Hormat Kepada Orang Kampung

Bukan berhasil menjadi penulis hebat. Tetapi berhasil menjadi penulis kampung. Menulis apa saja dari kampung. Agar dibaca oleh orang orang kampung lainnya, yang kebetulan berada di kota atau di sebelah lingkaran bumi ini.

Inilah catatan kecil beberapa nama sahabat sahabat yang rajin menulis. Walau mereka bukan penulis tetapi semangat dan kemauan mereka untuk menulis membuat saya harus angkat topi menaru hormat kepada mereka.

Tidak berlebihan dan bukan mengada ada pun mereka tidak akan tersinggung bila saya menyebut mereka sebagai orang kampung. Sebab selain tinggal di kampung pinggiran di Timur jauh daerah Flores Timur Nusa Tenggara Timur, sahabat sahabat saya ini memang lahir dan dibesarkan di kampung dan bekerja mengabdi pada orang kampung. Mereka adalah guru. Guru guru kampung yang memiliki motivasi besar untuk menulis dari kampung, tentang kehidupan orang orang kampungan dan mempromosikan kampung mereka.

Bahkan saking ‘ke-kampung-an’ ada seorang penulis kampung itu melabelkan diri mereka sebagai ‘angkutan pedesaan’. Artinya mereka bergerak dari kampung ke kampung sambil menulis. Mereka mengibaratkan dirinya seperti angkutan pedesaan yang memuat apa saja dari desa ke kota.

Begitupula dengan sahabat sahabat saya ini. Tentang apa saja dari kampung mana saja, mereka berusaha untuk memuat (menulis-red). Lalu mengirim kepada media yang mereka sebut sebagai media untuk penulis kampung dengan label menulis yang terlupakan.

Lalu kenapa mereka memiliki motivasi yang kian besar ? Awalnya, tiga tahun lalu tepatnya bulan September 2013. Saya mengirim Short Massage Service (SMS) kepada seorang teman saya, namanya Maksimus Masan Kian. Seorang guru kampung di pinggiran Flores Timur sana. Bunyi smsnya singkat dan padat sekaligus sedikit memaksa.

“Teman mau menulis ?Kalau ya jawab 1. Kalau tidak jawab 2”. Ini kalimat sms saya waktu itu, masih terlalu segar dalam ingatan sebab ini bukan sekedar proses biasa tetapi proses yang dibarengi dengan rasa pesimis.

Tidak butuh waktu lama. Dia menjawab 1. Maksi (nama panggilan Maksimus Masan Kian),

membalas hanya dengan mengetik angka 1, tanpa titik. Tanpa koma. Tanpa tanda seru. Apalagi Tanya Tanya.

Saya lalu memutuskan untuk menelpon dirinya. Kalimat pertama yang saya sampaikan adalah terimakasih karena sudah menjawab 1. Dia bertanya, bagaimana memulai menulis ?

“Menulislah apa saja tentang dirimu dan apa saja tentang sekitarmu. Sering cekcok dengan istri ?Ceritakan itu dalam tulisan anda teman. Sebab menulis bukan sekedar mengetik kata menjadi kalimat tetapi menulis adalah menumpahkan perasaan dalam kertas buram.

Selang beberapa minggu kemudian Maksimus Masan Kian menulis tentang kamoungnya. Nama kampung itu Tuwagoetobi. Kebetulan, ada seorang petani, mantan perantau di Malaysia berhasil memotivasi petani untuk menjadi petani yang berkualitas dengan cara membentuk kelompok tani. Inilah tulisan pertama maksimus masan kian saat itu.

Jujur. Tulisannya waktu sungguh amburadul. Ibarat tangan letaknya di kaki. jari kaki letaknya di telinga. Mata letaknya dilutut. Rambut yang seharusnya terletak tumbuh di kepala ternyata berada di ujung jari kaki. Bayangkan coba.

Dalam balasan email saya kepadanya, saya menyampaikan terimakasih karena sudah mengirim tulisan. Saya lalu meletakkan bagian bagian yang tak semestinya pada bagian yang mestinya diletakan.

“Saya tidak butuh teman mengirim naskah setiap hari atau setiap minggu. Saya butuh teman menulis kapan saja teman ingin menulis dan mengirim kapan saja ketika teman ada waktu. Baca kembali naskah lama dan bandingkan dengan hasil editan saya, setekah saya upload di media,” demikian sambungan kalimat saya dalam email yang saya kirim ke Maksi setelah naskah yang dikirim termuat di media ini.

Selama bulan, Maksi berhasil mengirim tiga tulisan. Sebuah prestasi yang menurut saya mesti diapresiasi dengan sungguh sungguh. Sebab bagi saya menulis itu seperti kita memasak. Gampang saja. Tetapi yang paling sulit adalah kemauan orang untuk menulis-bukan mulai menulis.

Ketika sudah mau menulis maka mulailah menulis. menulis apa saja adalah cara terbaik menemukan sepadan kata. menulis apa saja adalah cara efekif belajar menemukan ‘ekonomi kata’. soal ekonomi kata, saya meminjam istilah Fanny J. Poyk, penulis dan cerpenis  anak sastrawan dan budayawan, Gerson Poyk, ketika kami berdiskusi di larantuka tengah 2014 silam.

Karena maksi sudah menjawab 1, dan berhasil mengirim tiga tulisan dalam sebulan maka saya mesti memberikan motivasi lagi kepadanya. Apresiasi yang saya berikan adalah berusaha sekuat pikir nalar untuk menemukan apa yang tertuang dalam tulisan maksi. Berusaha untuk membaca pikiran maksi dengan cara saya. (Apa caranya ?itu rahasia saya.) Dan gaya ini pun saya pakai ketika saya menjadi Redaktur dan Pemred di Tabloid NTT POS,  tahun 2000-an silam. Saya senantiasa sekuat nalar pikir, mengedit semua naskah dari teman teman wartawan daerah.

Sebut saja misalnya, Judith Lorenso Taolin (wartawan Anteve sekarang), John Gerimu (Wartawan Timor Express Sekarang), Dedy Wolo (Redaktur Jurnal NTT dan Wartawan Media NTT saat ini), Frengko Kolo (Pemred Hak Rakyat), Bayang Karsidin dan Jamila Kou (mantan wartawan Alor pos dan NTT Pos yang banting stir berwirausaha saat ini), Stef Bata (Pendiri Suara Demokrasi), Erick Seran (Wartawan Bali Tribun saat ini), Sherif Goa (wartawan Viktory News), Buce Edon (Bumi Putra Saat ini), John Alor (Wartawan Media NTT saat ini), Sulta Ali Geroda (Staf Humas Sekwan DPRD Lembata saat ini), Goris Takene (PNS Dinas Infokom dan pengeola media Balai Kota sekarang, yang juga masih menjadi penulis di media ini). Mereka adalah orang orang hebat yang berhasil menulis karena kesetiaan. Saya pun belajar dari merka.

Kembali ke soal penulis kampung, setelah saya berusaha menjadi Maksi dengan daya dan upaya sekuat pikir nalar, maka naskah harus di upload. Sebab saya tau benar, rasanya ketika sebuah tulisan atau naskah yang dikirim ketika dimuat oleh media, rasa bahagia seperti sedang jatuh cinta.

Pengalaman saya menjadi wartawan lapangan selama hampir 10 tahun mengajarkan saya, cara menghargai wartawan lapangan. Rasanya mau menangis apabila naskah tidak dihiraukan oleh redaktur. Dihiraukan saja tidak apalagi diedit. Diedit saja tidak apalagi dimuat. Inilah pelajaran yang membuat saya bagaimana ketika saya menjadi redaktur atau pemred mesti bisa menghargai wartawan lapangan atau penulis dengan cara sederhana. Berusaha sekuat nalar dan pikir, untuk mengedit naskah itu dan memuatnya agar dibaca. Tidak serta merta dibuang dalam sampah email yahoo atau gmail ketika sebuah naskah tidak masuk dalam criteria listing redaktur.

Kembali lagi ke kisah penulis kampung. Dua tahun Maksi menulis di media ini. Ketika saya melihat ada perubahan besar dalam pilihan kata dan penempatan kalimat, saya lalu mendorong dia untuk mengirimkan tulisan ke beberapa media. Saya menyebutkan media untuknya walau memang maksi sudah tau media apa saja yang terbit di NTT. Saya mulai menghitung. Ada Pos Kupang, Timor Express. Flores Pos. Viktory News.

Sekali mengirim dan tidak dimuat jangan pernah merasa jadi abu. Sebab, arang tidak pernah ada, pun abunya bila api tidak terus dikipas menjadi barah dan nyala dalam tungku. Api harus terus dikipas. Ganggu email redaksi dengan terus mengirim terus tulisannya. Suatu saat mereka akan memuat tulisan itu. Sekali dimuat seterusnya akan dimuat.

Dan Maksi berhasil, bukan berhasil menjadi penulis hebat tetapi berhasil menjadi penulis kampung yang berhasil menulis tentang apa saja dari kampung agar dibaca oleh orang orang kampung lainnya yang kebetulan berada di kota atau disebelah lingkaran bumi ini.

Memang apa yang saya lakukan ini adalah bagian dari penyebaran ‘virus’. Virus menulis. yang namanya virus pasti menggerogoti seluruh daya tahan tubuh dan menyerang organ vital. Demikian petuah dari dari wartawan Gatra, teman saya, Andre Abenk. Dan nasihat senior saya, yang juga ketua AJI Denpasar, wartawan Tempo, Mas Rofiqi Hasan-menulislah dengan hati, seturut kehendak public, sembari sekali sekali menoleh ke belakang agar tetap rendah hati karena ada cerita jejak tumit terjejak.

Maksi menjadi simpul media ini.  Biarkan Maksi menjadi sel utama virus dalam menarik perhatian orang orang sekelilingnya. Dan ternyata virus menulis mulai menyebar. Muncllah nama nama seperti Jermi Paun, Benediktus Bere Lanang, Ari Hanafi, Amber Kebelen, Thobias Ruron, Bala Keban, dan beberapa nama lainnya. Lalu pada ‘rahim penah’ Maksimus Masan Kian itu lahir sebuah buku ‘Ujung Pena Guru kampung’, judul inipun saya berikan lewat SMS.

Apa yang saya lakukan belum seberapa. Tidak lalu terlihat hebat. Pun tidak pernah merasa terbang menggapai bintang di langit. Sebab, saya selalu berkata kepada mereka hendaklah jangan merasa berkibar ketika sudah berhasil menulis dimedia besar, tetapi tetap berusaha merangkak sembari menyentuh kaki kaki lain disekitar kita untuk berjalan bersama sama. Menulis. Dengan demikian, maka kita akan merasakan bahwa sesungguhnya menulis adalah bernapas dengan katakata. Dan setia pada jalan menulis yang terlupakan tentang orang orang kampung sebab sesungguhnya kita terlahir dari rahim nenek moyang orang kampung.
 
Ibarat kerinduan, seperti merindukan kopi pahit dan Jas Hujan, pada teras perumahan Perum Nata Estate, Jalan Kresek, Nomor 2, Kelurahan Sesetan-Denpasar saat bersama Sang Lembu Kornikova mulai menyusuri jalan setapak pada loromg orang kampung ini. Hormat Saya Beri untukmu kawan.!! ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *