Sebaiknya, Sapi Naik Kapal Dengan Tiket

suluhnusa.com- Irjen Kementrian Pertanian RI, Justan Ridwan Siahaan didampingi Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Ternak, Vini Murfiani, turun langsung ke Kupang-NTT untuk mencari jalan keluar masalah pengiriman atau antar pulau sapi dari NTT ke Jakarta. Irje juga berdialog langsung dengan para pengusaha sapi dan pejabat Dinas Peternakan Provinsi NTT.

Pertemuan Irjen Kementrian Pertanian RI, Justan Ridwan Siahaan didampingi Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Ternak, Vini Murfiani dengan para pengusaha sapi berlangsung di aula Dinas Peternakan provinsi NTT, Kamis (29/9/2016) siang.

Selain pejabat di dinas peternakan, hadir pula perwakilan dari PT Pelni dan instansi terkait lainnya.

Dalam pertemuan ini, para pengusaha umumnya mengeluhkan sistem antar pulau sapi dari NTT menggunakan kapal tol laut.

Para pengusaha juga menyampaikan sejumlah usul saran agar sistem pengiriman sapid dan pengelolaan kapal tol laut bisa menguntungkan semua pihak baik pedagang atau pengusaha sapi maupun petani sapi yang tersebar di seluruh wilayah NTT.

Daniel selaku Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ternak NTT, dalam pertemuan tersebut mengatakan, sistem pengelolaan kapal tol laut masih menjadi masalah. Siapa yang boleh mengirim sapi melalui kapal tol laut dan siapa yang tidak boleh kirim masih rancu.

Karena itu, Daniel mengusulkan, agar menggunakan sistem tiket seperti penumpang kapal penumpang Pelni.

Supaya petani juga bisa langsung menjual dan mengirim sapinya sendiri melalui kapal Tol Laut setelah membeli tiketnya. Pihak pengelola kapal tol laut tinggal mengumumkan kapan kapal tol laut akan masuk dan sandar di pelabuhan.

“Pengalaman kita untuk kapal tol laut muatannya benar-benar dibatasi. Padahal kapal masih mampu muat beberapa ekor sapi lagi. Mungkin bisa ada perbaikan menyangkut hal ini,” kata Daniel.

Sementara pengusaha sapi, Tono Sutami mengatakan, mengirim sapi menggunakan kapal tol laut memanfaatkan subsidi dari pemerintah.

Tapi belum jelas betul, sapi yang dikirim itu semuanya diturunkan di Jakarta atau di tempat lain juga. Berapa jatah tiap pengusaha untuk boleh mengirim sapinya.

“Subsidi kapal Tol Laut untuk pengiriman ke Jakarta saja atau juga ke seluruh Indonesia?. Masih simpang siur mengenai hal ini,” kata Sutami.

Pengusaha sapi, Hilda Kota Diah, menambahkan, dirinya ikut pada acara peluncuran kapal Tol Laut di pelabuhan tenau Kupang. Setelah peluncuran, pengusaha diharuskan mengisi form ke kementrian perhubungan. Sehingga dipertanyakan, apakah mengirim sapi menggunakan kapal tol laut hanya khusus untuk orang yang punya rekomendasi dari kementrian atau bagaimana?.

“Administrasinya banyak sekali. Kenapa harus dibatasi jumlah sapi yang dikirim dari setiap pengusaha?. Belum lagi harus tunggu informasi ijin dari kementerian. Sehingga terpaksa pihaknya harus antar pulaukan sapi lewat kargo,” kata Diah.

Pengusaha sapi, Haji Mahmud Aklis mengatakan, kehadiran kapal Tol Laut memang memberi manfaat bagi petani peternak sapi. Tapi sistem pengelolaan kapal tol laut harus baik. Ia juga mengusulkan, kapal Tol Laut tidak perlu masuk ke pelabuhan di Wini dan Atapupu. Cukup melalui pelabuhan Tenau Kupang saja sudah cukup.

Selain beberapa hal ini, masih banyak lagi yang dikeluhkan dan disarankan pengusaha sapi kepada pihak kementrian melalui Irjen Kementrian Pertanian RI, Justan Ridwan Siahaan didampingi Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Ternak, Ririn Marfuani. Dengan harapan, sistem pengiriman sapi ini berlaku adil dan tidak memihak salah satu pengusaha sapi.

Dalam pertemuan ini, kadis Peternakan provinsi NTT, Dany Suhadi tidak hadir karena sedang bertugas ke luar daerah. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *