3 Hal Yang Membuat Ritual Pesta Kacang Masih Diwariskan Kepada Generasi Muda

SULUH NUSA, ENDE – saya mendapat WhatsApp (WA)yang berbunyi: “Bapa, selamat pagi… Kame mete kerja perbaiki Namang ie lewutana.. dan setelah perbaiki Namang mau kerja lanjut untuk perbaiki jalan masuk Lewotana.

Ini salah satu bukti bahwa masyarakat Lewuhala sungguh mempersiapkan diri menyambut perayaan Pesta Kacang, ( Ritual Weru One) ritual tahunan dalam bulan September-Oktober 2023, yang dimulai dengan upacara Deki Weru/Sewe Nuku, 24 September 2023.

Isi WA ini menginspirasi saya untuk membuat catatan sekenanya. Gotong royong sebagai salah satu ciri khas keluarga besar Lewuhala sungguh membesarkan hati saya.

Sebaliknya hal ini juga sungguh menantang karena untuk menghidupi dan melanjutkan tradisi ini, kita butuh suatu komitmen.

Seremoni adat ini sudah dimulai ribuan tahun yang silam. Sudah ada sejak datangnya penghuni baru dari Kepulauan Maluku (Serang Gorang Abo Muar).

Mengapa ritual ini tetap eksis? Saya ingin menyebutkan tiga aspek memgapa tradisi yang syarat makna ini tetap dijaga, dirayakan dan dihayati sampai hari ini?

Jadwal Pesta Kacang tahun 2023

Pertama, Rasa memiliki. Sebagai bagian dari masyarakat Lewuhala, kita hidup dalam konteks lokal sekaligus dalam konteks yang yang lebih luas (global). Dalam situasi ini, Rasa Memiliki diekspresikan dalam cinta dan tanggungjawab yang kita emban bukan hanya oleh kepala Suku tapi menjadi tanggungjawab kita semua. Kita bertanggungjawab satu sama lain, saling menjaga kehidupan yang harmonis, rukun dan damai sebagai satu keluarga. Inilah misi awal dari para leluhur kita yang menjadi denyut jantung kita semua. Memupuk rasa memiliki seperti ini membantu kita untuk mengatasi rasa ingat diri, merasa yang paling penting, mau memang sendiri dan tahu semua.

Kedua, Kolaborasi/Kerjasama. Kalau merujut misi awal para leluhur ini dengan ajaran agama kita saat ini maka misi ini adalah misi Tuhan sendiri, misi Lera Wulan Tana Ekan. Kita semua didorong untuk mewujudkannya melalui kolaborasi/kerjasama. Ini adalah misi bersama, bukan misi dari satu suku atau perorangan. Saya sungguh yakin bahwa sejak awal para leluhur memulai tradisi ini didasarkan pada rasa hormat, kepercayaan dan kerendahan hati.

Rasa hormat berarti mengakui martabat, bakat dan kemampuan orang lain. Kepercayaan berarti kita sebagai anggota keluarga Lewuhala secara konsisten percaya satu sama lain tanpa ada kecurigaan yang berlebihan. Kerendahan hati mngingatkan kita bahwa tidak seorangpun memiliki segalanya dan tidak seorangpun tidak memiliki apa-apa. Kita semua dipanggil dan diwarisi untuk menjaga suatu kehidupan di Lewuhala yang harmonis, rukun dan damai. Kita semua dipanggil untuk menghindari bahaya dari sikap acuh tak acuh, egois dan perpecahan yang timbul dari bahaya sikap irihati dan kesombongan.

Dan dalam semangat inilah, izinkan saya mengutip sepenggal doa dari St. Fransiskus Asisi: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai, bila ada kebencian. Jadikanlah aku pembawa cintakasih bila ada penghinaan. Jadikanlah aku pembawa pengampunan, bila ada perselisihan”.

Ketiga, Ketekunan. Melestarikan warisan mulia para leluhur ini dibutuhkan kerjasama kita semua. Inilah tantangan yang ada di depan mata kita. Sering kali terjadi semangat rasa hormat, percaya dan rendah hati antar kita mulai kendur atau redup karena dipengaruhi oleh situasi politik, budaya dan perkembangan teknologi (media sosial). Juga tidak dapat dimungkiri bahwa situasi keluarga, suku turut mempengaruhinya.

Pada tingkat ini, apakah kita harus menyerah? Tidak! Dalam semangat melestarikan warisan para leluhur, marilahkita merajut RASA MEMILIKI, KOLABORASI dan KETEKUNAN untuk membuat event Pesta Kacang lebih baik, menarik, dalam atmosfir yang harmonis, aman dan damai bukan hanya selama perayaan Pesta Kacang berlangsung tetapi juga dalam kehidupan harian kita sebagai satu keluarga, Keluarga Besar Lewuhala.+++

Biara St. Yosef – Ende, 24 September 2023

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *