SULIH NUSA – Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, melakukan sebuah inovasi dalam optimalisasi layanan publik sekaligus mengadvokasikan berbagai program maupun kebijakan Kemdikbudristek melalui pemanfaatan media sosial serta menjaring berbagai hambatan tantangan yang ditemukan oleh para penggerak pendidikan di daerah.
Inovasi layanan publik ini dilakukan dengan cara menyelenggarakan Instagram live dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang pendidikan. Episode pertama dari acara tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2022 lalu dengan tema Belajar Dari Timur: Kisah Guru Kupang Menuju New Zealand, yang menghadirkan narasumber Dra. Maria Theresia Rosalina Sadinah Lana, Kepala Sekolah SMPN 8, Kota Kupang, NTT.
Lulus dari SMAN 453 Bajawa tahun 1986, Roslin melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Pendidikan, Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT tahun 1992. Pada tahun 1998 Roslin diangkat menjadi guru PNS dan sepanjang karirnya ia pernah menjabat sebagai Kepala Urusan Hubungan Masyarakat di SMPN 13 Kota Kupang, tahun 2009 s.d 2013, Kepala Urusan Kurikulum di SMPN 13 Kota Kupang di tahun 2013 s.d 2018, Kepala Sekolah SMPN 13 Kota Kupang di tahun 2013 s.d 2021, dan Kepala Sekolah SMPN 8 kota Kupang sejak tahun 2021 hingga sekarang. Ia juga meraih berbagai penghargaan, di antaranya penghargaan sebagai tim pengembang kurikulum, sebagai Guru Inti Kurikulum 13, sebagai guru berprestasi jenjang SMP tingkat Kota Kupang dan tingkat nasional kategori PTK (Penelitian Tindakan Kelas) terbaik.
Prestasinya inilah yang kemudian mengantarkannya ke New Zealand mengikuti short programme pengembangan guru pada tahun 2014 yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek RI. Roslin dikenal aktif diberbagai organisasi, berdedikasi tinggi, humble, sehingga ia sering dilibatkan di berbagai diklat-diklat pengembangan kompetensi profesi guru. Salah satunya adalah Diklat Instruktur Nasional Kurikulum 2013. Gemar membaca dan menulis mampu mendorongnya menghasilkan beberapa karya tulis. Bahkan Ia tularkan kepada warga sekolahnya di SMPN 13 Kota Kupang hingga melahirkan sebuah karya tulis. Karya tulis lainnya yang menghantarkannya menjadi finalis Guru Berprestasi dan Berdedikasi karya tulis ilmiah hasil PTK dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Siswa Materi Usaha Bela Negara Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Kelas VII B SMP Negeri 13 Kupang tahun ajaran 2013/2014.
“Proses lomba karya tulis ini amat panjang. Mulai dari tingkat kota, lanjut ke tingkat provinsi. Peserta yang juara di tingkat provinsi menjadi finalis tingkat nasional, yakni lomba karya tulis ilmiah terkait PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek. Peserta lomba merupakan perwakilan dari provinsi mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK hingga pengawas sekolah juga kepala sekolah dari semua jenjang berkompetisi. Lolos menjadi terbaik dari kompetisi ini mendapat kesempatan ke luar negeri. Ada yang ke Finlandia, New Zeland dan Cina. Saya bersama 13 teman lainnya dan didampingi Prof. Wardiman berkesempatan ke New Zeland”, beber Roslin. Selama 14 hari berada di New Zealand, Roslin bersama teman-temannya mendapat kesempatan belajar tentang kurikulum di University of Canterbury, kunjungan ke beberapa sekolah terbaik dengan level berbeda, serta belajar manajemen sekolah. “Sungguh ini anugrah yang luar biasa dari Tuhan untuk saya”, ungkap Roslin.
Di sesi menjawab pertanyaan dari Host, Roslin cerita tentang kisah menarik yang dijumpainya selama mengikuti short programme pengembangan guru di New Zealand. “Di New Zealand itu untuk pembelajaran nilai sangatlah luar biasa dan juga dikenal sebagai salah satu negara terbaik di bidang pendidikan. Kurikulum yang berlaku di sana terdiri dari 3 level, yakni kurikulum nasional, kurikulum sekolah, dan kurikulum kelas. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka yang berlaku saat ini kita diadopsi dari sana, termasuk sistem zonasi yang saat ini dikembangkan di Indonesia. Sebenarnya di New Zeland sudah berlaku sejak lama, di mana sekolah-sekolah dikelompokkan dalam zona-zona tertentu. Kurikulum nasional sebagai acuan dan sekolah dapat menentukan kurikulumnya sendiri. Untuk menghindari perbedaan di antara mereka, anak-anak di sana bersekolah berdasarkan minat dan bakatnya. Selanjutnya, poin paling istimewa saya pelajari dari sistem pendidikan di New Zeland adalah pendidikan nilai, itu sangat luar biasa. Di sana peserta didik digiring, diberi pengalaman bagaimana beradaptasi serta berinteraksi sosial dengan dunia sekitar terutama untuk melestarikan budaya mereka. Bagi anak yang sangat berprestasi di tingkat sekolah biasanya diberi poin. Anak yang memiliki sikap baik diberikan reward berupa pin. Semakin banyak pin menempel di bagian dada pada baju seorang siswa menunjukkan bahwa anak tersebut adalah siswa yang berprestasi di sekolah itu”, kisahnya.
Roslin menambahkan bahwa penguatan karakter yang dilakukan pemerintah saat ini pelalui Projek Profil Pelajar Pancasila merupakan langkah tepat. “saya berpikir bahwa penguatan karakter yang kita laksanakan saat ini merupakan satu langkah yang sangat bagus dalam rangka bagaimana nilai-nilai juang, nilai-nilai semangat bangsa itu diteruskan lewat pendidikan di sekolah. Projek Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan Kemdikbudristek saat ini merupakan poin utama dan sangat menraik dari Kurikulum Merdeka. Kami di daerah sangat menyambut dengan baik, sebab selain lost learning, penurunan nilai juga terjadi khususnya di lingkungan kami di Kupang, NTT. Ketika penurunan nilai terjadi dan di saat itu pemerintah mengangkat Projek Profil Pelajar Pancasila, tentu ini menjadi gerakan bersama yang harus kita sambut baik sehingga nilai-nilai yang sebelumnya sempat drop bisa kita angkat dan pulih kembali. Tentu ini kebanggaan sekaligus tanggung jawab moril bagi saya sebagai guru PPKN. Sehingga saya sebagai Kepala Sekolah sangat mendukung Projek Profil Pelajar Pancasila”, serunya.
Selain pendidikan nilai, siswa juga diberikan pengalaman baru melalui keterlibatannya dalam proses kurikulum sekolah. “Kurikulum di New Zealand itu melibatkan anak-anak dalam proses kurikulum sekolah, sebagai contoh di salah satu sekolah yang kami kunjungi saat itu. Kami dijemput oleh peserta didik di sana dan seluruh kurikulum yang berlaku di sekolah dijelaskan oleh peserta didik tersebut kepada kami. Gurunya hanya memantau dan anak-anak menjelaskan tentang kurikulum sekolahnya”, kisah Roslin.
Lantas ia pun menggambarkan keterlibatan peserta didik di Indonesia dalam proses kurikulum di sekolah. “Memang sangat berbeda, namun itu bisa dikarenakan sistem pendidikan kita yang belum memberikan ruang untuk melibatkan siswa dalam proses kurikulum di sekolah. Tapi di SMPN 8 Kota Kupang saya sudah menerapkannya. Saya melibatkan peserta didik dalam berbagai hal di sekolah, walaupun belum sama persis seperti yang saya temukan di New Zealand. Keterlibatan siswa di sekolah kami terutama dalam pengambilan keputusan khususnya dalam proses penyusunan RKS, pada pagi hari pengurus OSIS menyambut kedatangan teman-temannya di depan sekolah, dan melibatkan siswa sebagai Satgas Covid di sekolah”, seru Roslin.
Selanjutnya, pengalaman Roslin lainnya yang tidak kalah menarik dengan pengalaman sebelumnya selama di New Zealand adalah tentang manajemen sekolah. “Selain belajar tentang kurikulum, kami juga belajar manajemen sekolah. Bahwa untuk menjadi sekolah yang baik, maju atau tidaknya suatu sekolah itu tergantung dari kepala sekolah. Bagaimana kemampuan kepala sekolah menggerakkan serta memberdayakan seluruh stakeholder yang ada di satuan pendidikan. Di New Zealand itu, seluruh pendidikan menjadi tanggung jawab negara dan diserahkan kepada komite sekolah. Oleh karena itu peranan komite sekolah di sana sangat strategis. Sebab komite sekolah yang menentukan keberadaan guru yang mengajar di sekolah. Guru dievaluasi, diangkat, dan diberhentikan oleh komite sekolah. Jadi para calon guru mengajukan lamaran kepada komite sekolah dan komite sekolah menentukan guru tersebut diterima atau tidak. Setiap dua atau tiga tahun sekali para guru dievaluasi oleh komite sekolah. Biasanya bila komite sekolah sibuk, maka evaluasi dilakukan oleh sekolah. Pastinya sekolah bersama komite sekolah memutuskan bahwa guru yang bersangkutan tidak lagi menjadi guru di sekolah tersebut”, kisah Roslin.
Ia pun menambahkan bagaimana peran komite sekolah yang diatur dalam Permendikbud No. 75 tahun 2005. “Kita sudah memberikan ruang kepada komite sekolah untuk berkontribusi, berpartisipasi dalam penyelenggraan pendidikan di sekolah. Hanya saja terkadang peran komite di sekolah menjadi kecil bila kurang mendapat dukungan dari kerja sama yang dibangun oleh pihak sekolah. Peran komite sekolah di Indonesia itu tidak dikesampingkan. Buktinya, ada Keputusan Menteri terkait komite sekolah. Hanya saja sumbangan yang diberikan komite sekolah kepada sekolah itu biasanya sifatnya berupa sumbangan (dalam bentuk uang iuran). Untuk jenjang pendidikan SD dan SMP kutipan iuran secara rutin itu tidak boleh diadakan, tapi dalam bentuk sumbangan dan itu sudah merupakan sesuatu yang sangat luar biasa sebagai dukungan bentuk partisipasi. Namun demikian di SMPN 8 Kota Kupang peran komite sekolah sangatlah besar, misalnya peran komite dalam sarana dan prasana di sekolah mendapat dukungan dari sekolah. akan tetapi sedikit menjadi kelemahan yang terjadi dilingkungan kami bahwa justru masyarakat sendiri yang kurang menghargai posisi komite sekolah. Yang ditunjukkan sikap orang tua siswa bila melihat Ketua Komite Sekolah hadir di sekolah, misalnya saat menghadiri rapat pembagian rapot sudah tertanam bahwa image bila komite sekolah hadir saat rapat di sekolah, maka akan ada pungutan sumbangan”, ujar Roslin.
Dalam hal implementasi kurikulum merdeka di daerah khususnya di sekolah, Roslin mengatakan bahwa sekolahnya siap mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan sudah menyiapkan anggaran khusus. Kemudian ia pun menambahkan bahwa selama ini sekolah mendapat informasi tentang program hingga kebijakan-kebijakan baru dari pusat melalui Dinas Pendidikan Kota Kupang dan juga LPMP Prov. NTT. Ia mencontohkan dalam pengimplementasian Kurikulum Merdeka.
“Kami SMPN 8 Kota Kupang bukan Sekolah Penggerak. Kami salah satu sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka berdasarkan SK Kemdikbud untuk tahun ajaran 2022/2023. Dari Dinas Pendidikan Kota Kupang siap melakukan pendampingan dan sudah disosilaisasikan terutama sekolah-sekolah yang sudah ditetapkan melaksanakan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran baru ini. Kami terus diinformasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Kupang dan LPMP Prov. NTT. Selain itu kami juga mendapat materi maupun bahan dari LPMP Prov. NTT dan kami para guru di SMPN 8 Kota Kupang belajar secara ortodidak menggunakan platform Merdeka Belajar di akun Merdeka Mengajar untuk menyusun bahan, modul ajar, dan lainnya serta menyiapkan cost khusus untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di sekolah kami karena para guru di sini belum mendapat pelatihan Kurikulum Merdeka”, pungkasnya.
+++Linda Efaria
Analisis Informasi dan Data PSKP
Email : linda.efaria@gmail.com
