Kapolda Turunkan Tim Dalam Minggu Ini

suluhnusa.com_Tim Khusus Yang dibentuk Kapolda untuk mengusut Kasus Dugaan Pembunuhan Linus Notan, di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata akan diberangkatkan dalam minggu ini.

Hal ini disampaikan Kapolda NTT, Brigjen Endan Sunjaya, saat bertemu dengan Senator NTT, Ibrahim Agustinus Medah, Selasa, (27/01/2015) diruangan kerja Kapolda NTT, pkl.10 pagi. Ibrahim Agustinus Medah melalui staf ahlinya Laurens Leba Tukan yang ikut mndampingi Medah usai bertemu dengan Kapolda kepada wartawan menjelaskan untuk kasus Linus Notan di Lembata Kapolda NTT memberi perhatia serius.

“Beliau memberi perhatian serius terhadap kasus Linus Notan di Lembata, dan beliau sudah berjanji akan menurun tim khusus ke Lembata, besok (Rabu, 28 Januari 2014 )atau lusa (Kamis, 29 Januari 2014),” ungkap Leba Tukan.

Lebih jauh Leba Tukan mengungkapkan dihadapan Kapolda, Senator NTT di Senayan, Ibrahim Agustinus Medah mendukung kinerja kepolisian dalam mengusut tuntas kasus baik itu pembunuhan maupu kasus lain yang saat ini sedang ditangani oleh Polda NTT dan polres di NTT.

Janji Kapolda NTT ini juga disampaikan kepada pihak keluarga yang diwakili Goris Making, Sandro Wangak dan Ketua AMMAPAI Kupang Igo Making saat bertemu tim yang diwakili oleh AKBP Bambang, Jumad, (23/01/2015) di Rumah Jabatan Kapolda NTT.

Goris Making mengungkapkan bahwa Kapolda NTT melalui AKBP Bambang menjelaskan timnya turun ke Lembata dalam waktu dekat setelah mereka mempelajari dokumen dan kronologis yang diserahkan kepada keluarga.

“Kami pelajari dulu dokumen dan mendalami perkaranya dan kami laporkan Bapa Kapolda. Kami menunggu perintah Bapa Kapolda dalam waktu dekat kami ke turun Ke Lembata,” ungkap Bambang.

Selain menghadap Kapolda NTT, Endang Sunjaya dan mengaduh kepada Ibramhim Ibrahim Agustinus Medah sebagai Senator NTT di senayan, Keluarga Linus Notan juga mengirim surat ke OMBUDSMAN Perwakilan NTT, Kompolnas di Jakarta, Irwasidik Polda NTT, Komnas HAM, LPSK, Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, Ketua DPR RI, Setya Novanto, Propam Polda NTT, Kejati NTT, Kejari Lembata, Gubernur NTT Frans Lebu Raya juga Komisi I DPRD NTT, Ketua DPRD Lembata, Komisi I DPRD Lembata dan beberapa instansi terkait.

Kasus Linus Notan ini menyita perhatian banyak pihak sebab Keluarga merasa kecewa dengan kinerja Polres Lembata. Beberapa pernyataan baik dari Kasat Reskrim Polres Lembata yang lama Rahman Aba Mean dan Penggantinya Arief Sadikin menyulut kekecewaan keluarga.

Pasalnya, Rahman Aba Mean pernah mengungkapkan bahwa darah yang yang diambil dari TKP yang menempel pada batu dan kayu sebagai barang bukti adalah bukan darah manusia. Pernyataan ini disampaikan kepada Goris Making di ruangan kerjanya bulan Oktober 2014.

Parahnya lagi, Kapolres Lembata, Wresni Nugroho saat turun ke TKP sebelum dilakukan otopsi dan mengambil sample darah yang tercecer di atas batu, sampai dengan saat ini tidak ada informasi lebih lanjut kepada keluarga.

Lebih parah lagi, Kasat Reskrim Polres Lembata Arief Sadikin yang menggantikan Rahman Aba Mean, yang turun ke TKP 14 Januari 2015, memberi pernyataan yang mengejutkan kepada Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake. Bahwa, menurut Sadikin, Linus Notan meninggal karena jatuh murni dari pohon.

Pantauan suluhnusa.com yang hadir di TKP, Kasat Reskrim Arief Sadikin yang turun bersama tim dari Polres tiba di TKP sekira pkl.10 pagi, 14 Januari 2015. Dirinya mengamati lokasi TKP dan pohon tuak tempat Linus Notan di temukan meninggal. Di dampingi Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake, Sadikin sempat mengatakan bahwa pohon tuak itu miring tetapi ke atasnya lurus.

Niko Ake yang dikonfirmasi membenarkan pernyataan kasat tersebut. Niko menjelaskan, saat di TKP Kasat Arief Sadikin hanya mengamati pohon tuak, menerima telp angguk angguk dan geleng geleng kepala lalu mengatakan pohon tuak atau lontar ini memang miring tetapi ke atasnya lurus.

“Dalam perjalanan pulang Kasat memanggil saya untuk mendekati beliau. Beliau bisik kepada saya bahwa almarhum jatuh murni dari pohon tuak. Saya lalu bertanya, kalau jatuh murni terus saksi Monika Kewa yang sudah diperiksa polisi bagaimana ?Kasat jawab, Saksi Kewa itu direkayasa. Saya diam. Lalu saya tanya lagi, terus Bagaimana dengan Saksi Gaspar Molan yang sudah mengakui perbuatannya dan menyebutkan nama lima orang itu ?Kasat kembali menjawab bahwa Saksi Molan berubah ubah. Saya jadi heran dan juga kecewa,” cerita Niko Ake.

Pernyataan Kasat Reskrim, Arief Sadikin ini juga disampaikan kepada Goris Making dan Istri Almarhum Bulu Keluli saat bertemu dengan dirinya, 16 Januari 2014, diruangan kerjanya. Ah, Kepolisian Polres Lembata benar benar mengecewakan. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *