suluhnusa.com_Itu artinya Gambar akan bercerita. Sampaikan kabar keindahan Flores Timur.
Dalam hitungan beberapa menit, dia sudah menghasilkan sekitar 53 jepretan.
Mentari perlahan beranjak ke ufuk Barat. Sinarnya seakan hilang ditelan awan yang terus bergerak mengiringinya.
Pemandangan ini nampak dihadapan kami dalam penyebrangan Tanah Merah ( Adonara) ke Pante Palo (Larantuka).
Alam sore itu berbalut senja yang seksi. Dia mampu merangsang Bung Ragil. Sedari tadi terus menjeprtet. Lensa kameranya berhasil melumat perkasanya Ile Mandiri, mencumbui lekuk deretan bukit di pesisir Pulau Adonara, dan mampu menjerat desiran ombak dan arus yang seolah bersatu memamerkan pesonannya.
Rupanya menjadi pengalaman pertama, naik kapal motor “ketinting” dalam sebuah penyeberangan di tengah laut. Bung Ragil dengan sangat teliti memotret satu demi satu setiap Aktivitas Anak Buah Kapal (ABK) Kapal motor penyeberangan Tanah Merah- Palo.
Tak satupun aktivitas ABK yang lolos dari jepretanya. Berangkat dari Tanah Merah hingga tiba dipante Palo dalam hitungan saya kurang lebih sekitar 53 jepretan.
“Gambar berceritra bisikku” kalimat ini ku bisikan pada telinga Amber Kabelen, yang duduk disampingku. Sebelum 3 menit kapal yang kami tumpangi sandar di Pelabuhan Pante Palo.
Untuk tarif Sepeda motor Rp. 25.000, sementara penumpang biasa Rp. 5.000 demikian penjelasan yang kami terima dari ABK Motor saat turun di Pelabuhan Pante Palo. Transaski terjadi. Saat Kaka Silvester Petara Hurit mengeluarkan lembaran biru Rp. 50.000, kepadanya dikembalikan uang senilai Rp. 25.000. Lembaran 10.000 dua lembar, dan lembaran 5.000 satu lembar.

Sepeda motor yang kami tumpangi melaju pelan pada jalur jalan bawah (pesisir pantai) sembari menikmati keindahan pante disepanjang perjalanan.
Menuju ke arah barat Kota Larantuka. Obyek tujuan kami sore itu adalah “Sunset Kawaliwu”. Bergerak dari kota Larantuka, kita menempuh perjalanan kurang lebih 20km dengan waktu tempuh (Sepeda motor) kurang lebih 30 menit.
Di sepanjang pantai Kawaliwu, kami sudah disuguhi pancaran sunset yang mempesona persis di ujung Tanjung Bunga. Bung Ragil rupanya sangat lihai melihat setiap situasi.
Dari atas sepeda motor pada goncenganku, tak menyulitkannya untuk merekam dan memotret keindahan alam di jalur pantai utara (Pantura).
Kami terhenti pada satu sisi pantai. Ditempat itu, sudah ramai dikunjungi oleh fotografer mengabadikan sunset. Mba Ratu yang nampak letih langsung merebahkan tubuhnya diatas permukaan kerikil – kerikil pantai yang halus, sembari berimajinasi mengantar sunset menggapai peraduannya.
Sunset Kawaliwu telah menarik minat fotografer dan pencinta alam singgah dan betah di tempat ini. Kami menghabiskan rekreasi hari itu dengan berendam air hangat dipesisir Kawaliwu.
Dalam perjalanan pulang menuju ke Kota Larantuka, Bung Ragil berbisik pada telinga kiri dan kananku, “Bung max, Obyek wisatanya sungguh mempesona, sayang jalan menuju ke obyek wisatanya rusak parah yah!
Saya sendiri hanya tersenyum, sebab yang saya tunjukan kepada Bung ragil dan Ratu bukan soal jalan yang rusak tetapi soal Sunset di Kawaliwu. bahwa Sunset itu berada sudah terekam pada kamera bung Ragil. cheers Bung Ragil. (Maksimus Masan Kian)
