidang pelayanan kesehatan, mendirikan rumah-rumah sakit di tanah air dan saat ini SJMJ memiliki 9 rumah sakit di Sulawesi.
Untuk mendukung tugas pelayanan kesehatan, Susteran JMJ juga mempunyai sekolah tinggi ilmu kesehatan di Makasar. Dalam bidang pelayanan sosial, dibangun juga panti jompo dan asrama.+++simon.kopong.seran









