Ironi Kebangsaan Dalam Film Tanah Surga Katanya

suluhnusa.com – Sembari menjaga ‘Si Kecil’ yang sedang sakit, saya iseng-iseng menonton film di laptop. Judulnya, ‘Tanah Surga (Katanya)’. Sejatinya, film bergenre drama komedi ini sudah saya tonton beberapa tahun lalu. Namun, ironi kebangsaan yang begitu besar dalam film ini, memaksa saya untuk menulis catatan sederhana ini.

Film ‘Tanah Surga (Katanya)’ ini menceritakan tentang peliknya kehidupan kebangsaan
masyarakat di Pulau Kalimantan, tepatnya perbatasan Indonesia dan Malaysia. Tentang tokoh Kakek Hasyim (Fuad Idris) yang kekeh dengan keinginannya untuk tetap tinggal di Indonesia dalam kemelaratan, walau diajak puteranya, Haris (Ence Agus), untuk tinggal di Malaysia dalam kemakmuran. Di akhir cerita, Kakek Hasyim yang merupakan veteran perang Indonesia-Malaysia ini, harus menghembuskan nafas terakhir di atas sampan yang membawa dirinya berobat ke kota ditemani Dokter Intel (Ringgo Agus Rahman) dan cucunya bernama
Salman (Osa Aji Santoso).

Pada catatan ini, saya membatasi diri untuk tidak menceritakan sinopsis film ini secara utuh. Karena, saya yakin, sebagian pembaca sudah menonton film yang diproduksi pada tahun 2012, delapan tahun silam. Sementara, bagi pembaca yang belum menonton, bisa mendapatkan tayangan film ini di Youtube, dengan mewakafkan sedikit kuota pulsa internet.

Catatan ini, berfokus pada perihal-perihal ironis yang menohok relung kebangsaan Indonesia,
di tengah gencarnya pembangunan sejak zaman Bapak Pembangunan, Pak Harto, sampai Bapak Demokrasi, Pak SBY (tahun rilis film ini). Kendatipun demikian, rasanya persoalan ironi kebangsaan ini masih relevan sampai dengan saat ini.

1. Perbatasan merupakan Indonesia yang terkoyak

Pada menit ke-4 sampai ke-5, terjadi dialog antara Guru Astuti (Astri Nurdin) dan Lizer saat proses belajar mengajar di dalam kelas. Ketika Guru Astuti menunjukkan peta Kalimantan,
Lizer menanyakan di mana letak rumah kepala dusun. Guru Astuti menjawab, rumah kepala
dusun pasti ada di dalam peta, tapi petanya belum dibuat.

Mendengar jawaban ini, Lizer yang gemuk dan tambun berdiri dan langsung menuju ke belakang peta. Dengan jari telunjukknya ia menunjuk lokasi rumah pak kepala dusun, tetapi melalui lobang bagian belakang peta. Aksi jahil ini direspon oleh para siswa di kelas dengan tawa yang riuh rendah.

Pada titik ini, saya menemukan bahwa lobang peta berposisi perbatasan itu, menandakan
bahwa daerah-daerah perbatasan di Indonesia merupakan daerah yang masih terkoyak. Terkoyak secara pembangunan, terkoyak secara keadilan, terkoyak secara kemanusian, terkoyak secara pendidikan, terkoyak secara kesehatan, namun yang pasti tidak terkoyak secara kebudayaan dan cinta kasih.

Bukti yang kuat untuk menjelaskan hipotesa ini yakni di dalam film, masih ditemukan kondisi bangunan sekolah yang berdinding papan, berlantai papan, dua kelas hanya dibatasi triplek, siswa yang tidak tahu bagaimana bentuk bendera kebangsaan, penyebarangan yang hanya menggunakan perahu motor ketinting, sinyal HP yang masih naik turun, akses jalan ke Malaysia yang melewati hutan, semak belukar, dan kali, penerangan warga yang sebagian besar menggunakan lampu pelita dan obor, serta berbagai ketimpangan pembangunan.

Bila pembangunan dilakukan secara merata, dari Jakarta hingga ke pelosok, termasuk perbatasan, tentu perihal-perihal yang membuat koyak Indonesia ini tidak terjadi. Sebab, sepelosok apapun itu, selama masih menyandang titel NKRI, itu adalah bagian dari keutuhan Indonesia.

2. Mata Uang Asing yang Berlaku di Indonesia

Kondisi ironi kebangsaan lainnya yang ditampilkan dalam film ‘Tanah Surga (Katanya)’ yakni penggunaan mata uang asing (ringgit Malaysia) di daerah perbatasan. Kondisi ini
sesungguhnya miris. Betapa kita yang punya negara, tetapi uang kita kalah saing dengan uang asing. Bahkan, masyarakat di tanah sendiri lebih memilih menggunakan uang asing ketimbang uang sendiri.

Pada menit ke-19, Lizert menjadi buruh untuk membawakan barang-barang milik Dokter
Intel. Ketika Dokter Intel memberinya uang rupiah, ia spontan mengatakan uang itu palsu. Dan begitu ia diberikan uang ringgit oleh Guru Astuti barulah ia mengatakan itu uang asli.

Sebenarnya, perihal penggunaan uang asing dalam negri itu tidak masalah. Lumrah. Namun, jika ditinjau dari aspek kebangsaan akan muncul sikap apriori terhadap bangsa sendiri. Rasa tidak percaya diri memiliki bangsa sendiri perlahan-lahan akan muncul dan menjajah sanubari.

Di titik ini, semua pihak tentu harus terpanggil menjawabinya dengan cara kita
masing-masing. Utamanya, pemerintahan yang mesti rajin turun ke perbatasan untuk mensosialisasikan pentingnya nasionalisme, termasuk cinta rupiah.

3. Bendera Merah Putih dijadikan Alas Dagangan di Negara Lain

Salah satu alur cerita yang paling menohok kebangsaan saya yakni pada bagian Bendera Merah Putih dijadikan alas dagangan di negara lain. Suatu ketika, Salman menjual sarung dan kerajinan tangan lainnya ke Malaysia. Di sana, dia menemukan bendera merah putih sedang dijadikan alas dagangan oleh pedagang Malaysia.

“Pak, itu merah putih?” tanya Salman.

“Ya, kutahu ini warna merah, ini warna putih, ini kuning, ini hijau, ini warna cokelat,” kata pedagang sambil menujuk bendera Indonesia dan beberapa dagangan di sekitar.

“Merah Putih itu bendera Indonesia, Pak,” Salman mempergas maksudnya.

“Ini kan kain pembungkus dagangan aku,” balas pedagang sembari tunduk memegangi kain itu.

“Ini bendera pusaka!”

“Ini mandao pusaka milik Kakek aku,” selanya sembari menunjuk sebuah golok lantas mengusir Salman pergi dari hadapannya.

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, Salman kembali menemui sang pedagang tersebut. Kali ini, sang pedagang menjadikan kain merah putih itu sebagai pengikat dagangannya dan mengapit kain itu di kepala. Salman yang mendapati sang pedagang itu, langsung tergerak hati menukarkan sarung yang sebenarnya ingin diberikan kepada Kakeknya, dengan kain merah putih tersebut.

Mendapati bendera merah putih itu, Salman pun berlari menuju Indonesia dengan penuh suka cita dengan membentangkan kain itu dengan kedua tangannya di atas kepala, mirip atlet lari yang meraih juara 1. Adegan Salman lari membentangkan bendera merah putih ini diiringi latar lagu Indonesia Pusaka.

“Hidup Indonesia! Hidup Indonesia! Kita merdeka!” demikian teriak Salman sembari berlari membawa bendera itu.

Salman, seorang bocah SD, mampu memberi pelajaran besar dalam hal nasionalisme. Bahwa mencintai Indonesia, adalah mencintai segala hal yang berkaitan dengan identitas dan entitas bangsa.

Ketiga bagian ini, hanya sampel dari berbagai ironi kebangsaan dalam film ‘Tanah Surga
Katanya’. Masih begitu banyak hal-hal ironi kebangsaan yang ditampilkan secara tersurat
maupun tersirat. Misalnya, jalan raya di daerah perbatasan, yang masuk wilayah Malaysia berbahan aspal sedangkan masuk wilayah Indonesia berbahan tanah. Ada lagi lagu Tanah Surga karya Koes Plus lebih dihafal oleh siswa ketimbang lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Di akhir catatan ini, saya mengutip sebuah puisi pamungkas, berjudul ‘Tanah Surga Katanya’. Puisi ini dibacakan Salman di hadapan pejabat pemerintah dari kota sewaktuberkunjung ke sekolahnya, Puisi inilah membuat sang pejabat tersinggung dan memerintahkan ajudannya menghapus semua barang bantuan yang mau dia serahkan kepada sekolah Salman.

Tanah Surga Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya
Tapi kata Kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, katanya
Tapi kata Kakekku, ikannya diambil nelayan-nelayan asing

Ikan dan udang datang menghampirimu, katanya
Tapi kata Kakekku, ssttt! ada udang di balik batu

Orang bilang tanah kita tanah surga, katanya
Tapi kata Dokter Intel, yang punya surga cuma pejabat-pejabat

Tongkat dan kayu jadi tanaman, katanya
Tapi kata Dokter Intel, kayu-kayu kita dijual ke negara tetangga

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya
Tapi kata Kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.***

 

Pangeran Linggah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *