suluhnusa.com_Manusia yang satu ni sangat hiper dalam menulis. Hanya dirinya mengaku bukan seorang maniak. Apa sebab?
Namanya Steby, lebih lengkap lagi Stebby Julionatan. Pemuda berkulit sawo matang kelahiran Probolinggo 30 Juli ,30 tahun yang lalu, bekerja sebagai PNS di bagian Infomasi di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Probolinggo ini.
Sehari-hari juga beraktifitas sebagai penyiar di 101, 7 FM Radio Suara Kota Probolinggo. Anggota termuda Dewan Pendidikan, pengajar Jurnalis Warga, penggiat Komunitas Penulis (KOMUNLIS) dan SS Community yang hiper-aktif di berbagai kegiatan kepemudaan yang ada. cerpen Cerita Kita di Kota Kata (2013).
Penerima penghargaan Penulis Muda Berbakat 2007 (kolomkita.com), 20 besar Antitesa Mizan untuk cerita fiksi, dan yang paling anyar adalah 10 penulis terbaik versi Satus Wong Surboyo Nulis Cerpen ini terkadang masih dipercaya oleh rekan-rekannya untuk menjadi kontributor artikel atau resensi buku untuk harian Radar Bromo dan majalah Link Go. Beberapa karyanya yang sudah terbit, antara lain: sebuah novel bergenre surealis remaja berjudul LAN (2011), kumpulan cerpen “Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali” (2012), antologi puisi bersama berjudulFlows into the Sink into the Gutter (2012), Kembalilah Siswa-Siswa Semesta (2013) dan antologi cerpen Cerita Kita di Kota Kata (2013).
Minggu kemarin suluhnusa.com berkesempatan untuk berbincang dengan pemuda penyuka kue kucur,nasi cap cay dan es teh , kegemarannya menulis ini diawali sejak kecil. “ Saya masih menyimpan buku harian saya saat masih SD. Cuma ya gitu, waktu kecil saya nulisnya hanya sebatas tulisan-tulisan pengalaman sehari-hari di buku harian “ katanya mengawali pembicaraan. Yang memotivasi Stebby untuk menulis adalah mimpinya untuk berbagi.
”Karena saya dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja, bukan termasuk orang berada, maka ketika itu yang terpikir di benak saya adalah bisa berbagi kebahagiaan dari tulisan saya. Melihat orang lain yang membaca tulisan saya itu menjadi senang. Seperti memberi kartu ucapan kepada Oma (nenek) saya ketika beliau berulang tahun, teman yang menikah….”, jelasnya sambil menerawang.
Pada awalnya Stebby merasa dia bukanlah tipe orang yang tertarik dengan lomba-lomba menulis. Baginya menulis itu seperti proses refleksi diri. Lebih kepada proses melihat ke dalam diri sendiri. Mengungkapkan keresahan pada selembar kertas dan untuk selanjutnya, berturut-turut memikirkan solusi dan jalan keluar keresahan itu. Lomba-lomba yang pernah dia ikuti dan dimenangkan (dulu) itu seperti sebuah ketidaksengajaan.
“ Unconsiously... Saya ingat waktu SMP pernah memenangkan lomba menulis tingkat sekolah yang hadiahnya satu pak buku dan sebatang bulpen itu juga karenga disuruh guru untuk mewakili kelas. Terus terang, mungkin saya orang yang tergolong lambat untuk mengenali bakat saya. Saya baru suka membaca sastra Indonesia itu setelah terusik oleh kehadiran Raumanen-nya Mariana Katopo, sebagai salah satu buku bacaan wajib dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat SMA. Bagi saya, Gila nih Mariana… kok bisa ya ceritanya sekeren itu?! Baru di akhir bab saya tahu kalau tokoh yang dikisahkannya itu adalah orang yang sudah mati. Saya benar-benar tidak menduganya “ urainya penuh semangat.
Stebby berpendapat bahwa sastra Indonesia itu hanya terjebak pada karya-karya yang steriotip. Tokohnya selalu dokter, orang kaya, jatuh cinta pada perawatnya, dll. Dan bukankah pelajaran yang kita terima lewat sekolah itu (ketika itu) selalu sama? Puisi yang dikenalkan selalu puisinya Chairil Anwar atau Rendra. Cerpen yang dikenalkan juga cuma punya Idus, Celana Kepar. Dari SD sampai SMA, di setiap pelajaran Bahasa Indonesia contohnya sama saja. Tidak pernah berubah dan terkesan tidakkreatif.
Namun,setelah membaca Raumanen, dia baru tahu bahwa kesusastraan Indonesia itu ternyata sangat kaya. Dari titik itulah pencariannyaakan karya sastra Indonesia dimulai. Buku-buku Serial Kenangan-nya NH. Dini, Para Priayi Umar Kayam, Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, Olenka-nya Budi Dharma, dan lainnya diababat habis dan dituntaskan hanya dalam satu malam. Masa itu adalah masa-masa hausnya terhadap karya-karya sastra Indonesia. Dan dia semakin terkesiap setelah membaca Supernova dan Saman. Untuk metode menulispun dia tidak memiliki metode khusus, hanya menulis apa yang ingin dibaca.
Sambil kembali mengingat pengalamannya dalam ajang kompetisi menulis, dia mengutarakan bahwa , dia memenangkan semua itu dengan ketidak sengajaan.
“Saya bukan tipe orang yang maniak terhadap perlombaan menulis. Sebab bagi saya adalah menulis lebih kepada sebuah proses personal. Di sastra itu nggak ada yang namanya benar atau salah, tapi meyakinkan atau tidak karya yang kita buat” tegasnya
Ketika Weekly mencoba menguak lebih dalam sosok Stebby yang memang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penulis ini mengatakan bahwa ada kepuasan tersendiri begitu melihat sebuah Toko Buku yang memajang karya kita di salah satu rak yang ada di toko buku itu, keinginan yang sangat sederhana menurutnya, namun toh ternyataStebby bukan pemuda yag cepat puas, setelah karya tersebut diluncurkan, dan banyak bergesekan (baik dengan para pembaca maupun kritikus) tentunya saya semakin tertantang untuk membuat karya yang lebih bagus lagi dari LAN(novel pertamanya).
” Saya tidak berpuas diri. Di sisi lain tentunya karya pertama itu semakin membuka kesadaran saya pada dunia menulis, bahwasannya menulis bukan hanya sebuah kesengangan pribadi tapi juga ada sebuah tanggung jawab moral di sana. Karya yang baik bukanlah karya yang menggurui, tapi karya yang bisa mengajak pembacanya untuk berkontemplasi. Mengajak pembacanya menjadi lebih baik dan lebih bijak “ sambungnya.
Sebagai seorang Pegawai negeri Sipil di Pemerintahan Kota, Sebby merasa masih belum berbuat banyak bagi kota saya tercinta. Yang ingin dia lakukan untuk Kota Probolinggo sebenarnya cukup sederhana, yaitu memiliki rasa bangga menjadi orang Probolinggo. Dan berharap teman-teman generasi muda merasakan hal yang sama, dengan cara apa saja sesuaidengan talenta dan kemampuan mereka. Karena dari sanalah segalanya bermula. Intinya usaha yang sudah dia lakukan adalah sebuah kontribusi positif bagi Kotanya.
“Kalau ada Andrea Hirata dari Bangka Belitung bisa jadi terkenal seperti itu, Probolinggo pun harus bisa seperti itu. Saya ingin nantinya, meski bukan saya, ada Andrea Hirata-Andrea Hirata baru yang lahir dari Probolinggo “, harap Stebby penuh semangat.
Melalui KOMUNLIS dan SS Community. Dia punya komunitas menulis (komunlis) yang kini anggotanya secara online sudah mencapai 500-an lebih. Komunitas tersebut adalah sebuah gerakan untuk lebih membumikan budaya literasi. Selama ini dia beranggapan bahwa sastra selalu di awang-awang, selalu berdiri di menara gading kehidupan. Tidak mudah untuk dipahami oleh orangawam. Di sinilah tugas teman-teman yang berada di KOMUNLIS untuk membumikan sastra. Agar membaca dan menulis menjadi salah satu kebiasaan orang Indonesia.
“Istilahnya gini (atau katakanlah kami punya istilah seperti ini) Jogja atau Jakarta boleh jadi adalah tolak ukur bagi dunia sastra di tanah air, tapi tolak ukur gerakan literasi hanya ada di KOMUNLIS, di Probolinggo. Daerah Tapal Kuda “, jelas Stebby.
Komunlis dibentuk oleh Stebby sejak 3 tahun yang lalu. Bersama 3 pengurus Yeti Kartikasari, Shenobi Michael dan Rifqi Riva Amalia. Mereka membagikan minimal 2 buah buku per minggunya untuk para pemenang program Giveaway Kembung (Kamis Sambung) dan Diksi (Diskusi Sastra Minggu Pagi).
Seiring perkembangan KOMUNLIS banyak program yang lain, di antaranya: Pengajian Sastra yang digelar sebulan sekali, Pustaka Keliling, Lomba Resensi, Lomba Menulis Cerpen, dan juga program yang akan jadi PR di akhir tahun ini adalah lomba blog dan yang proyek omnibus KOMUNLIS yang berjudul, Sofa Merah.
Disinggung mengenai kekurangannya stebby berpendapat bahwa dia adalah orang yang tidak sabaran dan suka iri. Bukan iri pada harta gemerlap, barang mentereng atau branded milik orang lain, tetapi senantiasa panas dan iri pada prestasi orang lain.
Ketika orang lain bisa berarti dan berguna bagi orang lain, bagi banyak. Tapi dampak positifnya, mungkin dengan begitu membuatnya jadi senantiasa terlecut untuk lebih baik lagi. Push to the limit . Sedangkan untuk kelebihannya dia merasa sifat daya juang tinggi, dan pantang menyerah.
Menutup pembicaraan dengan suluhnusa.com, Stebby bermimpi besar untuk mendapat Nobel Sastra, dan baginya menulis adalah hidupnya, dan membudayakan gemar menulis di Kota Kelahirannya Probolinggo, utuk bisa menghubungi Stebby, dia memberikan kesempatan untuk bergabung dengannya di Twitter @sjulionatan atau Facebooknya di Stebby Julionatan sertaBlog pribadinya di www.bonx.wordpress.com. (Unique Tunjungsari)

Keren kang. Ayo buat mimpimu hidup. Saya bangga punya kawan kayak Kang Stebby ini. Hehe
makasih, Nom… saya juga bangga punya kawan yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi seperti, Anom.
om stebby terimakasih om