suluhnusa.com – Andre Belutowe dan Ani Lamak, keduanya aktivis lingkungan. Hobinya mendaki gunung dan kerap melakukan aktivitas peduli lingkungan di Kabupaten Lembata dan beberapa kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Temggara Timur.
Andre Belutowe atau kerap familiar dipanggil Andre Kriting, selain dikenal sebagai aktivis lingkungan juga menjadi pendiri dan ketua Komunitas Photografer Lembata (KOPRAL).
Sementara Ani Lamak, aktivis lingkungan yang bernaung dibawah bendera Gempita-Gema Putra Putri Lembata kerap menjadi icon peduli lingkungan di Lembata. Penangkaran penyu di Loang, Kabupaten Lembata menjadi bagian dari kepedulian Ani Lamak.
Kisah romantis, kedua aktivis ini terbilang dramatis dan romantis. Romantis karena mereka bertemu dan jatuh cinta saat keduanya menjelajahi alam terbuka dan bertemu bunga edelweis di puncak gunung.
Andre kepada media ini usai melangsungkan pernikahan ini, enggan memberitahukan tempat dimana mereka pertama kali melihat bunga edelweis lalu keduanya jatuh cinta.
“Ahh ini rahasia” ungkap Andre. Pemilik #lembatasejauhmatamemandang ini hanya mengakui dia jatuh cinta dengan Ani Lamak karena alam.
“Kami jatuh cinta dan saling mencintai sampai menikah karena alam punya mau,” beber Andre diamini Ani Lamak.
Apa yang diungkapkan oleh Andre ada benar. Pasalnya dua Minggu menjelang hari penikahannya, Ani Lamak mengganti nama Facebooknya menjadi Alam dan kerap memposting beberapa foto kegiatannya di alam terbuka. Romantis memang.
Lalu apa yang dramatis ? Rencana pernikahan Andre dan Ani terbilang tiba tiba. Tanpa ada undangan. Tanpa ada musik hiasan bunga dan latar kuning dengan tulisan nama dialtar Tuhan, Gereja Lamahora, tempat mereka melangsungkan pernikahan, 20 September 2019.
Terkesan biasa biasa saja. Pun tanpa ada resepsi dan gegap gempita musik. Tidak ada joget ala pesta orang Lewoleba apalagi seleng sampai pagi.
Konsep pernikahan kami bukan tentang pantang pulang sebelum seleng, tetapi hadirlah di gereja karena tidak ada joget seleng”, ungkap Andre kepada media ini seminggu sebelum pernikahan, saat sedang melakukan pemotretan di Batu Payung, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur.
Walau dramatis Andre dan Ani menikah dengan khidmat di altar Tuhan Gereja St Fransiskus Asisi, dipimpin Pater Barnabas Bili CSSR.
Tidak ada pejabat pula yang hadir. Disaksikan para aktivis lingkungan, aktivis LSM, kerabat dan keluarga, para fotographer dan juga jurnalis di Lembata, Andre dan Ani usai menikah melakukan penanaman pohon sakura di dua tempat yakni halaman gereja Lamahora dan halaman Gereja Baneux Lewoleba.
“Karena kami berdua dalam keseharian kami sebagai pencinta lingkungan dan kami menanam pohon ini sebagai ajakan untuk mencintai alam dan lingkungan,” ungkap Andre Kriting diamini Ani Lamak dengan sumringah bahagia.
Disaksikan umat dan kerabat kenalan serta pastor paroki Lamahora dan para jurnalis, Ani Lamak menjelaskan keduanya memilih bunga sakura dan cocok untuk iklim di Lembata.
Usai menanam Pohon Sakura keduanya melakukan penanaman di halaman gereja Baneux Lewoleba.
Menurut Kor Sakeng, seorang aktivis Buruh Migran yang didapuk menjadi Master Of Ceremony menejelaskan Sakura yang yang ditanam oleh Andre dan Ani sebagai penanda bahwa mereka resmi menjadi suami istri dalam bahasa setempat di sebut Kluang. Pohon ini terkenal kuat dan oleh sebagian masyarakat Lembata dijadikan sebagai tempat untuk menggantung ari ari bayi.
Pastor Paroki Gereja St Fransiskus Asisi, Pater Barnabas Bili CSSR, pun merasa bangga dengan kedua aktivis yang melangsungkan pernikahannya dengan cara yang tak lazim. Mereka bertemu karena alam. Saling mencintai karena alam dan menikah karena alam.
Sandro wangak
