SULUH NUSA, ADONARA – PERAYAAN Idul Adha 1443 H tahun 2022, terasa istimewa oleh Umat Islam di dunia termasuk di Kabupaten Flores Timur.
Keistimewaan perayaan Idul Adha ini juga dirasakan oleh umat muslim di Desa Wewit, Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur dan sekitarnya berkumpul melakukan Shalat Ied bersama di lapangan Desa Bidara dihadiri ratusan umat.
Shalat Ied yang dipimpin oleh Imam Ramli Umar, S.Ag dan Kothib Ustad Asy’ari Hidayah Hanafi dimulai tepat Pukul 07.00 Wita.
Pantauan SuluhNusa.com (weeklyline media network), di lokasi Shalat Ied, ratusan umat muslim pria dan wanita, anak anak da orang dewasa berbondong bondong ke lokasi, karena sejak pandemi, tahun 2022 menjadi tahun pertama Shalat Ied dilakukan terpusat di satu lokasi.
Dalam kotbahnya, Ustad Asy’ari Hidayah Hanafi menggambarkan keteladanan hidup Nabi Ibrahim yang dapat dicontoh oleh generasi saat ini.
Hidayah Hanafi atau sering dikenal Arie Toekan ini membeberkan saat ini ada empat ciri generasi yang dirindukan.
Pertama, generasi yang mencintai kebenaran. Nabi Ibrahim, bukan hanya memahami kebenaran dan hidup secara benar.
“Tetapi Ia mencintai kebenaran sehingga sangat membenarkan apa saja yang datang dari Allah swt yang maha benar, ” Ungkap Arie Toekan, ustad yang berprofesi sebagai guru ini.
Kedua, geberasi yang memiliki idealisme berkelanjutan. Nabi Ibrahim memiliki idealism dalam mempertahankan nilai nilai kebenaran sejak muda sampai tua. Ketika ia menghancurkan berhala hala, Ibrahim masih sangat muda.
Ia (Nabi Ibrahim) mencontohkan kepada kita bahwa prinsip Ketuhanan dan Aqidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar tawar. Sejak remaja Nabi Ibrahim sudah berjuang agar keluarga, masyarakat dan pemimpin terbuka hati dan pikirannya atas kesesatan bertuhan selain Allah swt.
“Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, menyebutkan tentang pentingnya masa muda. “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidaklah diberi ilmu melainkan diwaktu muda’, sebut Ustad Arie.
idealisme Nabi Ibrahim tidak hanya pada masa muda tetapi terus berlanjut sampai hari tua. bandingkanlah suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintahkan Allah swt untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. karena konsistensi idealisme kepercayaan Allah sehingga Ibrahimpun memutuskan untuk melaksanakan perintah Allah.
“Jejak idealisme ini diikuti oleh anaknya Ismail. Konsistensi idelaisme ini yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan di Lewotanah kita, ” Ustad Arie yang sudah menulis beberapa buku ini.
Jangan sampai ada generasi yang masa mudanya menentang kezaliman tetapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman. jangan sampai ada generasi yang sejak muda menentang korupsi tetapi dimasa tua ia berubah menjadi seorang koruptor. Jangan sampai dahulu muda berpihak dan berjuang bersama rakyat tetapi berubah menzalimi rakyat ketika berkuasa di umur yang lebih tua.
Ketiga, Generasi Shaleh. Kerinduan Nabi Ibrahim akan kehadiran seorang anak di mada tua bukan untuk mewariskan kekayaan harta benda tetapi mewariskan perjuangan menyebarkan dan menegakan nilai nilai kebenaran yang datang dari Allah swt.
Keempat, dialog berkualitas dengan sesama untuk melaksanakan perintah Allah dan kebaikan-Nya harus melibatkan orang lain. Membangun dialog yang berkualitas dan perjuangan mempertahankan Allah sebagai kebenaran ilahi. +++opick.pasandan






