IKA Lembata “Sulut Api” Literasi

SULUHNUSA, LEMBATA – “Deket nolhon dopi nong gala, deket murinen tulis basa”, demikian seuntai petuah dalam sastra lisan Lamaholot yang mengakar di hati orang-orang Adonara pada umumnya dan sebagian besar orang Lembata. Iya, kehebatan orang-orang di zaman baheula nampak dari parang, tombak dan perisai. Tetapi kini, menulis dan membaca adalah senjata terampuh melawan musuh. Begitu kira-kira makna dari petuah itu. Dan, orang-orang Lamaholot sudah punya banyak bukti empirik.

 

Memang benar. Petuah Lamaholot tersebut di atas punya daya magis yang kuat dalam upaya memajukan peradaban literasi. Tidak hanya bagi anak-anak Lamaholot tapi juga bagi anak-anak se-Nusantara.

 

Bukan isapan jempol. Bukan pula sekedar kata-kata pujian bombastis. Ini benar-benar faktual. Ketika di usia peraknya, sebuah paguyuban keluarga lokal, berani ambil sikap; merayakan hari bahagia itu dengan berliterasi. Itulah Ikatan Keluarga Adonara (IKA) Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

IKA Lembata tepat merayakan ulang tahunnya yang ke-25 pada 11 Mei 2022. Namun, oleh karena beberapa alasan mendasar termasuk liburan idul Fitri, perayaan syukur itu baru akan dirayakan pada 25 Mei 2022 yang akan datang. Begitu pula dengan beragam kegiatan yang telah direncanakan menyongsong pesta perak itu. Akhirnya terpaksa molor diselenggarakan.

 

Sabtu, 21 Mei 2022 adalah hari yang sulit dilupakan bagi IKA Lembata dan para pegiat literasi. Di akhir pekan itu, IKA Lembata tercatat telah sukses “menyulut api literasi”. Dua mata lomba digelar untuk memeriahkan hari ulang tahun kelahirannya. Lomba pidato bahasa Inggris dengan tema “Promosi Pariwisata Lembata” dan lomba pidato bahasa Indonesia dengan tema “Memajukan Peradaban Literasi”.

 

Apa esensi dari penyelenggaraan lomba ini? Ketua IKA Lembata, Donatus Beda Mangu, S. Pd dalam sambutannya dengan sangat yakin menjawab pertanyaan ini.

 

“Sudah 25 tahun IKA hadir dan berkiprah di tanah Lembata. Tentu, sudah memberikan banyak kontribusi baik secara pribadi maupun secara organisasi. Di dalamnya, IKA Lembata bertekad untuk mendukung program-program pembangunan yang dicetuskan pemerintah. Dan ini salah satunya sejalan dengan roh organisasi”, paparnya.

Semua Peserta Adalah Bintang

 

Kata-kata ini diucapkan Longginus Laga Belan, S. Pd, M. Pd. Master pendidikan itu adalah ketua panitia Dies Natalis IKA Lembata yang ke-25. Ketika hendak membacakan hasil lomba yang telah ditetapkan dewan juri, dia memotivasi semua peserta dengan kata-kata itu. Lagi-lagi berkekuatan magis. Betapa tidak, dari 66 peserta pada dua mata lomba itu, hanya terpilih 12 di antaranya sebagai pemenang. Artinya, bagi yang tidak mendapat juara pun, mereka tetap layak disebut bintang. Bukan hanya para juara.

 

Yohana R. S. Soge, Hildagardis K. Dangku, Blasius A. W. Tukan. Mereka adalah para juara untuk mata lomba pidato bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs. Keyvin B. J. Ujan, Michael C. G. da Silva, Damian C. R. Peuobaq. Ketiganya adalah pemenang mata lomba pidato bahasa Inggris tingkat SMP/MTs.

Sedangkan para pemenang mata lomba pidato bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tingkat SMA/SMK/MA berturut-turut adalah Martha K. Ina Baran, Aisahi Riskiah Hamudin, Maria Artika Tuto, Dian Eka Pratiwi, Usman Masha Diva dan Diza Gizila. Bagi Longginus, para juara ini tak boleh tinggi hati.

 

“Kali ini kalian bersinar lebih cemerlang dari teman-teman yang lain. Belum tentu di kesempatan lain. Tetap rendah hati dan terus belajar”, paparnya.

Para orangtua mendampingi anaknya yang menjadi peserta lomba

Melkior Muda Makin : Harus Perbanyak “Event”

 

Salah seorang anggota Dewan Juri mata lomba pidato bahasa Inggris tingkat SMA/SMK/MA, Melkior Muda Makin, S. Pd mengharapkan agar “event-event” lomba seperti ini harus terus dilaksanakan. Menurutnya, dengan menyelenggarakan berbagai event tersebut maka kompetensi generasi muda dapat dengan mudah ditingkatkan. Tanpa penyelenggaraan event, hal itu agak sulit tercapai.

 

“Ini tidak hanya soal kompetisi. Tidak. Ini lebih terkait kompetensi”, ungkap alumnus FKIP bahasa Inggris Unika Widya Mandira, Kupang, NTT itu.

 

Oleh karena itu – Michy – demikian dia biasa disapa, mendorong semua pihak untuk mengambil bagian. Baginya, Pemerintah adalah pemangku kepentingan yang utama. Sehingga perannya harus lebih dominan; menjadi koordinator, motivator, fasilitator dan bahkan eksekutor.

 

“Iya, Pemerintah, apapun alasannya harus menjadi lokomotif. Bukan berarti pihak lain tidak perlu terlibat. Tetapi Pemerintah sebagai pemangku kepentingan harus lebih dominan berperan dalam domain ini” tutupnya di akhir perbincangan.

 

Memang, menyulut api literasi sangat membutuhkan tangan yang tegar dan hati yang ikhlas. Lebih-lebih karena literasi telah mengalami perluasan makna dewasa ini. Kalau baca, tulis, hitung saja masih belum menjadi “darah daging” kita, bagaimana dengan kompetensi literasi yang lain? Dan, terlepas dari kurang-lebihnya penyelenggaraan acara di akhir pekan kemarin, IKA Lembata telah berani memberi contoh. Api literasi telah sukses disulut oleh orang-orang berjiwa perang itu. Mari kita teruskan demi kemajuan peradaban literasi di tanah air Indonesia.

 

Selamat hari ulang tahun yang ke-25. IKA Lembata, teruslah berkarya dalam seluruh gerak pembangunan bangsa. Ad multos annos***

+++Penulis adalah ASN dan pengelolah Taman Baca Moting Maung, Lembata

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *