Putria Salon Gelar Pelatihan Dengan Pola 4in1

Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) Putria Salon, dipercaya Pemerintah untuk menjalankan Program Kecakapan Hidup (PKH).

Kegiatan ini merupakan program Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen Paudni Kemdikbud tahun 2015.

Kepala Seksi Paudni dan PK PLK Dinas Kebudayaan NTT, Gorys K Bahy, S.Sos, usai membuka acara Kursus dan Pelatihan di Putria Salon Jalan Bhakti Karang Nomor 5 Oebobo, Sabtu, 17 Oktober 2015, menjelaskan, Putria Salon salah satu LKP dari 55 LKP di Kupang maupun kabupaten yang mendapatkan bantuan ini.

LKP menyelenggarakan PKH tahun 2015. Alokasi ini diplotkan dari direktorat itu untuk Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bagi remaja remaja yang ada di Kota Kupang.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menekankan dan mengurangi angka kemiskinan di daerah. Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, ketika selesai mengikuti pendidikan sekitar 200 jam, mereka bisa hidup mandiri,” tuturnya.

 

Peserta Ujian saat melakukan ujian praktek di Putria Salon (foto: sandrowangak)
Peserta Ujian saat melakukan ujian praktek di Putria Salon (foto: sandrowangak)

Untuk Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH), prosesnya ada beberapa tahapan, yakni pimpinan LKP mencari peluang setiap unit, memberikan pelatihan berdasarkan kurikulum, dari direktorat melatih sesuai dengan lowongan kerja yang ada, uji kompetensi bagaimana mengetahui daya serap peserta didik, dan penempatan. Sampai pada peserta didik mendapatkan pekerjaan atau minimal membuka usaha.

Sementara itu, Direktris LKP Putria Salon, Adriana Maritje S. Pah, SH, S.Pd, mengungkapkan sasaran program ini bagi masyarakat putus sekolah, penganggur, tidak punya kerja tetap, dengan usia produktif 18 sampai 44 tahun.

Prioritas warga belajar berada di sekitar lingkungan, disertai surat keterangan tidak mampu dari ketua RT. Dan program ini, demikian Itje Pah, dilaksanakan dengan mematuhi prinsip tepat sasaran, tepat penggunaan dana, bermutu, jujur, transparant dan akuntabel.

Ia berharap setelah kursus dan pelatihan berakhir ada dampak yang dirasakan para peserta. Dengan hasil minimal memiliki usaha sendiri.

Peserta kursus sebanyak 45 peserta dan mereka telah mengikuti kursus pelatihan sejak 12 September 2015 selama 200 jam dalam lima minggu.

Disela sela kegiatan, Itje Pah, menjelaskan, kegiatan pelatihan ini menggunakan pola 4in1, yakni jelas lowongan kerja bagi peserta didik, jelas kurikulum dan proses saat kursus dan pelatihan, jelas pelaksanaan uji komptensi dan jelas penempatan peserta sesuai lowongan secara professional. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *