suluhnusa.com_Melirik Benih Seni dari pelosok Adonara.
Sanggar Seni Nara Baran, namanya. Sebuah sanggar seni yang terlahir dari rahim tanah Horowura, Riangbaka, Adonara.
Bermula dari beberapa event kesenian di Kabupaten Flores Timur belakangan yakni Festival Seni Budaya antar SMA/SMK Se-Kabupaten Flotim pada tanggal 30-31 Juli 2015 dan Festival Seni Budaya antar Kecamatan Se-Kabupaten Flotim pada tanggal 27-28 Agustus 2015 serta Festival Seni Budaya Tingkat Provinsi, Wilayah Flobamora Rayon III pada tanggal 3-4 September 2015.
Saya mencoba melirik lebih dekat Sanggar Nara Baran dari desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit yang telah memikat atensi para juri pada Festival Seni Budaya Se-Kabupaten Flotim dan penyelenggara kegiatan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur.
Ditengah kesibukannya sebagai PNS yang mengabdi pada lingkup Kecamatan Kelubagolit Donatus Kabelen salah satu pengurus inti Sanggar Nara Baran, Desa Horinara menyisikan kesempatannya mengulas akar cerita berdirinya Sanggar Nara Baran. ikuti wawncara penulis suluhnusa.com, Benediktus Bere Lanang, berikut.
Bagaimana awal cerita sampai berdirinya Sanggar Naran Baran di Desa Horinara?
Cikal bakal berdirinya sanggar ini sesungguhnya adalah warisan dari nenek moyang kami.
Para pendahulu sudah mewariskan sebuah perkumpulan yang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi,gotong-royong dan solidaritas yang dikenal dengan sebutan Gemohing “Pemikat” yang menghimpun anak muda umat Katolik dan “Hisbudi” yang menghimpun anak muda Muslim.
Seiring dengan perkembangan kehidupan keagamaan,organisasi Pemikat beralih nama menjadi Mudika St.Stefanus dan Hisbudi menjadi Remaja Masjid Nurul Iq’san Horinara.
Tidak berlebihan jika sebagian besar orang Adonara beranggapan bahwa masyarakat desa Horinara diberkahi bakat alam dalam berkesenian.Pada tahun 1980-1990 Mudika St. Stefanus Horinara telah melahirkan sebuah group band dengan peralatan yang cukup lengkap.
Group band yang diberi nama Varia Nada Band ini menjadi satu dari sedikit group band yang ada di pulau Adonara pada waktu itu dan tampil sampai di daratan Flores Timur.Seiring berjalannya waktu,alat musik dari group band ini tidak bisa digunakan semestinya lagi karena berumur tua. Kondisi ini lantas tidak menyurutkan semangat berkesenian dari kalangan anak muda di Desa Horinara.
Pada tahun 2010 sekelompok remaja membentuk sebuah group band formasi akustik yang dinamai Varia Nada Band Junior.
Peralatan yang dirancang sendiri ini tentu tidak seideal sebuah group band yang berkelas.
Namun bermodal kepiawaian dalam memainkan alat musik yang mumpuni dari para personil band, group band ini sering diundang di beberapa event besar Pekka Kecamatan Kelubagolit,Adonara.
Lantaran peralatan yang terbatas,group band yang digawangai oleh Etus Lakonawa dan teman-temannya ini hanya berumur dua tahun. Spirit seni di Desa Horinara terus mengegeliat di tengah keterbatasan fasilitas. Komunitas orang tua pecinta tarian daerah yang dikoordinasi ole Bapak Yeremias Ola Nara bersama teman-temannya kembali merangkul anak muda untuk ikut bergabung dalam komunitas pecinta tarian daerah; Dolo(Sole) dan Tari perang(Hedung).
Komunitas ini mulai diminati anak muda ini mulai sering diundang untuk tampil di kampung lain di Adonara bahkan even-event di tingkat Kabupaten. Lambat laun komunitas ini mulai dikenal masyarakat luas.
Kira-kira kapan didirikan Sanggar ini?
Melihat antusias anak muda yang tinggi, pada tahun 2008, saat saya menjabat sebagai Sekretaris Desa Horinara, Pemerintah Desa Horinara melalui pengurus Karang Taruna bersama para pemerhati seni dari desa Horinara membentuk sebuah sanggar seni yang diketuai oleh Elias Ola Nama. Sanggar ini diberi nama Sanggar Nara Baran, Horinara. Sanggar Nara(Perhimpunan), Baran(Tunas Muda) di bawah naungan Karang Taruna Desa Horinara. Sanggar Nara Baran dibagi dalam tiga kelompok yaitu,anak-anak, remaja-dewasa hingga orang tua di desa Horinara.
Bagaimana bentuk pendampingan pada tiga kelompok berbeda ini?
Di dalam kepengurusan sanggar kami memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing. Kelompok anak-anak didampingi para guru di Sekolah Dasar di Desa Horinara, Kelompok remaja-dewasa, didampingi oleh saya bersama Ibu Maria Boi Hena, Ibu Maria Uba dan beberapa teman lain.
Di kelompok orang tua,Bapak Yeremias sebagai pencetus komunitas pecinta tari hedung dan Sole sudah memulainya sebelum sanggar berdiri dan sampai sekarang beliau masih aktif menghimpun orang tua meskipun beliau juga sudah tua.
Jenis seni apa saja yang dikembangkan di sanggar ini?
Di kelompok anak-anak,kami fokuskan pada tarian warisan nenek moyang yang hampir terlupakan misalnya,tarian Lebe, Lili, Gawi Alu, dan tarian lokal lainnya.
Pada kelompok remaja,kami melatih mereka tarian-tarian yang dimodifikasi dari cerita rakyat misalnya tarian menanam Padi,tarian Gae Wata dan lainnya. Pada kelompok orang tua, mereka lebih fokus pada tari perang dan Sole (dolo-dolo bersyair lokal).
Apakah ada jadwal latihan rutin?
Kami belum memiliki jadwal latihan yang rutin namun kami selalu melakukan latihan menjelang event-event di desa.Dalam setahun kami rutin tampil pada acara sambut baru di desa, Hari Raya, Idul Fitri, Natal dan Tahun bersama dan sering diundang untuk tampil di tingkat Kecamatan dan desa lain.
Semenjak terbentuk sanggar ini,prestasi apa saja yang pernah diraih?
Sanggar Nara Baran menjadi peringkat pertama pada Festival Seni Budaya tahun 2008 dan mewakili Kabupaten Flores Timur di tingkat Provinsi dan berhasil menjadi peringkat keempat.
Sanggar Nara Baran juga pernah menjuarai beberapa perlombaan fashion daerah di tingkat Kabupaten. Pada event Festival Seni Budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2014, sanggar Nara Baran dari kelompok remaja mewakili Kecamatan Kelubagolit dan menjadi peringkat keenam.Festival Seni Budaya kedua yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 27-28 Agustus 2015, sanggar Nara Baran dari kelompok remaja juga mewakili Kecamatan Kelubagolit dan menjadi peringkat ketiga dari 17 kecamatan se-Kabupaten Flotim dengan menyuguhkan tarian Gae Wata (meniti jagung). Pada tanggal 3-4 September 2015 sanggar Nara Baran dari kelompok remaja terpilih menjadi duta Kabupaten pada perhelatan Seni Budaya Flobamora Rayon III di taman kota, Larantuka.
Jadi Sanggar Ini lebih berkonsentrasi pada seni daerah?
Betul sekali, kami lebih fokus pada pengembangan beberapa seni daerah yang sudah dibagi dalam tiga kelompok sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya daerah.
Kira-kira apa harapan dan rencana saudara sebagai salah satu pengurus sanggar?
Bapak Camat Kelubagolit yang juga sebagai penjabat sementara Desa Horinara pada evaluasi kegiatan usai perhelatan Seni Budaya di Larantuka sudah menyampaikan bahwa akan ada penguatan kelembagaan dengan menambahkan anggaran pemberdayaan di bidang pengembangan seni budaya. Dengan anggaran yang ada kami berencana untuk memulai sebuah tantangan baru.
Kami akan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan salah satu pemerhati seni teater asal Flotim yang sudah tidak asing lagi di NTT bahkan di pusat, Silvester Petara Hurit untuk membekali sanggar ini dalam pengembangan seni teater .Badan pengurus sanggar juga sedang berusaha memperoleh legalitas dari pemerintah untuk Sanggar Nara Baran.
Benediktus Bereng Lanan
Wakil Ketua Seksi Publikasi dan Dokumentasi Agupena Flotim,
Email: berenglanan@yahoo.com,
HP: 0823 01 82 8022



