suluhnusa.com_Ada tiga aspek yang terkandung dalam kurikulum K13. Pengetahuan, Keterampilan dan sikap. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, K13 tidak menonjolkan pengetahuan.
Walau Bulan Desember 2014 lalu, Menteri Pendidikan Anies Baswedan menyatakan K13 diterapkan dengan tiga opsi. Yakni Kurikulum 2013 dicabut sama sekali. Kedua, dilaksanakan hanya di sekolah unggulan yang siap menjalankan. Ketiga, kurikulum tetap dijalankan sambil diperbaiki. “Ternyata opsi kedua yang diambil menteri,
Baswedan saat itu membatalkan pelaksanaan Kurikulum 2013 di 211.779 sekolah di seluruh Indonesia dan kembali menerapkan kurikulum 2006. Sementara itu, sebanyak 6.221 sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013 selama tiga semester diminta untuk terus melanjutkan sebagai percontohan.
Nah untuk Provinsi Bali, hampir seluruh kabupaten tidak menerapkan kurikulum K13. Hanya Denpasar yang menggunakan K13. Memang penerapan Kurikulum ini menurut rencana serentak diterapkan 2019-2020.
Dan karena itu, Pemerinta Provinsi Bali, melalui Dinas Pendidikan Provinsi Bali, melakukan Diklat Implementasi K13.
Kegiatan ini sebgai bentuk kesiapan berbagai elemen pendidikan utamanya guru untuk dapat melaksanakan kebijakan pemerintah tersebut. Diklat Implementasi Kurikulum 2013 Guru SD ini dilaksanakan selama satu minggu sejak 4 s/d 10 Oktober 2015 di Denpasar.
Diklat yang bertempat di Hotel Batukaru kawasan Ubung Denpasar, dibuka oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, Drs. I Nyoman Subrata,MM.
Subrata menegaskan bahwa Kurikulum 2013 mau tidak mau, siap tidak siap akan dilaksanakan serentak tahun 2019.
“Selama ini sejak tahun 2013, Kurikulum ini secara terus menerus dilakukan perbaikan perbaikan baik dalam hal proses maupun penilaian,” ungkap I Nyoman Subrata.
Adapun tujuan diklat diharapkan peserta mampu mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah sekolah masing masing. Terlepas dari beberapa masalah yang masih mengiringi pelaksanaan Kurikulum 2013, tetap merupakan program pemerintah yang diharapkan nantinya akan melahirkan generasi emas dalam kurun waktu 20 tahun mendatang.
Diklat diikuti oleh guru guru se provinsi Bali sebanyak 160 orang dari guru kelas 1 sampai dengan kelas 6 dan dilaksanakan dengan APBD Provinsi Bali tahun anggaran 2015. (luhwidyastuti)
