Ini untuk Kejayaan Pasar Tradisional

suluhnusa.com_Pusat usaha kecil menenhan dan investasi kesejahteraan masyarakat kecil sesungguhnya berpusat di pasar tradisional. Oleh karena itu, pasar pasar tradisional harus diberdayakan agar mencapai kedaulatan dan kejayaan sebagai sebuah pusat bisnis rakyat.

Pemikiran ini datang dari ketua Forum Pasar Tradisional Kota Denpasar, I Nyoman Suwarta, kepada suluhnusa.com menjelaskan, saat ini pemerintah Kota Denpasar bersama pemerintah pusat dan Forum Pasar serta anggota DPR RI Komisi IV, Nyoman Dhamantra berkonsentrasi untuk mengembalikan kedaulatan pasar tradisional agar lebih berkembang, berdayaguna, berdayasaing serta menggapai kejayaan sebagai pusat bisnis masyarakat kecil.

 Oleh karena itu, sejak tahun 2011 lalu, dana 7,5 milyar untuk revitalisasi Pasar Agung, Desa Pakraman Peguyangan. Revitalisasi ini membawa dampak positip. Geliat pasar tradisional mulai membaik. Pendapatan para pedagang mulai meningkat dan berimbas pada meningkatnya asset pasar dan pendapatan. Sebut saja, Pasar Agung-Peguyangan, pada tahun 2012 pendapatan mencapai 1 milyar lebih, menjangkau target.

“Para pembeli mulai nyaman berbelanja di pasar Tradisional,” ungkap Suwarta. Program revitalisasi ini pun terus berlanjut, 2013 pasar Nyanggelan direvitalisasi dengan total anggaran dari APBN sebanyak 5 milyar. Termasuk pasar Poh Gading dan tiga pasar lainnya mendapat dana stimulus sebesar 1, 5 milyar.

Bukan hanya di kota Denpasar, tahun 2012, pasar Yadnya di Kabupaten Gianyar mendapat dana revitalisasi sebesar 2, 5 Milyar, Pasar Kidul di Kabupaten Bangli juga mendapat dana 5 Milyar.

“Bukan hanya dari kementrian perdagangan, tetapi juga dari kementerian Koperasi. Dan semua ini merupakan perjuangan anggota DPR RI Dapil Bali di Komisi VI, Nyoman Dhamantra,” ungkap Suwarta.

Dari kementrian Koperasi, lanjut Suwarta, diberikan kepada Pasar sembung di Kabupaten Badung dan Pasar Manukaya di Tampak Siring masing-masing senilai 900 juta.

Made Suparta, Kepala Pasar Poh Gading juga mengungkapkan hal yang sama. Bahwa, saat ini Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Kota Denpasar bekerja sama dengan Forum pasar Tradisional dan berkat Perjuangan Anggota Komisi VI DPR RI, Nyoman Dhamantra bercita-cita agar pasar tradisional dijadikan sebagai pusat bisnis, pusat akses publik juga pusat usaha kecil menengah.

Sebab, apabila cita-cita ini tercapai maka tidak heran pasar tradisional akan menjadi pasar yang berdaulat dan berjaya.

Sementara itu, Nyoman Dhamantra, kepada suluhnusa.com, membenarkan bahwa dirinya sebagai anggot DPR RI yang mewakili masayarakat Bali berkewajiban untuk berjuang mengembalikan kedaulatan pasar tradisional sebagai pusat bisnis dan pusat usaha kecil masyarakat.

“Perjuangan saya ini untuk kejayaan pedagang pasar tradisional. Sebab, dari pasar Tradisional kita merebut kedaulatan,” ungkap Dhamantara.

Sekedar untuk diketahui Nyoman Dhamantra merupakan seorang pengusaha yang sukses di Bali. Namun saat melihat tanah kelahirannya semakin ‘dijajah’ oleh para investor asing, maka ia pun memilih untuk berkarier di jalur politik demi memajukan lokal Bali.

Dhamantra lalu merintis karier politiknya dari bawah hingga akhirnya ia sukses menjadi anggota DPR RI Komisi VI tahun 2009 untuk urusan perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM, BUMN, dan standarisasi nasional.

Selama menjadi politisi, Nyoman Dhamantra pun terbilang cukup vokal dalam menyuarakan perekonomian pedagang di pasar tradisional. Selain itu, Nyoman Dhamantra pun mengusulkan untuk merivisi UU Provinsi Bali dengan memasukkan beberapa poin. Pertama adalah pasal mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) yang lebih proporsional.

Kedua adalah pengaturan yang jelas dan tegas mengenai pelestarian budaya yang lebih harmoni. Seperti diketahui bahwa budaya merupakan menu utama (core business) pariwisata di Bali. Karena itu, pelestarian budaya menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa dihindarkan.

Sedangkan yang terakhir adalah kejelasan posisi antara dinas dan adat (pekraman) sebab kedudukan antara dua lembaga masyarakat ini seringkali menimbulkan ambiguitas yang seringkali berujung pada konflik.(sandro wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *