KALABAHI, — Direktur PT Venturi Azima Maharani Putra, Anton Hermanto, akhirnya buka suara terkait keterlambatan pekerjaan rehabilitasi sekolah MIS Moru di Kelurahan Moru, Kecamatan Abad, Kabupaten Alor.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (16/05/2026), Anton menegaskan bahwa lambatnya progres proyek bukan disebabkan kelalaian pihaknya, melainkan karena keterlambatan pengiriman material utama proyek, terutama baja ringan dan besi.
“Material utamanya yang dibutuhkan dalam proyek pekerjaan tersebut. Memang datang bahan itu setelah 3 bulan para pekerja pekerja datang di lokasi Alor karena 60 persen pekerjaannya adalah rehab setelah bongkar bangunan 3 bulan baru datang bahan baja ringannya. Besi tidak lolos uji kelayakan akhirnya sampe ke lokasi Alor setelah 2 bulan pekerja datang,” ujarnya.
Jadi proyek rehab MIS Moru telah berjalan sekitar tiga bulan dengan progres pekerjaan mencapai kurang lebih 60 persen. Namun pekerjaan sempat terhambat karena material penting belum tersedia di lokasi proyek.
“Pekerjaan rehab di Moru memang membutuhkan baja ringan sejak awal. Tetapi kenyataannya, baja ringan baru datang setelah tiga bulan pekerja kami berada di lokasi. Karena itu progres pekerjaan ikut terlambat,” ujar Anton yang berkediaman di Jakarta.
Ia menjelaskan, material besi baru tiba setelah dua bulan para pekerja berada di lokasi. Sedangkan baja ringan yang menjadi material utama pekerjaan atap baru tersedia setelah memasuki bulan ketiga pekerjaan.
Anton menegaskan bahwa pihaknya hanya bertanggung jawab pada pelaksanaan pekerjaan dan pembayaran tenaga kerja, sementara pengadaan material merupakan tanggung jawab pihak lain.
“Jadi sebenarnya kesalahan ada di mana? Kami bukan pihak yang mengurus bahan di lokasi Moru, kami hanya menangani upah kerja,” katanya.
Anton juga membantah tudingan bahwa para pekerja ditelantarkan selama berada di lokasi proyek. Ia menyebut pembayaran gaji dilakukan setiap tanggal 22 setiap bulan dan keterlambatan yang terjadi hanya sekitar satu minggu.
“Pak Wawan bohong kalau menyebut pekerja terlantar. Keterlambatan gaji hanya sekitar satu bulan dan itu pun uang makan tetap kami bayarkan. Kasbon juga tetap kami berikan kepada para pekerja,” Katanya.
Lebih lanjut, Anton mengaku pihaknya telah mengajukan kompensasi keterlambatan kepada main kontraktor akibat lambatnya pengiriman material yang berdampak pada progres pekerjaan.
Tak hanya itu, PT Venturi disebut telah mengeluarkan dana talangan lebih dari Rp200 juta untuk kebutuhan proyek dan pembayaran pekerja harian.
“Dana perusahaan kami sudah masuk lebih dari Rp200 juta ke proyek Moru dan semua bukti transfer pembayaran kepada pekerja ada pada kami,” ungkap Anton.
Ia juga memastikan perusahaan tetap bertanggung jawab terhadap pekerja asal Bandung dengan membiayai kepulangan mereka hingga tiba di daerah asal masing-masing.
“Jadi setelah tiga bulan pegawai kami datang ke lokasi, baja ringan baru datang,” tegas Anton.
Ditanya terkait adanya persoalan serupa terkait upah kerja dan pekerjaan borongan yang dialami pada para pekerja proyek “Gedung Pupuk Marandu” di Jakarta, singkatnya Anton Hermanto, Pekerjaan masih berhalangan karena masih urusan dengan Projec Alor.
“Ini projec investasi jadi masih berjalan juga dan gak ada masalah,” jawab Anton Hermanto dalam chatingan WA kepada wartawan.+++
j.k
