Pemkab Lembata Diminta Bangun Jalan di Lokasi Bencana Sebagai Jalur Evakuasi

Home » Berita » Bisnis » Pemkab Lembata Diminta Bangun Jalan di Lokasi Bencana Sebagai Jalur Evakuasi

SULUH NUSA, LEMBATA –Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas PUPR diminta serius membangun peningkatan jalan segmen Watodiri Jontona dan seterusnya keliling Ile Ape mengingat daerah tersebut termasuk daerah rawan bencana dan butuh akses jalan yang memadai sebagai jalur evakuasi.

 

Jalur evakuasi ini penting untuk diperhatikan di tahun 2023 karena menjadi kebutuhan vital kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan bencana gunung berapi dari Gunung Ili Lewotolok seperti yang terjadi tahun 2020 dan Banjir seroja tahun 2021.

 

Gunung Api Ili Lewotolok sejak erupsi tahun 2020 sampai saat ini aktivitas vulkaniknya masih tinggi.

 

Laporan PVMBG Gunung Ili Lewotolok, sejak awal tahun 2023 terjadi peningkatan aktivitas seismik.

 

Dalam beberapa minggu terakhir ini Gunung Ili Lewotolok  beberapa kali erupsi atau menyemburkan abu vulkanik dengan tinggi kolong mencapai 200-250 meter sebagai tanda meningkatnya aktifitas seismik di gunung tersebut.

 

Permintaan peningkatan jalur evakuasi bencana keliling Ile Ape ini disampaikan Wakil Ketua Komisi II, DPRD Lembata, Paulus Makarius Dolu, Jumad 3 Februari 2023 saat memantau pekerjaan jalan segmen Waiara Watodiri yang dikerjakan oleh CV. Timber Jaya dengan dana PEN tahun 2022.

 

Paul Dolu didampingi Paulis Toon Tukan, Sekretaris Komisi II, meninjau pekerjaan jalan di segmen tersebut usai mendapat pengaduan warga soal beberapa titik jalan tidak diriper.

 

Bartolomeus Take, warga Desa Watodiri yang melapor dugaan pekerjaan teknis tidak sesuai tersebut menjelaskan pekerjaan Jalan Segment Waiara -Watodiri yang bersumber dari dana PEN terkesan Kontraktor mengabaikan Hal-hal Teknis.

 

Sebagai orang awam yang kurang memahami teknis pekerjaan jalan namun berdasarkan pengamatan secara Visual, untuk Pekerjaan Pembersihan dan Pengupasan Badan Jalan, Bekas Aspal yang dikerjakan zaman Almarhum Frans Making, dilakukan Pengupasan kurang Lebih 300 Meter.

 

“Sementara kurang Lebih 1,3 KM, tidak dilakukan pengupasan, bahkan Yang dikupas adalah jalan yang sudah berlobang sementara jalan yang masih baik Pihak Kontraktor menimbun Material Agregat A ditengah jalan untuk menutupi jalan aspal yang tidak dikupas sehingga terkesan bahwa Jalan tersebut sudah di lakukan pengupasan”, ungkap Berto dihadapan Paul Dolu, disaksikan PPK dan Direktur CV. Timber Jaya Dedy Aryanto.

 

Menurut Berto, Ia mengamati secara visual benerapa titik pekerjaan jalan bekas aspal tidak digaruk. Titik pertama menurun tajam tanah kebo, sejauh hampir 300 meter. Dan beberapa titik lainnya.

 

Felesianus Boli Aman Tedemaking, PPK pekerjaan jalan pada segmen tersebut menjelaskan semua titik jalan yang masih ada aspal nama diriper.

 

“Kami melakukan Riper sebanyak tiga kali. Pertama menggunakan exavator dan gereder. Untuk titik menurun tanah kebo kami menumpuk material tetapi saat sebelum dilakukan pengerasan exavator memindah material ke pinggir lalu melakukan pekerjaan Riper langsung diikuti pengerasan dengan fibro untuk menghindari kecelakaan pengguna jalan. Semua tahapan pekerjaan kami lakukan dan didokumentasikan dengan foto. Ada bukti foto fotonya”, ungkap Feliks.

 

Paul Dolu, meminta masyarakat tetap melakukan pengawasan agar kualitas jalan tetap terjaga. Ia mengungkapkan, peningkatan jalan segmen Waiara-Watodiri menggunakan dana PEN senilai 8 milyar lebih diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat pengguna jalan.


NONTON 

LIVE PERMINTAAN PAUL DOLU KEPADA PEMERINTAH UNTUK MENINGKATKAN JALAN DI JALUR EVAKUASI BENCANA ERUPSI GUNUNG ILI LEWOTOLOK


Secara khusus Paul meminta Pemerintah untuk jalu jalan ke Ile Ape Timur pada tahun 2022 tidak mendapat alokasi pwkerjaan dapat diperhatikan pada tahun 2023 dengan menggunakan dana insentif daerah WTP senilai 16 milyar atau Dana Inpres senilai 32 milyar.

 

“Secara khusus saya minta kepada pemerintah Kabupaten Lembata untuk melanjutkan peningkagan jalan dari Watodiri – Jontona dan selanjutnya ke Waowala karena ini daerah rawan bencana yang sewaktu waktu menjadi kebutuhan evakuasi. Ini jalur evakuasi bencana. Jadi harus perhatikan. Saya minta pemerintah menggunakan dana DID yang 16 milyar atau Dana Inpres senilai 32 milyar lanjutkan peningkatan jalan dari Watodiri-Jontona. Ini kebutuhan”, ungkap Dolu.

 

Ia menjelaskan  jalur evakuasi alternatif ini sangat diperlukan jika sewaktu-waktu ada bencana yang berkaitan dengan letusan Gunung Ili Lewotolok atau Lahar dingin, selain evakuasi jalur laut tetapi evakuasi jalur darat juga dibutuhkan.

 

Terkait aktivitas seismik Gunung Ili Lewotolok (1423 mdpl),  di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur berdasarkan laporan PVMBG Waipukang, 6 Februari 2023 caca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara 23.7-28.4 °C dan kelembaban udara 79.9-89.7 %.

Pengamatan visual Gunung jelas, kabut 0-I, hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 50-250 m di atas puncak kawah.

 

“Teramati 11 kali letusan dengan tinggi 200-250 m dan warna asap putih dan kelabu.  Letusan disertai gemuruh lemah. Kegempaan letusan jumlah : 11, Amplitudo : 32.9-37.2 mm, Durasi : 35-67 detik dan Hembusan jumlah : 48, Amplitudo : 1.7-29.7 mm, Durasi : 17.5-47 detik.

Sampai saat ini Gunung Ili Lewotolok masih level II, waspada dan peningkatan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan vital. +++sandrowangak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *