Maksi Masan : “Saya Tantang Berdebat, Husaifa Dadang Malah Kirim Tulisan Dudung Koswara Sebagai Bamper. Takut ?

Home » Berita » Catatan » Maksi Masan : “Saya Tantang Berdebat, Husaifa Dadang Malah Kirim Tulisan Dudung Koswara Sebagai Bamper. Takut ?

SULUH NUSA, BANGKOK – Tulisan saya malam ini masih dengan nada yang sama yakni menantang Huzaifa Dadang untuk berdebat. Sebab, sejak tadi malam saya mengirimkan tulisan yang berisi pesan tantangan saya untuk berdebat belum direspon. Pagi tadi malah mengirimkan tulisan Dudung Koswara.

Terlintas saya berpikir, apakah Saudara Dadang yang berani menandatangani Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Kongres Luar Biasa PGRI itu saat ditantang berdebat hanya punya kemampuan sebatas itu? Hanya bisa mengirimkan tulisan orang? Hanya meneruskan pikiran orang lain?

Saya lanjut berpikir, ataukah, Saudara Dadang tidak memahami substansi pertanyaan saya terkait AD ART PGRI yang mengatur tentang Kongres Luar Biasa PGRI? Atau apakah karena memang Saudara Dadang ini hanya bisa menandatangani Surat tetapi tidak memiliki data yang kuat terkait kondisi riil PGRI yang bisa menimbulkan adanya Kongres Luar Biasa PGRI?

Ataukah apakah Saudara Dadang takut dengan saya? Ah…itu tidak mungkin, sebab Saudara Dadang Pengurus Besar dan memiliki pengalaman yang sangat sangat banyak di PGRI. Kalau saya sudah makan garam di PGRI, Saudara Dadanglah yang sudah minum air laut di PGRI. Tidak mungkin dia takut dengan saya!

Lalu apa yang menyebabkan Ia tidak merespon tantangan saya?

Sementara merenung, tepat pukul 12.44 WIB atau pukul 13.00 WITA, hari ini Rabu (25/10/23) Saudara Dadang membalas WhatsApp saya demikian

“Mohon maaf, kalau untuk berdebat dg Anda ttg Organisasi, saya rasa saya akan buang2 energi, bukan kelas saya ”

Menerima pesan ini, saya lalu berguman, Saudara Dadang ini sombong sekali? Inikah tipe pemimpin yang diharapkan di PGRI? Saya mengajak berdebat secara profesional responnya demikian.

Pertama Ia tidak memiliki pikiran sendiri tetapi mengirimkan tulisan orang lain. Kedua, dia mengatakan tidak selevel dengan saya. Ah…, memangnya Saudara Dadang hebat apa di Organisasi? Hanya bisa menandatangani surat yang tidak berdasarkan AD ART organisasi itu? Yang menggunakan simbol organisasi tanpa sepengetahuan Ketua Umun PB PGRI itu?

Saya senyum saja mendapat respon demikian sebab jelas terlihat kualitas seorang pemimpin. Sayapun menjawabnya Saudara Dadang

“Ya pasti beda kelas. Saya mengerti AD ART PGRI, Anda Nga paham! .

Tidak saja melalui pesan WhatsApp, saya juga mengirimkan rekaman suara berikut isinya

” Saya mau sampaikan dari NTT bahwa, kita pasti beda kelas karena saya mengerti AD ART PGRI. Anda yang nga paham. Sampai di sini, paham?

Setelah menerima pesan saya siabg tadi, hingga malam ini belum ada sama sekali respon yang saya terima dari Saudara Huzaifa Dadang. Saya akan atur waktu untuk temui dia empat mata dan mengajaknya berdebat terkaiat mekanisme pelaksanaan Kongres Luar Biasa PGRI, merujuk pada AD ART PGRI.+++

Bangkok, 25 Oktober 2023

Maksimal Masan Kian • Ketua PGRI Flores Timur, NTT

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *